Sejarah Baru: Abbie Donnelly Raih Perunggu, Inggris Kunci Emas Tim di Marathon Eropa
Baca dalam 60 detik
- Abbie Donnelly memecahkan rekor 42 tahun Inggris dengan medali perunggu marathon Eropa pertamanya.
- Kemenangan tim putri Inggris menggeser Italia dari puncak klasemen sementara, menyisakan satu emas untuk merebut posisi teratas.
- Rute Birmingham yang berat menjadi ujian mental dan fisik, menegaskan strategi konservatif sebagai kunci sukses.

Abbie Donnelly mengukir namanya dalam buku sejarah atletik Inggris dengan menjadi pelari putri pertama yang meraih medali marathon di Kejuaraan Eropa, setelah finis ketiga di Birmingham pada Minggu (11/8). Prestasi ini sekaligus mengantarkan Inggris meraih emas beregu, mengungguli Italia dan Spanyol, dengan Natasha Wilson di posisi kelima dan Rose Harvey di urutan ke-14.
Donnelly, yang berasal dari Lincolnshire, mencatat waktu 2 jam 27 menit 33 detik, hanya 12 detik di belakang Lili Anna Vindics-Toth dari Hungaria yang merebut perak. Sementara itu, favorit Finlandia, Alisa Vainio, tampil dominan dengan memecahkan rekor juara Eropa menjadi 2:22:26, hampir tiga menit lebih cepat dari catatan sebelumnya. Bagi Donnelly, ini adalah penampilan terbaik pelari putri Inggris di ajang ini sejak Kath Binns menempati posisi kesembilan pada 1982.
Kemenangan tim putri Inggris ini menjadi emas ketujuh bagi kontingen Inggris di kejuaraan tersebut, membuat mereka hanya tertinggal satu emas dari Italia yang memimpin klasemen sementara menjelang sesi final. Dengan delapan emas yang masih diperebutkan pada malam penutupan, persaingan menuju puncak klasemen dipastikan berlangsung sengit.
Donnelly, yang sebelumnya berkiprah di lintas alam, mengaku pengalaman berlaga di depan publik sendiri menjadi momen tak terlupakan. "Ini berarti segalanya bagi saya untuk berlaga di Birmingham. Saya belum pernah mengikuti kejuaraan di kandang sendiri, jadi mendengar penonton meneriakkan nama saya adalah pengalaman yang luar biasa," ujarnya. Ia juga menyoroti dukungan rekannya, Wilson, yang menemaninya di grup pengejar sepanjang lomba. "Itu sangat membantu," katanya.
Strategi balapan menjadi kunci. Vainio memimpin sejak awal, sementara Donnelly dan Wilson memilih berlari konservatif di paruh pertama untuk menghemat tenaga menghadapi rute berbukit. Keputusan ini terbukti tepat ketika Vindics-Toth melakukan akselerasi di kilometer akhir, dan Donnelly mampu mengikutinya meski harus melewati tanjakan terjal menuju garis finis. "Saya tidak percaya. Ini pengalaman yang luar biasa, dan lega bisa menyelesaikan lintasan yang sangat menantang ini," kata Donnelly, yang juga mengakui otot pahanya "hilang" akibat turunan curam.
Kesuksesan Donnelly di jalan raya merupakan kelanjutan dari karier cemerlangnya di lintas alam. Ia pernah dua kali membawa Inggris meraih emas tim di Kejuaraan Lintas Alam Eropa, sebelum beralih ke road running dan memenangkan emas tim half marathon pada debutnya di Roma 2024. "Kami membicarakan target emas sejak kemarin. Saya bangga dengan seluruh tim, mereka semua berlari luar biasa," ungkapnya. Baginya, kebersamaan dan atmosfer dalam olahraga ini adalah hal yang paling berharga.
Bagi Indonesia, prestasi Donnelly menjadi pengingat bahwa marathon bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga strategi dan ketahanan mental. Dengan medan yang menantang, pelari Indonesia yang kerap berlatih di dataran tinggi dapat mengambil pelajaran dari pendekatan konservatif yang terbukti efektif di Birmingham. Kejuaraan Eropa ini juga menjadi tolok ukur perkembangan atletik putri di kawasan tersebut, yang bisa menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda di Asia Tenggara untuk menembus panggung internasional.
Dengan satu sesi tersisa, pertanyaan besarnya adalah apakah Inggris mampu menyalip Italia di puncak klasemen. Jika ya, ini akan menjadi pencapaian bersejarah bagi tim tuan rumah. Namun, terlepas dari hasil akhir, penampilan Donnelly dan kawan-kawan telah membuktikan bahwa kerja tim dan kegigihan mampu mengubah peta persaingan di level tertinggi Eropa.



