Rocky Gerung Resmi Masuk Wantimpres: Kritikus Kini Duduk di Lingkar Istana
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada Jumat (2/10/2026) di Istana Kepresidenan Jakarta.
- Pelantikan Rocky bersamaan dengan Pratikno sebagai Ketua Wantimpres, Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris.
- Masuknya Rocky ke lingkar kekuasaan memicu pertanyaan publik tentang independensi kritik dan efektivitas lembaga penasihat presiden.

Akademisi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengkritik tajam pemerintah, Rocky Gerung, resmi dilantik sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (2/10/2026) di Istana Kepresidenan, Jakarta. Pelantikan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Anggota Wantimpres yang dibacakan Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretariat Negara, Nanik Purwanti.
Prosesi sumpah jabatan dipandu langsung oleh Prabowo. "Bahwa saya akan setia pada nusa dan bangsa, dan akan memenuhi segala kewajiban yang ditanggungkan kepada saya oleh jabatan ini," ujar Presiden, diikuti para pejabat yang dilantik. Setelah pembacaan sumpah, seluruh anggota Wantimpres menandatangani berita acara di hadapan kepala negara.
Bergabungnya Rocky ke Wantimpres menandai pergeseran signifikan dalam peta politik nasional. Selama ini, ia dikenal sebagai intelektual yang kerap melontarkan kritik pedas terhadap kebijakan pemerintah, termasuk pada masa pemerintahan Joko Widodo. Kini, ia berada di dalam struktur yang secara langsung memberikan nasihat kepada Presiden. Langkah ini memunculkan spekulasi tentang strategi Prabowo dalam merangkul berbagai kekuatan politik, sekaligus menguji sejauh mana independensi Rocky akan bertahan di kursi penasihat.
Wantimpres sendiri bukan lembaga baru. Dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006, lembaga ini bertugas memberikan pertimbangan dan saran kepada presiden dalam menjalankan kekuasaan negara. Namun, efektivitasnya sering dipertanyakan karena tidak memiliki kewenangan eksekutif. Kehadiran figur seperti Rocky dan Pratiknoโyang sebelumnya menjabat Menteri Koordinator PMKโbisa menjadi sinyal bahwa Prabowo ingin memperkuat fungsi penasihat, atau justru mengakomodasi rival politik ke dalam lingkaran dalam.
"Bahwa saya akan setia pada nusa dan bangsa, dan akan memenuhi segala kewajiban yang ditanggungkan kepada saya oleh jabatan ini." โ Presiden Prabowo Subianto saat membacakan sumpah jabatan.
Bagi publik, pertanyaan utama bukan sekadar siapa yang duduk di Wantimpres, melainkan apakah lembaga ini akan benar-benar memengaruhi arah kebijakan. Rocky dikenal vokal soal demokrasi, hak asasi manusia, dan pemberantasan korupsi. Jika ia konsisten, gesekan dengan pragmatisme kekuasaan bisa saja terjadi. Sebaliknya, jika ia memilih diam, kredibilitasnya sebagai kritikus akan dipertaruhkan. Pengamat menilai pelantikan ini sebagai ujian bagi integritas Rocky dan sekaligus cermin komitmen Prabowo terhadap tata kelola yang inklusif.
Komposisi Wantimpres yang baru juga mencerminkan keseimbangan politik. Pratikno mewakili birokrasi dan pengalaman pemerintahan, Hatta Rajasa membawa warisan Partai Amanat Nasional, sementara Qodari adalah politikus muda yang dekat dengan lingkaran istana. Rocky melengkapi mozaik itu sebagai representasi akademisi kritis. Kombinasi ini bisa memperkaya perspektif, tetapi juga berpotensi menciptakan ketegangan internal jika visi tidak sejalan.
Ke depan, publik akan mencermati apakah Wantimpres di bawah kepemimpinan Pratikno mampu menghasilkan rekomendasi yang berdampak nyata, atau hanya menjadi tempat parkir tokoh politik. Bagi Rocky, kursi ini adalah panggung baru: apakah ia akan menjadi suara kritis dari dalam, atau justru kehilangan daya gedor di luar? Jawabannya akan terlihat dari langkah pertamanya.



