Chef Pastry Dunia Antonio Bachour: Instagram Berkontribusi Besar, tapi Rasa Tetap Raja
Baca dalam 60 detik
- Antonio Bachour, yang dinobatkan sebagai pastry chef terbaik dunia, menilai media sosial telah mendemokratisasi profesi ini namun juga memicu gaya yang mengutamakan penampilan.
- Dalam kolaborasi afternoon tea di Singapura, ia meramalkan tren pastry ke depan akan mengarah pada estetika yang lebih bersih dan natural, dengan teknik yang tetap rumit.
- Ia berharap generasi baru pastry chef berani mengeksplorasi identitas lokal, sehingga pastry modern tidak seragam di seluruh dunia.

Antonio Bachour, pastry chef kenamaan yang namanya melekat pada restoran di Miami dan dua kali dinobatkan sebagai yang terbaik di dunia, tengah berada di Singapura untuk sebuah kolaborasi afternoon tea bersama The Fullerton Hotel. Di sela-sela acara, ia melontarkan pandangan tegas tentang pengaruh Instagram terhadap dunia pastry: platform itu ibarat pisau bermata dua, membuka peluang besar sekaligus menjerumuskan sebagian orang pada jebakan visual semata.
Bachour, yang memiliki 1,7 juta pengikut di Instagram, bukan sekadar seniman dessert. Pria kelahiran Puerto Riko berdarah Lebanon ini telah menjadi mentor bagi banyak pastry chef muda melalui buku dan kelas-kelasnya. Gaya khasnyaโglaze cermin, warna mencolok, bunga edible, dan bentuk geometrisโtelah mengubah lanskap patiseri modern secara global. Kini, ia memboyong karya-karyanya ke The Courtyard, The Fullerton Hotel Singapura, dalam paket afternoon tea seharga S$75 per orang dewasa dan S$45 untuk anak-anak.
Bagi Bachour, keindahan visual hanyalah pintu masuk. "Saya tidak pernah ingin estetika mengalahkan rasa. Keduanya harus berjalan beriringan. Visual membuat orang ingin mencoba, rasa yang membuat mereka mengingat," ujarnya dalam wawancara eksklusif. Ia menekankan bahwa setiap dessert-nya harus memiliki keseimbangan rasa, tekstur, kesegaran, dan kesederhanaan saat dinikmati. Ini menjadi kritik halus bagi tren dessert yang hanya mengejar keindahan di layar ponsel.
Menyoal Instagram, Bachour menilai dampaknya sangat positif secara keseluruhan. Dua dekade lalu, seorang pastry chef harus menunggu publikasi di buku atau majalah untuk dikenal. Kini, siapa pun bisa memamerkan karyanya dan dilihat dunia dalam sekejap. Namun, sisi gelapnya muncul ketika dessert hanya menjadi objek foto. "Dessert bisa terlihat luar biasa di Instagram, tapi pada akhirnya rasa harus bersinar sebelum estetika," tegasnya. Pernyataan ini relevan bagi industri kuliner di Indonesia yang sedang digandrungi tren dessert estetik di media sosial.
Bachour juga memprediksi tren besar berikutnya: kembalinya estetika yang lebih bersih dan natural. "Selama bertahun-tahun, pastry semakin rumit secara visual. Sekarang saya melihat orang mencari kesederhanaan, tapi dengan teknik yang luar biasa di baliknya: dekorasi lebih sedikit, bentuk lebih bersih, bahan lebih baik, dan perhatian lebih pada tekstur serta rasa," paparnya. Ia juga menyoroti evolusi viennoiserie yang masih memiliki banyak ruang eksplorasi, terutama dalam hal dough laminasi dan fermentasi.
Bagi para pastry chef muda, Bachour berpesan agar tidak terjebak pada teknik semata. "Teknik tidak memberi identitas. Saya berharap generasi berikutnya menggunakan bahan-bahan dari negara mereka sendiri, kenangan, dan budaya mereka. Pastry modern seharusnya tidak terlihat sama di seluruh dunia," katanya. Ini menjadi pengingat penting bagi industri kuliner Indonesia yang kaya akan rempah dan bahan lokal, seperti cokelat, kelapa, atau buah tropis, untuk berani tampil beda di panggung global.
Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pastry bukan sekadar makanan penutup, melainkan medium ekspresi budaya. Bagi Indonesia, kehadiran chef sekaliber Bachour bisa menjadi inspirasi untuk mengangkat potensi lokal ke tingkat internasional. Namun, pertanyaannya, apakah para pastry chef Tanah Air siap meninggalkan zona nyaman dan berani mengeksplorasi identitas sendiri? Atau justru akan semakin larut dalam tren global yang seragam?



