Konservatif Inggris Usung 'Tough Love': Bantuan untuk Bawah 25 Tahun Kini Wajib Kerja Harian
Baca dalam 60 detik
- Partai Konservatif mengumumkan aturan baru: penerima Universal Credit usia 18-24 tanpa riwayat kerja enam bulan harus ikut skema 'Get to Work' dengan kehadiran harian di job centre.
- Skema ini menuai kritik dari lembaga anti-kemiskinan Trussell yang menilai tunjangan yang ada pun tak cukup untuk kebutuhan dasar, sehingga menghambat pencari kerja.
- Langkah ini bersaing dengan proposal Partai Buruh yang fokus pada magang dan insentif £2.000 bagi usaha kecil, menjelang laporan besar tentang NEET.

Partai Konservatif Inggris mengumumkan rencana kontroversial: memperketat syarat bantuan sosial bagi warga di bawah 25 tahun yang belum memiliki riwayat kerja. Dalam pendekatan yang mereka sebut "tough love", penerima Universal Credit usia 18-24 tahun yang dianggap mampu bekerja namun belum bekerja terus-menerus selama enam bulan akan diwajibkan mengikuti program "Get to Work" dengan kehadiran harian di pusat kerja atau pelatihan.
Kebijakan ini menyasar hampir satu juta anak muda Inggris berusia 16-24 tahun yang tidak sedang menempuh pendidikan, pelatihan, atau pekerjaan (NEET). Partai berkuasa itu berargumen bahwa sistem saat ini terlalu longgar dan memicu ketergantungan. "Terlalu banyak anak muda yang lulus sekolah langsung mendaftar bantuan—ini pemborosan potensi dan bencana bagi ekonomi kita," ujar Menteri Bayangan Bidang Kerja dan Pensiun, Helen Whately.
Skema yang diusulkan tidak sekadar mengubah persyaratan administratif. Peserta akan menerima "Get to Work Allowance" dengan nilai setara Universal Credit, tetapi dengan kewajiban menghadiri pusat kerja setiap hari, mengikuti lokakarya pencarian kerja, dan sesi persiapan wawancara. Mereka juga akan didampingi seorang manajer. Program berlangsung enam bulan; jika tetap menganggur setelah periode itu, tunjangan mereka dipotong 30%. Pengecualian diberikan bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan, tanggung jawab perawatan, atau telah bekerja minimal enam bulan sebelumnya.
Namun, organisasi amal anti-kemiskinan Trussell menyoroti sisi lain. Mereka menilai bahwa penerima Universal Credit saat ini saja sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, dan kondisi itu justru melemahkan kemampuan mereka mencari serta mempertahankan pekerjaan. Kritik ini menggarisbawahi dilema klasik kebijakan kesejahteraan: antara mendorong partisipasi kerja dan memastikan jaring pengaman sosial tidak menimbulkan penderitaan baru.
"Terlalu banyak anak muda yang meninggalkan sekolah dan langsung menandatangani bantuan—ini pemborosan potensi dan bencana bagi ekonomi kita."
— Helen Whately, Menteri Bayangan Bidang Kerja dan Pensiun
Langkah Konservatif ini bukan tanpa pesaing. Partai Buruh, dalam konferensi pekan lalu, menekankan pendekatan berbeda. Kanselir Bayangan John Healey menyatakan bahwa hal terbaik bagi generasi muda bukanlah pembayaran tunjangan, melainkan pekerjaan pertama dengan pelatihan dan upah. Buruh berjanji memperluas akses ke Local Apprenticeships Service bagi setiap wali kota di Inggris mulai Maret 2027, serta memberikan £2.000 kepada usaha kecil dan menengah yang merekrut magang muda.
Kedua pendekatan ini akan diuji oleh laporan besar dari mantan menteri Alan Milburn tentang strategi mengatasi NEET, yang sebentar lagi dipublikasikan. Laporan tersebut diperkirakan menjadi rujukan kebijakan lintas partai. Pertanyaannya, apakah pendekatan "tough love" ala Konservatif mampu menekan angka NEET tanpa memperparah kerentanan sosial, atau justru sebaliknya? Yang jelas, perdebatan tentang masa depan generasi muda Inggris semakin memanas menjelang pemilu.



