HUT ke-81: Jajaran Menteri Pimpin Upacara di NTT Sambil Pantau Penanganan Gempa
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah menteri dan wakil menteri memimpin upacara HUT ke-81 di NTT sambil mengawasi langsung penanganan dampak gempa.
- Pemerintah menambah kapasitas kursi upacara di Istana menjadi 11.500 untuk mengakomodasi lonjakan minat masyarakat.
- Langkah ini menegaskan prioritas pemerintah pada respons bencana di tengah perayaan kemerdekaan, sekaligus menguji kesiapan logistik dan koordinasi antarlembaga.

Di tengah gegap gempita peringatan detik-detik proklamasi di Istana Merdeka, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih justru memilih memimpin upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI dari Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah yang baru saja diguncang gempa bumi. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa kehadiran para pejabat tinggi di sana bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi pemerintah memastikan penanganan bencana berjalan optimal di tengah perayaan nasional.
Prasetyo merinci, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Wakil Menteri Kesehatan, serta Wakil Menteri Sosial tengah berada di NTT. Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memimpin upacara di Sulawesi Tenggara. Pembagian tugas ini, menurut Prasetyo, merupakan wujud nyata bahwa perayaan kemerdekaan tidak boleh mengabaikan penderitaan warga yang terdampak musibah.
โDi tengah-tengah kita merayakan kemerdekaan, tentu saja di satu sisi kita tetap harus memastikan bahwa saudara-saudara kita yang kemarin terkena bencana itu semua tertangani dengan sebaik-baiknya,โ ujar Prasetyo di Jakarta, Senin (17/8). Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah ingin menunjukkan empati dan aksi nyata, bukan hanya retorika, di momen yang seharusnya penuh sukacita.
Di sisi lain, geliat masyarakat untuk menyaksikan langsung upacara di Istana tahun ini luar biasa. Pemerintah awalnya menyiapkan sekitar 8.100 kursi, namun karena tingginya minat, panitia menambah dua blok kursi tambahan masing-masing 1.700 untuk upacara pagi dan sore. Bagi yang belum beruntung mendapatkan war ticket, pemerintah menyiapkan tenda dan layar lebar di Jalan Medan Merdeka Utara agar mereka tetap bisa mengikuti prosesi dari luar Istana.
Prasetyo juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang gagal mendapatkan tiket meski telah mendaftar. Menurutnya, animo yang membeludak ini justru menjadi cermin semangat kebangsaan yang tinggi. โMari semua kita bekerja keras memberikan pengabdian yang terbaik untuk menjadikan Indonesia berdaulat, Indonesia yang benar-benar adil, Indonesia yang makmur untuk semuanya,โ pungkasnya.
Langkah pemerintah mengirim para menteri ke daerah bencana di tengah upacara kemerdekaan patut diapresiasi sebagai upaya membangun kepercayaan publik. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam percepatan rehabilitasi pasca-gempa NTT akan berlanjut setelah momen seremonial usai. Efektivitas penanganan bencana tidak diukur dari kehadiran pejabat di lapangan, melainkan dari keberlanjutan program pemulihan yang nyata dirasakan warga.



