Obat Pengencer Darah Modern Berpotensi Perlambat Penurunan Kognitif pada Pasien Alzheimer
Baca dalam 60 detik
- Studi terhadap 7.300 pasien di Swedia menunjukkan penggunaan NOAC dikaitkan dengan penurunan kognitif lebih lambat dibandingkan warfarin atau tanpa pengobatan.
- Temuan ini memperkuat gagasan bahwa kesehatan kardiovaskular berperan penting dalam menjaga fungsi otak, meski masih diperlukan uji klinis untuk memastikan hubungan sebab-akibat.
- Para ahli mengingatkan agar pasien tidak mengubah pengobatan hanya berdasarkan hasil ini, namun penelitian membuka peluang terapi ganda untuk jantung dan otak.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di European Heart Journal mengungkapkan bahwa penggunaan antikoagulan oral baru (NOAC) dapat memperlambat laju penurunan kognitif pada pasien Alzheimer yang juga menderita fibrilasi atrium (AFib). Temuan ini memberikan harapan baru bagi jutaan penderita demensia di dunia, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan kesehatan jantung dalam menjaga fungsi otak.
Penelitian yang menganalisis data lebih dari 7.300 partisipan dari Swedish Register for Cognitive Disorders/Dementia (SveDem) ini membandingkan tiga kelompok pasien: mereka yang diberi NOAC, pengguna warfarin, dan yang tidak mendapat pengobatan antikoagulan sama sekali. Hasilnya, kelompok NOAC menunjukkan penurunan kognitif yang jauh lebih lambat dibandingkan dua kelompok lainnya, bahkan setelah memperhitungkan berbagai faktor risiko.
Maria Eriksdotter, profesor di Karolinska Institutet dan penulis utama studi, menjelaskan bahwa sekitar 15โ20% pasien Alzheimer juga memiliki AFib. "Obat pengencer darah banyak digunakan untuk mencegah stroke dan penggumpalan darah. Dengan meningkatkan aliran darah dan mengurangi kerusakan skala kecil di otak, obat ini berpotensi menjaga fungsi kognitif," ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa penelitian ini baru menunjukkan asosiasi, bukan kausalitas.
Para ahli yang tidak terlibat dalam studi ini menyambut positif temuan tersebut, namun mengingatkan perlunya kehati-hatian. Craig Basman dari Hackensack University Medical Center menyebut temuan ini "sangat menggembirakan", tetapi menekankan bahwa studi observasional tidak dapat membuktikan sebab-akibat. Ia mendorong dilakukannya uji acak terkontrol untuk memastikan manfaat neuroprotektif NOAC.
Dung Trinh, internis dari MemorialCare Medical Group, menambahkan bahwa meskipun efek yang terlihat kecil, perlambatan penurunan kognitif tetap berarti bagi pasien dan keluarga. "Penurunan kognitif memengaruhi kemandirian, komunikasi, dan hubungan sosial. Kebutuhan akan terapi yang menjaga fungsi kognitif sangat besar," katanya. Namun, ia menegaskan bahwa temuan ini tidak serta-merta menjadi alasan untuk mengganti pengobatan antikoagulan yang sedang berjalan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi demensia yang terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 1,2 juta orang di Indonesia hidup dengan demensia, dan angka ini diprediksi naik seiring bertambahnya usia harapan hidup. AFib sendiri kerap tidak terdiagnosis dengan baik di negara berkembang, sehingga pengelolaan faktor risiko kardiovaskular menjadi kunci. Penelitian ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan jantung bukan hanya untuk mencegah stroke, tetapi juga berpotensi melindungi otak dari penurunan kognitif.
Ke depan, para peneliti berharap uji klinis prospektif dengan pencitraan otak dapat mengungkap mekanisme pasti di balik manfaat NOAC. Pertanyaan yang mengemuka: apakah efek ini berlaku untuk semua jenis NOAC, atau hanya beberapa? Dan seberapa besar dampaknya jika dikombinasikan dengan terapi Alzheimer lainnya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah NOAC dapat menjadi terapi ganda yang menjanjikan untuk pasien dengan kondisi jantung dan otak yang saling terkait.



