Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih: Sinyal Prabowo Bangun Kendali Penuh di Tahun Kedua
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinet untuk ketujuh kalinya, menandai fase transisi menuju pemerintahan yang sepenuhnya bercirikan dirinya.
- Pergeseran sejumlah menteri ke posisi baru dinilai lebih mencerminkan logika loyalitas ketimbang evaluasi kinerja terukur.
- Lingkar inti Gerindra dan figur yang mendapat posisi pada era Prabowo menjadi pihak yang paling diuntungkan dari konfigurasi baru ini.

Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan kabinet untuk ketujuh kalinya dalam kurang dari dua tahun masa pemerintahannya. Langkah ini dinilai bukan sekadar rotasi rutin, melainkan penanda babak baru: Prabowo tengah menuntaskan peralihan dari pemerintahan yang masih diwarnai figur era Joko Widodo menuju pemerintahan yang sepenuhnya mencerminkan karakter politiknya sendiri.
Peneliti politik Populi Center, Usep Saepul Ahyar, menilai bahwa strategi Prabowo tidak dilakukan dengan menyingkirkan seluruh figur lama secara frontal. Sebaliknya, para pejabat tersebut dipindahkan ke posisi baru, sehingga mereka tetap berada di dalam lingkaran kekuasaan, tetapi keberlanjutan karier politik mereka kini sepenuhnya bergantung pada Prabowo. "Prabowo sedang menuntaskan peralihan dari pemerintahan warisan menjadi pemerintahan sendiri," ujar Usep kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026).
Menurut Usep, jika perombakan dilakukan berdasarkan kinerja, pergantian seharusnya menyasar kementerian yang gagal memenuhi target terukur dan diikuti dengan masuknya figur baru, terutama dari kalangan teknokrat. Namun, pola yang terlihat justru berupa pergeseran sejumlah figur yang sudah berada di lingkar kekuasaan ke posisi baru. "Memutar orang yang sama ke kursi berbeda adalah logika loyalitas, bukan logika kompetensi. Reshuffle yang berulang dalam kurang dari dua tahun juga menunjukkan kabinet ini dievaluasi tanpa indikator kinerja yang pernah dibuka ke publik," jelasnya.
"Pesannya kepada elite, kursi Anda aman sepanjang loyalitas Anda tidak perlu ditafsirkan."
โ Usep Saepul Ahyar, Peneliti Politik Populi Center
Dari konfigurasi baru ini, Usep menilai Prabowo menjadi pihak yang paling diuntungkan. Kendali atas sejumlah simpul penting pemerintahan, termasuk koordinasi politik dan keamanan, kini berada di tangan figur yang mendapatkan posisi pada era pemerintahannya. Selain Prabowo, lingkar inti Partai Gerindra juga dipandang memperoleh keuntungan, salah satunya melalui amanah baru Sugiono dari Menlu menjadi Menko PMK.
Perombakan ini juga dianggap lebih menunjukkan upaya Prabowo menjaga keseimbangan politik sekaligus memperkuat kendalinya terhadap pemerintahan. Dengan menempatkan orang-orang yang loyal di posisi strategis, Prabowo memastikan bahwa arah kebijakan dan koordinasi antarlembaga berjalan sesuai dengan visinya, tanpa harus menghadapi resistensi dari dalam kabinet.
Bagi publik, reshuffle yang berulang tanpa indikator kinerja yang transparan menimbulkan pertanyaan tentang akuntabilitas. Evaluasi kabinet yang tidak dibuka ke publik membuat sulit menilai apakah pergantian menteri benar-benar bertujuan meningkatkan performa pemerintahan atau semata-mata memperkuat konsolidasi kekuasaan. Ke depan, tantangannya adalah membuktikan bahwa konfigurasi baru ini mampu menghasilkan kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya stabilitas politik jangka pendek.
Dengan reshuffle ketujuh ini, Prabowo tampaknya semakin percaya diri menapaki tahun kedua pemerintahannya. Namun, pertanyaan besarnya: apakah kendali yang semakin kuat akan diikuti oleh perbaikan kinerja yang terukur, atau justru memperbesar risiko tertutupnya ruang evaluasi publik?



