Tragedi Damkar Pangkep: Korban Meninggal Bertambah, Sorotan pada Prosedur dan Keselamatan Petugas
Baca dalam 60 detik
- Kecelakaan mobil pemadam kebakaran di Pangkep menewaskan tiga personel setelah satu korban luka menyerah di rumah sakit.
- Insiden terjadi saat armada melaju ke lokasi kebakaran lahan dan terbalik setelah menghindari kendaraan di depannya.
- Peristiwa ini mempertanyakan standar keselamatan dan pelatihan pengemudi kendaraan darurat di daerah.

Jumlah korban tewas akibat kecelakaan mobil Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, bertambah menjadi tiga orang. Satu personel yang sebelumnya dirawat intensif, Jamaluddin, dinyatakan meninggal dunia, melengkapi dua rekannya yang lebih dulu tewas di lokasi kejadian, Ince Irwan dan Rusman Hadi.
Insiden nahas itu terjadi pada Selasa (29/9) sekitar pukul 14.40 WITA. Kala itu, tim Damkar tengah melaju menuju titik kebakaran lahan. Namun, di Kampung Tujung Batu, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Labakkang, armada yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan tunggal. Kasatpol PP dan Damkar Pangkep, Hapiluddin, membenarkan penambahan korban. "Iya benar, bertambah, ada satu personel kita meninggal dunia," ujarnya, Rabu (30/9).
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, mobil pemadam melaju dari arah Makassar menuju Barru di lajur kanan. Diduga karena ada kendaraan lain di depannya, pengemudi berupaya menghindar dengan membanting setir ke kiri lalu ke kanan. Manuver mendadak itu membuat laju kendaraan tak terkendali, oleng, dan akhirnya terbalik di tengah jalan. "Pengemudi tidak bisa menguasai kendaraannya, lalu oleng lalu terbalik sendiri," jelas Hapiluddin.
Total ada tujuh personel yang diturunkan dalam operasi tersebut. Tiga orang berada di dalam kabin, termasuk sopir, sementara empat lainnya duduk di belakang. Selain tiga korban tewas, lima orang sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai kondisi terkini para korban luka.
Kecelakaan yang menimpa petugas pemadam kebakaran saat menjalankan tugas bukan kali pertama terjadi. Di berbagai daerah, armada damkar kerap melaju dengan kecepatan tinggi di jalan yang sempit dan berkelok, terutama saat menuju lokasi kebakaran lahan yang medannya menantang. Kondisi ini diperparah oleh minimnya pelatihan khusus mengemudi darurat serta usia kendaraan yang tidak muda. Dalam banyak kasus, petugas juga tidak dilengkapi sabuk keselamatan yang memadai di kabin belakang.
Pengamat transportasi menilai, insiden di Pangkep seharusnya menjadi pemicu evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) kendaraan darurat. "Pemerintah daerah perlu memastikan setiap armada damkar laik jalan dan pengemudinya memiliki sertifikasi mengemudi taktis. Jangan sampai petugas yang seharusnya menyelamatkan orang lain justru menjadi korban karena kelalaian sistem," ujar seorang analis kebijakan publik yang enggan disebut namanya.
Selain itu, koordinasi lintas instansi dalam penanganan kebakaran lahan juga perlu dibenahi. Sering kali, informasi titik api diterima secara mendadak, memaksa petugas melaju cepat tanpa perencanaan rute yang matang. Di sisi lain, keberadaan kendaraan lain di jalan raya menjadi faktor eksternal yang sulit dikendalikan. Edukasi kepada masyarakat untuk memberi prioritas kepada kendaraan darurat yang sedang bertugas pun masih rendah.
"Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya. Ini pukulan berat bagi keluarga besar Damkar Pangkep. Ke depan, kami akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk aspek keselamatan armada dan personel," ujar Hapiluddin.
Dengan bertambahnya korban, duka menyelimuti markas Damkar Pangkep. Rekan-rekan almarhum mengenang ketiganya sebagai petugas yang dedikatif. Jenazah telah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan. Sementara itu, lima korban luka masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah tragedi ini mendorong pembenahan serius dalam perlindungan petugas pemadam kebakaran di seluruh Indonesia? Ataukah kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi hingga korban berikutnya berjatuhan?



