Uttar Pradesh dan Yamanashi Perkuat Kerja Sama Hidrogen Hijau: Peluang bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Delegasi bisnis dan pemerintah dari Uttar Pradesh serta Yamanashi bertemu di New Delhi untuk membahas kolaborasi energi bersih, manufaktur, dan pengembangan SDM.
- Yamanashi menawarkan keahlian dalam produksi, penyimpanan, dan penggunaan hidrogen dari energi terbarukan, bukan sekadar peralatan.
- Kesepakatan ini berpotensi menjadi model bagi negara berkembang seperti Indonesia dalam transisi energi dan menarik investasi Jepang.

Pemerintah prefektur Yamanashi, Jepang, dan negara bagian Uttar Pradesh, India, sepakat memperdalam kerja sama di bidang energi bersih, manufaktur, dan pengembangan sumber daya manusia. Kesepakatan ini ditandai dengan pertemuan forum bisnis Jepang-India di New Delhi pada Rabu (20/8), yang dihadiri lebih dari 200 pengusaha dan pejabat dari kedua wilayah.
Gubernur Yamanashi, Kotaro Nagasaki, menegaskan bahwa prefekturnya tidak sekadar menjual peralatan, melainkan berbagi pengalaman dalam memproduksi hidrogen dari energi terbarukan, menyimpannya, dan memanfaatkannya di kawasan industri. "Yang bisa Yamanashi tawarkan bukanlah peralatan, tetapi pengalaman dalam menghasilkan hidrogen dari energi terbarukan, menyimpannya, dan menggunakannya di lokasi industri," ujarnya dalam forum tersebut.
Kerja sama ini mencakup penandatanganan dokumen tentang hidrogen hijau, pariwisata, dan pengembangan SDM dengan pemerintah Uttar Pradesh dan sebuah universitas setempat. Uttar Pradesh, dengan populasi lebih dari 240 juta jiwa, dinilai sebagai pasar besar dengan industri yang berkembang pesat dan kebijakan hidrogen yang sudah mapan. Hal ini menjadikannya mitra strategis bagi Yamanashi yang selama ini dikenal sebagai pelopor teknologi hidrogen di Jepang.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Menteri Uttar Pradesh, Yogi Adityanath, mempromosikan rencana pembangunan "Japan City" seluas 500 hektare di dekat Bandara Internasional Noida. Kawasan ini dirancang sebagai basis bagi produsen dan pemasok Jepang yang ingin berekspansi ke India. Selain itu, dilakukan groundbreaking virtual untuk pabrik Escorts Kubota, anak perusahaan Kubota Corp asal Jepang, dengan investasi sekitar US$212 juta dan menciptakan lebih dari 3.800 lapangan kerja.
Forum ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi ke India pada Juli lalu. Dalam pertemuan tersebut, Takaichi dan Perdana Menteri India Narendra Modi sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang semikonduktor, mineral kritis, dan kecerdasan buatan. Langkah ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam membangun rantai pasok yang lebih tangguh di tengah persaingan global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Jepang selama ini menjadi salah satu investor utama di Indonesia, terutama di sektor otomotif dan elektronik. Namun, kerja sama hidrogen hijau antara Yamanashi dan Uttar Pradesh bisa menjadi model bagi Indonesia yang tengah berupaya mempercepat transisi energi. Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan target net zero emission pada 2060 dan tengah mengembangkan ekosistem hidrogen sebagai salah satu pilar energi masa depan.
Menurut analis energi dari Universitas Indonesia, kerja sama semacam ini membuka peluang transfer teknologi dan investasi yang tidak hanya berfokus pada peralatan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas lokal. "Indonesia bisa belajar dari pendekatan Yamanashi yang menekankan pengalaman dan pengetahuan, bukan sekadar menjual produk," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Indonesia perlu memperkuat regulasi dan insentif agar investasi hidrogen hijau semakin menarik bagi mitra asing.
Ke depan, apakah Indonesia akan mampu menarik minat prefektur-prefektur Jepang lainnya seperti Yamanashi untuk menjalin kerja sama serupa? Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan pasar yang besar, Indonesia sebenarnya memiliki daya tarik yang setara dengan Uttar Pradesh. Namun, tanpa kebijakan yang jelas dan dukungan infrastruktur yang memadai, peluang tersebut bisa saja berlalu. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia untuk mengambil peran dalam rantai pasok hidrogen global?



