Kyrgios Disanksi Usai Positif Kokain: Pengakuan Jujur di Tengah Badai Karier
Baca dalam 60 detik
- Petenis Australia Nick Kyrgios resmi diskors sementara setelah sampelnya mengandung metabolit kokain pada turnamen ATP di Mallorca, Juni lalu.
- Skorsing yang berlaku sejak 4 Agustus itu membuatnya absen dari seluruh ajang resmi tenis, termasuk Grand Slam, hingga proses banding selesai.
- Kyrgios mengakui kesalahannya dan memilih menjauh dari sorotan publik selama 28 hari untuk fokus pada pemulihan mental dan fisik.

Kabar mengejutkan datang dari dunia tenis: Nick Kyrgios, finalis Wimbledon 2022, resmi diskors sementara setelah hasil tesnya menunjukkan adanya zat kokain dalam tubuhnya. Pengumuman ini disampaikan oleh International Tennis Integrity Agency (ITIA) pada Rabu (19/8), menandai babak baru dalam karier petenis berusia 31 tahun yang kerap diliputi kontroversi.
Skorsing ini bermula dari sampel urine yang diambil saat Kyrgios mengikuti turnamen ATP 250 di Mallorca, Juni lalu. Setelah melalui uji laboratorium yang dikonfirmasi oleh Badan Anti-Doping Dunia (WADA) pada 17 Juli, ditemukan benzoylecgonine—metabolit utama kokain—dalam darahnya. Sejak 4 Agustus, ia resmi dilarang bertanding, melatih, atau menghadiri acara yang digelar oleh ATP, WTA, Grand Slam, maupun asosiasi tenis nasional mana pun.
Alih-alih membantah, Kyrgios justru angkat bicara dengan nada penyesalan. Melalui unggahan Instagram, ia menyebut hasil tes itu sebagai "kesalahan besar" dan mengambil tanggung jawab penuh. "Saya minta maaf kepada penggemar, keluarga, sponsor, dan semua orang terdekat. Terutama, saya minta maaf kepada anak-anak yang mengikuti saya. Saya tahu contoh buruk ini dan saya sangat kecewa pada diri sendiri," tulisnya.
Lebih jauh, Kyrgios mengaitkan kondisi ini dengan tekanan mental yang ia alami belakangan. Cedera berulang membuatnya kesulitan menerima kenyataan bahwa kariernya mungkin akan segera berakhir. "Tubuh saya tidak bisa mengikuti apa yang pikiran saya harapkan. Menerima bahwa saya mendekati akhir karier ternyata lebih sulit dari yang saya bayangkan," ungkapnya. Ia juga mengaku pernah merasa tidak berdaya dan kesepian dalam perjuangannya melawan rasa sakit fisik dan psikis.
Kokain sendiri masuk dalam daftar zat terlarang WADA sebagai stimulan dan substansi penyalahgunaan, sehingga penggunaannya dalam kompetisi sangat dilarang. Meski demikian, hukuman untuk kasus seperti ini bisa bervariasi, tergantung pada tingkat kesengajaan dan konteks penggunaan. Kyrgios memilih tidak mengajukan banding atas skorsing sementara ini, dan berencana menjauh dari media sosial serta kehidupan publik selama 28 hari untuk fokus memulihkan diri.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa doping tidak hanya menimpa atlet-atlet yang berprestasi, tetapi juga mereka yang sedang berjuang di ujung karier. Tekanan untuk tetap tampil di level tertinggi sering kali mendorong atlet mengambil jalan pintas, meski berisiko merusak reputasi dan masa depan mereka. Di sisi lain, langkah Kyrgios untuk mengakui kesalahan secara terbuka bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dan kesehatan mental dalam olahraga profesional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Kyrgios bisa bangkit dari keterpurukan ini. Dengan bakat yang tidak diragukan lagi, ia masih berpeluang untuk kembali ke lapangan jika berhasil melewati proses rehabilitasi dan hukuman yang dijatuhkan. Namun, publik akan menunggu apakah ia benar-benar bisa mengubah perilaku dan fokus pada karier, atau justru semakin tenggelam dalam kontroversi. Satu hal yang pasti: kasus ini akan menjadi catatan kelam dalam perjalanan panjang tenis profesional.



