Duka Akademisi Kulit Hitam Cambridge: Ribuan Orang Menuntut Keadilan atas Kematian Jason Arday
Baca dalam 60 detik
- Ribuan pelayat berkumpul di London untuk menghormati Profesor Jason Arday, akademisi kulit hitam pertama yang menjadi profesor termuda di Cambridge, yang meninggal dunia pada usia 41 tahun.
- Kematian Arday memicu perdebatan tentang perundungan media dan rasisme di lingkungan akademik, dengan tuduhan plagiarisme yang dianggap sebagai pemicu tekanan psikologis.
- Petisi yang menuntut penyelidikan publik terhadap pemberitaan media telah ditandatangani lebih dari 90.000 orang, menyoroti perlunya evaluasi etika jurnalistik dan dukungan kesehatan mental.

Ribuan orang memadati Trafalgar Square, London, pada Senin malam (17/8) untuk menghormati mendiang Profesor Jason Arday, akademisi kulit hitam yang menjadi profesor termuda di Universitas Cambridge. Kepergiannya pada Jumat pekan lalu di usia 41 tahun menyisakan duka mendalam sekaligus kemarahan atas tuduhan plagiarisme yang dianggap sebagai pemicu tekanan psikologis yang dialaminya.
Arday, yang diangkat sebagai profesor pada 2023, menghadapi gelombang kritik setelah dituduh menjiplak sebagian tesis doktoralnya dan melebih-lebihkan pencapaian pribadinya. Meski ia membantah tuduhan tersebut, tekanan media yang terus-menerus membuatnya mengundurkan diri pada 5 Agustus melalui surat terbuka yang menyatakan bahwa ia telah "mencapai batas yang wajar untuk ditanggung manusia". Kini, pihak keluarga dan para pendukungnya menilai bahwa kematian Arday adalah akibat dari "perburuan kejam" yang dilakukan media dan sebagian kalangan akademisi.
Kanselir Universitas Cambridge, Chris Smith, dalam pernyataannya kepada BBC mengutuk "kegilaan rasis" yang menyertai pemberitaan kasus ini. Ia menegaskan pentingnya investigasi yang ketat terhadap tuduhan plagiarisme, namun menolak untuk ikut serta dalam "perburuan rasis" terhadap seorang akademisi. Pernyataan ini muncul di tengah tuntutan publik agar universitas lebih transparan dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan dosen dari kelompok minoritas.
Keluarga Arday, yang tidak hadir dalam vigil, menyampaikan pernyataan yang dibacakan di hadapan massa. Mereka menggambarkan Arday sebagai "jiwa yang lembut dan tanpa pamrih" yang menjadi korban kekejaman publik. "Pencapaiannya luar biasa, dan kami tidak ingin misrepresentasi tentang karakternya menutupi hal itu," ujar mereka. Sementara itu, sahabat Arday, Jonathan Miller, menyesalkan bahwa seorang pria brilian merasa tidak memiliki tempat untuk berlindung. "Sungguh memalukan bahwa ia merasa tidak punya jalan keluar," katanya kepada AFP.
Anggota parlemen dari Partai Buruh, Diane Abbott, yang menjadi wanita kulit hitam pertama di parlemen Inggris, menyampaikan pidato yang menggetarkan. Ia mengungkapkan bahwa Arday merasa terpaksa mengundurkan diri dan berharap serangan terhadapnya akan berhenti, namun kenyataannya justru semakin menjadi-jadi. "Ini bukan hanya kampanye terhadap seorang profesor, tetapi kampanye terhadap kita semua," tegasnya. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana kasus Arday telah menjadi simbol perjuangan melawan diskriminasi rasial di lingkungan akademik.
Di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga etika dalam pemberitaan media dan melindungi kesehatan mental para akademisi. Meskipun konteks rasial di Indonesia berbeda, tekanan publik dan media terhadap figur publik, termasuk dosen dan peneliti, dapat berdampak serius pada kesejahteraan psikologis mereka. Kasus Arday juga menyoroti perlunya mekanisme dukungan yang lebih baik di institusi pendidikan tinggi, baik di Inggris maupun di Indonesia, untuk mencegah tragedi serupa.
Universitas Cambridge sendiri tengah menghadapi pertanyaan kritis atas penanganan kasus ini. Wakil Kanselir Deborah Prentice telah mengumumkan investigasi terhadap proses pengangkatan Arday dan masa kerjanya di universitas. Langkah ini diharapkan dapat mengungkap apakah ada kegagalan sistemik dalam melindungi staf akademik dari tekanan eksternal. Sementara itu, pemerintah Inggris yang dipimpin Perdana Menteri Andy Burnham belum memberikan respons resmi terhadap tuntutan penyelidikan publik, hanya menyebut masa ini sebagai waktu untuk "refleksi".
Vigil di London dan Cambridge, yang dihadiri sekitar 30.000 orang menurut penyelenggara, menjadi momentum bagi masyarakat untuk menuntut keadilan. Banyak yang membawa bunga mawar dan bunga matahari, serta spanduk bertuliskan "Rest in power Professor Jason Arday". Seorang pensiunan guru, Claire Lynch, mengaku merasa ngeri melihat perlakuan yang diterima Arday. "Saya menghabiskan hidup saya mengajar murid-murid bahwa mereka bisa mencapai apa pun jika berusaha. Melihat seseorang yang justru melakukan itu dijatuhkan, sungguh memilukan," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah kasus Arday akan mendorong perubahan nyata dalam cara media memberitakan isu-isu yang melibatkan tokoh minoritas, serta bagaimana institusi pendidikan dapat lebih proaktif dalam melindungi warganya. Apakah investigasi internal Cambridge akan memadai, atau justru memicu tuntutan yang lebih luas terhadap regulasi media? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun tragedi ini telah membuka luka lama yang menuntut penyembuhan sejati.



