Sam Smith: Musik Madonna Jadi Penyelamat bagi Komunitas Queer
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Stay With Me' menyebut Madonna sebagai figur ibu yang selalu hadir bagi artis LGBTQ+.
- Dukungan Madonna muncul saat kontroversi 'Unholy' memuncak, menunjukkan kepeduliannya pada isu queer.
- Kolaborasi 'Vulgar' menjadi simbol perlawanan terhadap stigma, menginspirasi banyak pihak.

Pelantun tembang pop "Stay With Me", Sam Smith, kembali menegaskan bahwa musik Madonna adalah penopang emosional yang signifikan bagi komunitas queer di seluruh dunia. Dalam wawancara eksklusif dengan The Zane Lowe Show di Apple Music 1, penyanyi berusia 34 tahun itu menyebut diva berusia 68 tahun tersebut sebagai "ibu" yang tak pernah lelah membela kelompok LGBTQ+.
Menurut Sam, Madonna bukan sekadar ikon musik, melainkan sosok yang secara konsisten hadir di saat-saat genting. Pengalaman pribadi Sam menjadi bukti nyata: ketika kontroversi melanda kolaborasinya dengan Kim Petras dalam lagu "Unholy"—yang dituding sarat muatan provokatif dan simbolisme setan—Madonna adalah orang pertama yang menghubunginya. "Begitu kejadian itu terjadi, dia langsung mencari cara untuk menghubungi saya. Dia sangat peka terhadap berita-berita queer dan apa yang terjadi di komunitas, juga pada para artis di dalamnya," ungkap Sam.
Bagi Sam, musik Madonna adalah "tali kehidupan" yang menghubungkan banyak orang queer dengan rasa keberanian dan ketahanan. "Kamu bisa merasakannya dalam musiknya. Musiknya adalah penyelamat bagi orang-orang queer, dan semua era dari kariernya, stamina yang dia miliki, cara dia terus melangkah maju—saya merasa itu sangat menginspirasi," tuturnya. Lebih dari sekadar penggemar, Sam mengakui bahwa pengaruh Madonna meresap hingga ke proses kreatifnya. "Saya pikir banyak orang queer merasa terinspirasi oleh musiknya. Dan itu bukan hanya kenyamanan dalam kehidupan pribadi saya, tetapi juga dalam musik saya."
Hubungan keduanya semakin erat ketika Madonna memberikan penghargaan Grammy 2023 untuk kategori Best Pop Duo/Group Performance kepada Sam dan Kim Petras. Di atas panggung, Madonna menyampaikan pidato yang membakar semangat: "Jika mereka menyebutmu mengejutkan, skandal, bermasalah, provokatif, atau berbahaya, maka kamu pasti sedang melakukan sesuatu yang benar." Ia juga menyapa para pemberontak yang berani mengambil risiko: "Keberanian kalian tidak luput dari perhatian. Kalian dilihat, didengar, dan yang terpenting, dihargai."
Tak berhenti di situ, Sam dan Madonna kemudian menulis lagu bersama berjudul "Vulgar"—sebuah upaya untuk merebut kembali kata yang pernah digunakan untuk merendahkan penampilan Sam. Langkah ini dinilai sebagai bentuk perlawanan artistik terhadap stigma yang masih melekat di industri musik.
Fenomena ini menggambarkan peran penting figur publik dalam memperkuat suara komunitas marginal. Di Indonesia, di mana diskursus LGBTQ+ masih sensitif, kisah Sam dan Madonna bisa menjadi pelajaran tentang keberanian dan solidaritas. Namun, perlu dicatat bahwa konteks budaya lokal sangat berbeda; dukungan terhadap komunitas queer di sini harus dilakukan dengan cara yang menghormati norma dan regulasi yang berlaku.
Ke depan, kolaborasi antara Sam dan Madonna membuka peluang bagi lebih banyak artis untuk berbicara lantang tentang isu-isu yang mereka yakini. Pertanyaannya, apakah industri musik Tanah Air siap memberi ruang bagi narasi-narasi yang menantang arus utama? Atau justru akan semakin memperkuat tembok pembatas?



