Presiden Korsel Ancam Ukraina dengan 'Langkah Tambahan' dalam Sengketa Tahanan Korut
Baca dalam 60 detik
- Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menuntut permintaan maaf publik dari Ukraina dan mengancam tindakan lanjutan.
- Sengketa dipicu pengungkapan transfer dua tentara Korea Utara ke Seoul tanpa persetujuan kerahasiaan.
- Ketegangan berpotensi mengganggu pasokan bantuan dan kerja sama pertahanan antara Seoul dan Kyiv.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Jumat (2/10) melontarkan kecaman keras terhadap Ukraina terkait pengungkapan transfer tahanan perang Korea Utara ke Seoul. Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, Lee menuntut permintaan maaf resmi dari Kyiv dan mengancam akan mengambil “langkah tambahan” jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Sikap ini menandai eskalasi diplomatik yang jarang terjadi antara dua negara yang selama ini berada dalam posisi sejalan menghadapi agresi Rusia.
Pemicu ketegangan adalah pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu. Zelenskyy mengungkapkan bahwa Kyiv telah mengirim dua tentara Korea Utara yang ditangkap ke Korea Selatan. Seoul menuding pengungkapan itu melanggar kesepakatan kerahasiaan yang sebelumnya disepakati kedua pihak. Kementerian Luar Negeri Korea Selatan bahkan memanggil kuasa usaha Ukraina di Seoul untuk meminta penjelasan. Menurut Seoul, Ukraina semula meminta transfer dilakukan secara senyap karena dapat mengganggu proses pertukaran tahanan dengan Rusia.
Lee menilai pengungkapan tersebut menempatkan dirinya dalam posisi sulit, seolah-olah ia telah berbohong kepada publik. “Karena ini menyangkut kehormatan rakyat dan bangsa Republik Korea, kami tidak bisa mengabaikannya,” ujar Lee dalam bahasa Korea, seperti dikutip kantor berita Yonhap. Ia juga menyayangkan sikap Kyiv yang justru berbicara tentang potensi bentrokan militer antara Korea Utara dan Selatan, seolah-olah menginginkan perang di Semenanjung Korea. “Kami menyampaikan penyesalan mendalam terhadap Ukraina,” tegasnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha pada Kamis (1/10) menyebut perselisihan ini sebagai “kesalahpahaman diplomatik” yang diharapkan dapat diselesaikan. Ia menegaskan bahwa Seoul tetap merupakan mitra penting bagi Kyiv. Namun, pernyataan Lee menunjukkan bahwa Seoul tidak serta-merta menerima penjelasan tersebut. Seorang pejabat intelijen Korea Selatan mengungkapkan bahwa pengungkapan Zelenskyy di PBB mungkin dimaksudkan untuk menggiring opini publik Korea Selatan agar mendukung pengiriman bantuan senjata ke Ukraina. Hingga kini, Seoul hanya memberikan bantuan kemanusiaan dan menolak permintaan sistem pertahanan udara dari Kyiv.
“Situasi ini meningkat setiap hari. Hanya soal waktu sebelum terjadi peristiwa pemicu yang membawa konsekuensi tak terkendali,” ujar Kepala Staf Kepresidenan Ukraina Kyrylo Budanov dalam wawancara pekan lalu, seperti dikutip dari Telegram-nya.
Pernyataan Budanov yang menyebut keterlibatan Korea Utara dalam konflik Ukraina sebagai persiapan perang di Semenanjung Korea semakin memperkeruh suasana. Pyongyang diketahui mengirim ribuan tentara untuk membantu Rusia, sebuah langkah yang dipandang Seoul sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan. Sengketa tahanan ini pun menjadi ujian bagi hubungan Seoul-Kyiv yang selama ini terjalin tanpa gejolak berarti.
Bagi Indonesia, ketegangan antara Korea Selatan dan Ukraina dapat berdampak pada dinamika geopolitik Asia Timur. Sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip non-blok dan mendorong penyelesaian damai, Indonesia berkepentingan agar perselisihan ini tidak memperlebar konflik di Semenanjung Korea. Stabilitas di kawasan akan sangat menentukan kelancaran kerja sama ekonomi, termasuk investasi Korea Selatan di Indonesia yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan. Jika Seoul memutuskan untuk mengurangi keterlibatannya dalam urusan Ukraina, maka fokusnya bisa beralih ke kawasan, yang justru dapat menguntungkan stabilitas regional.
Ke depan, publik menantikan apakah Ukraina akan memenuhi tuntutan permintaan maaf Korea Selatan atau tetap pada posisinya. Jika tidak, langkah tambahan yang diancamkan Lee bisa terwujud, misalnya peninjauan kembali kerja sama bilateral atau penundaan bantuan kemanusiaan. Sementara itu, perhatian juga tertuju pada apakah insiden ini akan memengaruhi posisi Korea Selatan dalam mendukung Ukraina menghadapi Rusia, atau justru memperkuat poros Asia Timur yang lebih waspada terhadap Pyongyang. Yang jelas, diplomasi antara dua negara yang sama-sama menghadapi tekanan geopolitik ini tengah diuji.



