Safari Merah Putih Jember: 81 Motoris, 30 Kilometer, dan Kain Sepanjang Usia RI
Baca dalam 60 detik
- Ratusan relawan di Jember merayakan HUT ke-81 RI dengan konvoi sejauh 30 kilometer, diakhiri pembentangan kain merah putih 81 meter di Desa Sidomulyo.
- Kegiatan tahunan ini tidak hanya seremonial, tetapi juga menjadi ajang promosi potensi daerah, seperti kopi Sidomulyo dan wisata Gunung Gambir.
- Kepala Desa Sidomulyo menilai acara ini meningkatkan ekonomi warga dan memperkenalkan desanya sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan.

Ratusan relawan dari berbagai komunitas di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menggelar konvoi sepanjang 30 kilometer pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Mereka bergerak dari Lapangan Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, menuju Balai Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, dengan membawa bendera Merah Putih dan mengakhiri perayaan dengan membentangkan kain sepanjang 81 meter.
Kegiatan yang dinamai Safari Merah Putih ini bukan sekadar pawai kendaraan. Rangkaian acara diawali upacara bendera, dilanjutkan konvoi motor yang dihiasi bendera, serta diakhiri dengan prosesi pembentangan kain di desa penghasil kopi tersebut. Menurut koordinator acara, Agung Ganong, konsep berpindah lokasi ini baru berjalan tiga tahun, meski kegiatan itu sendiri sudah memasuki edisi ketujuh.
Setiap tahun, panitia sengaja memilih lokasi berbeda untuk memperkenalkan potensi daerah. Tahun-tahun sebelumnya, Safari Merah Putih pernah menyasar kawasan wisata Gunung Gambir dan lokasi panen raya di Wuluhan dengan tema ketahanan pangan. Tahun ini, Desa Sidomulyo dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi di Jember. "Kami ingin menunjukkan bahwa kopi Jember itu ada, dan titik akhirnya di Sidomulyo," ujar Ganong.
Peserta utama konvoi berjumlah 81 motoris, angka yang sengaja disesuaikan dengan usia kemerdekaan. Namun, jika dihitung seluruh relawan dan warga yang terlibat, jumlahnya mencapai lebih dari seribu orang. Mereka berasal dari berbagai komunitas, termasuk relawan ambulans, dan ada pula yang bergabung di tengah perjalanan. Salah satu peserta, Hamim, menegaskan bahwa keikutsertaannya didorong oleh rasa cinta Tanah Air dan keinginan untuk terus menggaungkan pesan kemerdekaan di tengah berbagai persoalan bangsa.
Pembentangan kain Merah Putih menjadi ciri khas yang tidak pernah absen. Pada tahun pertama, kain yang dibentangkan sepanjang 75 meter, menyesuaikan usia RI saat itu. Tradisi serupa juga pernah dilakukan di Watu Ulo dan Ambulu. Tahun ini, kain 81 meter dibawa dalam pawai berjalan dari Kranjingan menuju kantor kelurahan setempat, sebelum akhirnya dibentangkan di lapangan Desa Sidomulyo. Prosesi ini melibatkan masyarakat dan pelajar dari sekolah-sekolah keagamaan.
Kepala Desa Sidomulyo, Kamiludin, menyebut acara ini sebagai yang pertama dalam sejarah desanya. Ia mengaku bangga karena desa yang berada di ujung timur Jember ini bisa menjadi tuan rumah kirab bendera sepanjang 81 meter. "Ini pertama kalinya ada perhelatan kirab Merah Putih di sini. Kami sangat senang bisa berkolaborasi," katanya. Ia berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan semangat kebangsaan di kalangan pelajar dan membawa dampak ekonomi bagi warga.
Dampak ekonomi yang dimaksud Kamiludin terlihat dari banyaknya warga yang berjualan selama acara berlangsung. Selain itu, ia menilai kegiatan ini menjadi ajang promosi bagi Desa Sidomulyo agar semakin dikenal masyarakat luas. "Dari desa terpencil di ujung timur, kami gelorakan semangat kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa," ujarnya.
Agung Ganong menambahkan bahwa semangat kerelawanan menjadi dasar utama kegiatan ini. Meski dipelopori oleh komunitas Info Warga Jember, ia mengaku selalu terbuka bagi komunitas lain untuk bergabung. "Dari tahun ke tahun kami berevaluasi dan mengajak teman-teman relawan lainnya," tuturnya. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan seremoni, tetapi harus menjadi momentum memperkuat kebersamaan.
Perjalanan panjang dari perkotaan ke kawasan perkebunan kopi ini menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan ingin dibawa lebih dekat ke seluruh lapisan masyarakat. Dengan berakhir di Sidomulyo, perayaan HUT ke-81 RI ditutup dengan pembentangan kain Merah Putih yang menyatukan relawan, warga, dan pelajar dalam satu rasa kebangsaan. Pertanyaannya, akankah tradisi ini terus berlanjut dan semakin banyak desa yang terlibat?



