Rob Schneider Buka Suara soal Hubungan dengan Elle King: Pintu Selalu Terbuka, tapi Tak Bisa Memaksa
Baca dalam 60 detik
- Aktor Rob Schneider menegaskan tetap siap menerima putrinya, Elle King, kapan pun, meski hubungan mereka retak akibat perbedaan pandangan dan pengakuan masa lalu.
- Elle King sebelumnya mengkritik ayahnya atas pengalaman masa kecil yang pahit, termasuk dikirim ke kamp penurun berat badan dan sikapnya terhadap isu LGBTQ+.
- Permintaan maaf Schneider di acara Tucker Carlson dianggap Elle tidak bermakna, namun ia justru menemukan dukungan dari komunitas LGBTQ+.

Rob Schneider, komedian dan aktor Hollywood yang dikenal lewat film-film komedi era 1990-an, kembali angkat bicara mengenai hubungannya yang renggang dengan putrinya, penyanyi country Elle King. Dalam wawancara terbarunya di podcast Heretics, pria 62 tahun itu menegaskan bahwa pintu hatinya tak pernah tertutup bagi sang anak, meski ia sadar tak bisa memaksakan rekonsiliasi. Pernyataan ini muncul di tengah publik yang masih menyoroti konflik keluarga yang sempat memanas beberapa waktu lalu.
Schneider mengaku telah melakukan pertukaran pesan dengan Elle, namun enggan membeberkan detailnya. Ia menekankan bahwa sebagai orang tua, tugas utamanya adalah mencintai dan selalu tersedia. "Pintu selalu terbuka. Begitu dia membutuhkan saya, saya akan ada di sana," ujarnya. Namun ia juga realistis, mengakui bahwa hubungan yang rusak tak bisa dipulihkan dengan paksaan, melainkan butuh keterbukaan dari kedua belah pihak.
Konflik ini mencuat setelah Elle King secara blak-blakan mengungkap masa kecilnya yang pahit di bawah asuhan Schneider. Dalam wawancara dengan majalah People, pelantun "Ex's & Oh's" itu menceritakan bagaimana ayahnya mengirimnya ke kamp penurun berat badan, kerap melupakan ulang tahunnya, dan sering absen dalam hidupnya. Yang paling menyakitkan, perbedaan pandangan soal isu LGBTQ+ membuat jarak mereka semakin lebar. Pengakuan Elle ini memicu gelombang simpati publik dan mendorong Schneider untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Menariknya, permintaan maaf yang disampaikan Schneider di acara The Tucker Carlson Show justru ditanggapi sinis oleh Elle. Baginya, memilih platform yang identik dengan pandangan konservatif ekstrem membuat permintaan maaf itu kehilangan makna. "Permintaan maaf di Tucker Carlson itu seperti negatif ganda, tidak berarti apa-apa," sindirnya. Elle juga menegaskan bahwa ia tidak menyesal berbicara terbuka tentang masa lalunya, meski banyak yang menyarankan agar urusan keluarga diselesaikan di belakang pintu tertutup.
Di tengah perang dingin dengan sang ayah, Elle King justru menemukan hal positif. Ia mengaku bahwa respons publik, terutama dari komunitas LGBTQ+, membuatnya merasa memiliki sekutu. "Hal terbaik yang muncul dari semua ini adalah komunitas LGBTQ+ tahu bahwa mereka punya sekutu dalam diri saya," katanya. Ia bahkan menyatakan rela mengulang pengakuannya sepuluh kali lagi jika itu berarti mendukung komunitas yang ia cintai.
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya milik Hollywood. Di Indonesia, konflik orang tua dan anak yang berujung pada perbedaan nilai, terutama soal identitas dan orientasi seksual, juga kerap terjadi. Psikolog keluarga di Jakarta menilai bahwa keterbukaan komunikasi dan penerimaan tanpa syarat adalah kunci rekonsiliasi, namun seringkali ego dan prasangka menghalangi. Kasus Schneider-King bisa menjadi cermin bahwa memaksakan kehendak atau memilih platform yang salah justru memperlebar jurang.
Schneider sendiri mengaku tidak siap dengan luapan emosi yang ia terima setelah pengakuannya bahwa ia "bukan ayah yang dibutuhkan Elle". Ia menyebut ada fenomena di Amerika Serikat di mana banyak orang tua kehilangan hubungan dengan anak-anak mereka setelah anak-anak itu dewasa. "Ini serangan terhadap budaya yang sedang rapuh," katanya, merujuk pada pergeseran nilai antargenerasi.
Ke depannya, pertanyaannya bukan hanya apakah Elle akan membuka pintu untuk sang ayah, tetapi juga apakah Schneider mampu memahami bahwa rekonsiliasi tidak bisa dipaksakan. Dengan Elle yang kini vokal mendukung hak LGBTQ+ dan Schneider yang tetap pada pendiriannya, jalan menuju pemulihan tampaknya masih panjang. Namun, seperti kata Schneider, pintu selalu terbuka โ tinggal apakah Elle bersedia melangkah masuk.



