Citra Satelit Google Maps Ungkap Kehancuran Gaza: 61 Juta Ton Puing, 82% Bangunan Rusak
Baca dalam 60 detik
- Pembaruan citra Google Maps menampilkan kerusakan masif di Gaza, dengan sekitar 200.000 bangunan terdampak dan dua pertiganya hancur total.
- PBB mencatat volume puing mencapai 61 juta ton, sekitar 20 kali lipat total puing dari seluruh perang global dalam 18 tahun terakhir.
- Meski gencatan senjata rapuh telah berjalan hampir setahun, jumlah bangunan hancur justru bertambah 9%, memperparah krisis kemanusiaan bagi 2,3 juta penduduk.

Pembaruan citra satelit pada layanan Google Maps mengungkap skala kehancuran di Jalur Gaza yang jauh lebih luas dari perkiraan sebelumnya, hampir setahun setelah gencatan senjata rapuh diberlakukan. Gambar yang diambil pada Juni lalu itu memperlihatkan rumah, tempat usaha, rumah ibadah, dan infrastruktur yang rata dengan tanah, serta kemunculan kamp-kamp tenda raksasa di sepanjang garis pantai.
Data terbaru dari Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (Unrwa) mencatat sekitar 82% bangunan di Gaza—setara 200.000 struktur—mengalami kerusakan, dengan dua pertiganya hancur total. Sebanyak lebih dari 2,1 juta orang yang mengungsi kini bergantung pada tenda dan tempat penampungan sementara. Yang mengejutkan, sebuah asesmen PBB memperkirakan jumlah bangunan hancur justru meningkat 9% sejak gencatan senjata dideklarasikan pada Oktober 2025, menandakan bahwa kerusakan terus berlanjut meski konflik bersenjata mereda.
Citra Google Maps juga menyoroti kerusakan parah di kota-kota utara seperti Beit Lahiya dan Beit Hanoun, serta hancurnya Masjid Istiqlal di Khan Younis. Permukiman padat seperti Jabaliya dan Shuja'iya di Kota Gaza kini dinyatakan tidak layak huni. Di selatan, kota Rafah nyaris seluruhnya menjadi puing, sementara Tel al-Sultan rata dengan tanah. Sebuah jalur lebar di perbatasan dengan Mesir tampak telah dibersihkan oleh pasukan Israel, meninggalkan hamparan puing yang membentang.
"Estimasi total puing di Gaza adalah 61 juta ton. Jumlah itu sekitar 20 kali lipat dari total puing yang dihasilkan seluruh perang di dunia selama 18 tahun terakhir," ujar Jaco Cilliers, perwakilan khusus UNDP untuk Palestina, kepada The Guardian bulan lalu.
Keberadaan sisa jasad manusia yang masih terkubur di bawah reruntuhan menjadi salah satu persoalan kemanusiaan paling mendesak. Proses evakuasi dan identifikasi terhambat oleh minimnya peralatan berat dan kondisi lapangan yang berbahaya. PBB memperingatkan bahwa tanpa akses bantuan yang memadai, risiko penyakit dan kematian tambahan akan terus meningkat.
Perang tiga tahun ini dipicu oleh serangan mendadak Hamas ke Israel pada Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang, mayoritas warga sipil, dan menyandera 251 orang. Eskalasi militer Israel yang berlangsung sejak saat itu telah mengubah lanskap Gaza secara permanen, memicu kehancuran infrastruktur dan perpindahan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bagi Indonesia, yang secara konsisten mendukung perjuangan Palestina dan telah mengirim bantuan kemanusiaan melalui berbagai jalur, temuan ini memperkuat seruan agar komunitas internasional meningkatkan tekanan diplomatik untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut. Pemerintah Indonesia juga menghadapi tantangan domestik dalam mengelola aspirasi publik yang menuntut sikap lebih tegas, termasuk potensi pengiriman misi kemanusiaan tambahan atau dukungan rekonstruksi pascaperang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa efektif gencatan senjata yang rapuh ini dalam menghentikan kehancuran struktural, dan apakah dunia akan bergerak dari sekadar seruan menuju aksi nyata rekonstruksi Gaza. Tanpa terobosan politik dan pendanaan besar-besaran, Gaza berisiko tetap menjadi wilayah yang tidak layak huni selama bertahun-tahun mendatang.



