Nathan Fielder Bongkar Sisi Lain Elizabeth Holmes dalam Dokumenter "You Can See Everything"
Baca dalam 60 detik
- Dokumenter rahasia garapan Nathan Fielder dan Lance Oppenheim menampilkan kehidupan Elizabeth Holmes pasca-skandal Theranos, tayang perdana di New York Film Festival.
- Film berdurasi tiga jam ini menggabungkan gaya sinematik thriller dengan interaksi psikologis antara pembuat film dan subjek, menciptakan ketegangan yang mengaburkan batas realitas dan manipulasi.
- Rilis di AS pada 16 Oktober mendatang, dokumenter ini berpotensi memicu diskusi global tentang etika dokumenter, kepercayaan, dan budaya startup yang menormalisasi kebohongan.

Dunia perfilman dokumenter kembali dihebohkan oleh proyek rahasia yang melibatkan dua nama besar: Nathan Fielder, komedian absurdis yang dikenal lewat serial HBO The Rehearsal, dan Elizabeth Holmes, pendiri Theranos yang terjerat skandal penipuan medis. Film berjudul You Can See Everything ini tayang perdana di New York Film Festival pada Rabu (30/9), dan langsung menjadi tiket paling panas musim gugur ini.
Dokumenter ini bukan sekadar potret diri seorang narapidana kasus penipuan. Fielder dan rekan sutradara Lance Oppenheim berhasil menembus dinding privasi keluarga Holmes-Evans, merekam keseharian Holmes bersama suaminya, Billy Evans, dan dua anak mereka di sebuah rumah sewaan pada 2023โbeberapa saat sebelum Holmes mulai menjalani hukuman 11 tahun penjara atas kasus penipuan kawat dan konspirasi.
Yang membuat film ini menarik adalah pilihan Holmes dan Evans untuk membuka pintu bagi kru dokumenter. Mereka berharap dapat membuktikan innocence Holmes sekaligus membangun kembali citranya. Namun, alih-alih mendapat simpati, mereka justru berhadapan dengan Fielder yang terkenal gemar mengajukan pertanyaan-pertanyaan canggung dan menusuk. Dalam salah satu adegan, Fielder bahkan mempertanyakan keputusan mereka: mengapa memilih komedian yang justru terkenal karena skema bisnis palsu untuk membersihkan nama dari skandal fraud paling fenomenal dekade 2010-an?
"Apakah kamu sedang jujur sekarang?" tanya Fielder kepada Holmes dalam klip satu menit yang sempat viral, menggambarkan ketegangan antara keduanya.
Kombinasi gaya Oppenheim yang hiper-saturasi dan zoom lambat dengan pendekatan Fielder yang mengandalkan kejujuran brutal menciptakan dinamika unik. Film ini tidak hanya mendokumentasikan, tetapi juga menjadi medan pertempuran psikologis di mana batas antara akting dan realitas kabur. Holmes tampil dengan kehangatan yang terkesan tulus, sementara Fielder terus menguji setiap pernyataan dengan kecurigaan yang terlatih.
Bagi penonton yang akrab dengan karya Fielder, pola spiral yang mengacak ekspektasi sudah menjadi ciri khas. Namun, You Can See Everything melampaui batas itu. Film ini bukan hanya tentang Holmes, tetapi juga tentang bagaimana media, penonton, dan bahkan pembuat film itu sendiri terjebak dalam permainan kebenaran yang tidak pernah sepenuhnya terungkap. Pertanyaan-pertanyaan sulit diajukan, termasuk soal kehidupan pernikahan Holmes di penjara, yang mungkin tidak ingin diketahui banyak orang.
Dalam konteks Indonesia, fenomena dokumenter semacam ini mengingatkan pada kasus-kasus penipuan bisnis yang sempat mencuat, seperti investasi bodong atau startup yang gagal dengan janji manis. Masyarakat Indonesia yang semakin kritis terhadap budaya startup dan influencer perlu melihat bagaimana narasi dapat dibentuk untuk menutupi kebohongan. Film ini bisa menjadi cermin tentang bahaya mengagungkan tokoh tanpa verifikasi, serta pentingnya literasi media dalam mengonsumsi konten yang tampak meyakinkan.
Ke depan, You Can See Everything berpotensi memicu debat tentang etika dokumenter: sejauh mana seorang pembuat film boleh mengeksploitasi subjeknya untuk seni? Apakah Holmes dan Evans benar-benar ingin transparan, atau justru sedang memainkan peran dalam sandiwara baru? Yang jelas, film ini akan terus menjadi bahan perbincangan panjang setelah rilis resminya, dan mungkin mengubah cara kita memandang dokumenter sebagai genre yang netral.



