Pramono Anung Ingin Transjakarta Merambah Angkutan Udara, Modal Rp13,4 Triliun Disiapkan
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengusulkan perluasan layanan Transjakarta ke sektor angkutan udara dan perairan.
- Modal PT Transportasi Jakarta dinaikkan dari Rp5,225 triliun menjadi Rp13,4 triliun untuk membiayai ekspansi tersebut.
- Langkah ini didasari tren kota-kota global seperti New York yang telah mengatur transportasi udara perkotaan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan rencana ambisius untuk memperluas cakupan layanan Transjakarta ke sektor angkutan udara. Inspirasi ini muncul setelah ia mengamati pengelolaan transportasi udara di New York, yang dianggapnya sebagai acuan bagi kota megapolitan seperti Jakarta.
Dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta pada Kamis (1/10), Pramono mengajukan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang perubahan bentuk badan hukum PT Transportasi Jakarta menjadi PT Transportasi Jakarta (Perseroda). Perubahan ini bertujuan untuk mengakomodasi kebutuhan pengembangan sistem transportasi yang semakin kompleks, termasuk kemungkinan layanan angkutan udara dan perairan.
Pramono menekankan bahwa langkah ini merupakan persiapan jangka panjang. "Jangan sampai ketika sudah menjadi kebutuhan baru perizinannya diurus, terutama perda yang berkaitan dengan itu. Jadi ini untuk mempersiapkan diri ke depannya," ujarnya di Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (2/10). Ia menambahkan bahwa kota-kota besar di dunia telah mulai mengatur transportasi udara, dan Jakarta harus mengikuti tren tersebut.
Perubahan badan hukum menjadi Perseroda memungkinkan Transjakarta untuk meningkatkan modal dan mengembangkan layanan yang lebih terintegrasi. Pramono menyebut bahwa perluasan ini juga untuk menjawab dinamika kebutuhan transportasi di Jakarta yang terus berkembang. Dengan modal yang lebih besar, Transjakarta diharapkan dapat berinovasi dan menyediakan layanan yang lebih baik bagi warga.
"Apakah nanti helikopter atau apa pun yang sekarang sudah menjadi tren di beberapa negara-negara besar, termasuk kemarin pada saat saya ke New York, juga di New York sekarang sudah ada pengaturan tentang transportasi udara," ujar Pramono.
Rencana ini menuai beragam tanggapan. Sejumlah pengamat transportasi menilai bahwa ide tersebut visioner, namun membutuhkan kajian mendalam terkait regulasi, keselamatan, dan kesiapan infrastruktur. Mereka juga mengingatkan bahwa fokus utama saat ini seharusnya pada peningkatan layanan Transjakarta yang ada, seperti memperluas jangkauan dan mengurangi kepadatan.
Di sisi lain, langkah Pramono sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global. Beberapa negara telah mengembangkan urban air mobility, seperti taksi udara dan drone logistik. Jika terealisasi, Transjakarta bisa menjadi pionir dalam integrasi transportasi darat, perairan, dan udara di Indonesia. Namun, tantangan seperti perizinan, teknologi, dan penerimaan masyarakat tetap harus diatasi.
Ke depan, pembahasan Ranperda ini akan menjadi ujian bagi Pramono dan DPRD DKI Jakarta. Apakah rencana ini akan mendapat dukungan penuh atau justru menuai kritik karena dianggap terlalu ambisius? Yang jelas, langkah ini menandai babak baru dalam pengembangan transportasi ibu kota.



