Emma Heming Willis Tegaskan Advokasi Demensia Bruce Willis Tak Akan Sia-sia
Baca dalam 60 detik
- Emma Heming Willis menyatakan komitmennya untuk melanjutkan advokasi demensia frontotemporal (FTD) setelah suaminya, Bruce Willis, didiagnosis pada 2023.
- Ia menekankan bahwa diagnosis Bruce tidak akan sia-sia dan bertekad meningkatkan kesadaran serta dukungan bagi keluarga yang menghadapi kondisi serupa.
- Emma juga mengklarifikasi miskonsepsi bahwa Bruce tidak mengenali keluarganya, dan mengungkapkan bahwa Bruce tidak menyadari penyakitnya.

Emma Heming Willis, istri aktor Bruce Willis, menegaskan bahwa diagnosis demensia frontotemporal (FTD) yang dialami suaminya tidak akan berlalu tanpa makna. Dalam unggahan Instagram pada Kamis (1/10/2026) untuk memperingati Pekan Kesadaran FTD Sedunia, Emma menyatakan bahwa Bruce adalah "kekuatan pendorong di balik advokasi saya" dan berjanji akan terus memperjuangkan kesadaran tentang penyakit ini.
Bruce Willis, bintang film Die Hard, mula-mula didiagnosis afasia pada 2022—gangguan bahasa yang memengaruhi kemampuan berbicara, memahami, membaca, atau menulis—sebelum kondisinya berkembang menjadi FTD pada 2023. FTD adalah kelompok gangguan otak yang memengaruhi kepribadian, perilaku, dan bahasa. Emma, 50 tahun, telah meluncurkan Dana Emma dan Bruce Willis untuk Riset Demensia dan Dukungan Perawatan pada Maret lalu, sebuah langkah konkret untuk membantu keluarga yang terdampak.
Dalam keterangannya, Emma menekankan pentingnya pemahaman publik tentang FTD. "Saya tidak bisa melewati Pekan Kesadaran FTD Sedunia tanpa membicarakan Bruce," tulisnya. "Dia telah membuka banyak pintu bagi saya dalam pekerjaan ini, dan saya akan terus melangkah melaluinya. Saya tidak akan membiarkan diagnosisnya sia-sia." Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa Bruce akan bangga mengetahui upayanya membantu keluarga lain yang hidup dengan FTD dan bentuk demensia lainnya.
Emma juga menyoroti stigma dan kesalahpahaman seputar demensia. Dalam wawancara dengan majalah HELLO! bulan lalu, ia mengungkapkan bahwa pertanyaan yang paling sering ia dengar adalah apakah Bruce masih mengingatnya. "Jawaban saya selalu ya," tegasnya. Ia menjelaskan bahwa Bruce tidak menderita Alzheimer, melainkan FTD yang menyerang area otak berbeda. Namun, Bruce sendiri tidak menyadari kondisinya. "Bruce tidak pernah benar-benar menyadari," ujarnya dalam podcast Conversations with Cam edisi Januari. "Itu semacam berkah dan kutukan; dia tidak pernah menyadari penyakitnya, dan saya sangat bersyukur akan hal itu."
Kisah Bruce dan Emma menyoroti tantangan yang dihadapi para pengidap demensia dan keluarga mereka, terutama dalam hal stigma dan kurangnya pemahaman. Di Indonesia, kesadaran tentang demensia—termasuk FTD—masih rendah. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi demensia diperkirakan meningkat seiring bertambahnya usia populasi. Organisasi seperti Alzheimer Indonesia (ALZI) gencar mengampanyekan pentingnya deteksi dini dan dukungan bagi caregiver. Langkah Emma dalam membuka dialog tentang FTD dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat advokasi di tingkat lokal.
"Saya tidak akan membiarkan diagnosisnya sia-sia. Saya tahu betapa bangganya dia mengetahui bahwa dia membantu keluarga yang hidup dengan FTD, bentuk demensia lain, dan mitra perawatan mereka untuk dilihat dan didengar." — Emma Heming Willis
Dengan populasi aging yang meningkat, Indonesia perlu memperhatikan isu demensia secara serius. Dukungan untuk riset, perawatan, dan edukasi publik menjadi kunci. Kisah Bruce Willis mungkin telah membuka pintu, tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Akankah kesadaran yang meningkat ini mendorong kebijakan yang lebih baik bagi para pengidap demensia di Indonesia?



