Ashley Tisdale Ungkap Perjuangan Depresi Pascapersalinan: 'Aku Berkali-kali Ingin Bercerai'
Baca dalam 60 detik
- Ashley Tisdale membuka pengalaman depresi pascapersalinan yang hampir menghancurkan pernikahannya dengan Christopher French.
- Ia mengaku sempat beberapa kali mengajukan cerai karena tekanan mental yang berat, namun sang suami memilih bertahan dan menenangkan situasi.
- Diagnosis depresi baru muncul dua tahun setelah kelahiran anak pertama, menyoroti pentingnya deteksi dini gangguan kesehatan mental ibu.

Aktris Hollywood Ashley Tisdale mengungkap sisi gelap masa awal menjadi ibu. Dalam podcast Recovering, perempuan 41 tahun itu menuturkan bahwa depresi pascapersalinan yang dialaminya nyaris meruntuhkan rumah tangganya dengan komposer Christopher French. Ia bahkan mengaku berkali-kali melontarkan keinginan bercerai saat gejolak emosi memuncak.
Tisdale dan French menikah sejak 2014 dan dikaruniai dua anak, Jupiter (5) dan Emerson (2). Namun kelahiran Jupiter menjadi titik terberat. “Kami mengalami banyak kesulitan di tahun pertama. Aku berulang kali mencoba menceraikanmu,” ujarnya kepada sang suami dalam podcast tersebut. French dinilainya tetap tenang dan mampu meredakan situasi.
Sebelum hamil, Tisdale merasa telah mengatasi gangguan kecemasan dan yakin siap secara emosional. Harapan itu buyar ketika depresi pascapersalinan menyerang. “Aku diterpa depresi pascapersalinan yang sangat hormonal. Semua alat yang kupelajari untuk mengatasi kecemasan tidak bisa dipakai,” tuturnya. Ia juga mengalami serangan panik, termasuk saat berada di dalam mobil di tengah kemacetan.
Yang membuat pengalaman itu kian rumit, tidak ada tenaga medis yang mendiagnosis kondisinya saat itu. Tisdale baru mendapat penjelasan ketika Jupiter berulang tahun kedua. “Aku merasa jauh lebih baik saat ulang tahun kedua. Dokter bilang, ‘Oh, kamu mengalami depresi pascapersalinan’. Aku terkejut, kenapa tidak ada yang memberi tahu sebelumnya?” kenangnya.
“Aku berulang kali mencoba menceraikanmu. Tapi kamu sangat membumi dan tenang, tahu kapan harus membiarkan badai berlalu.” — Ashley Tisdale kepada suaminya.
Kisah Tisdale bukan kasus tunggal. Depresi pascapersalinan memengaruhi sekitar 10–15% ibu baru di seluruh dunia, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Gejalanya sering kali tidak dikenali karena dianggap bagian dari kelelahan mengurus bayi. Padahal, gangguan ini dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental ibu dan perkembangan anak.
Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental ibu masih rendah. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi pada ibu hamil dan menyusui berkisar 10–20%, namun hanya sebagian kecil yang mendapat penanganan profesional. Stigma dan keterbatasan akses layanan psikologis menjadi penghalang utama. Kisah Tisdale menyoroti perlunya skrining rutin dan dukungan keluarga, seperti yang ditunjukkan French.
Meski begitu, Tisdale menegaskan bahwa menjadi ibu adalah fase terbaik dalam hidupnya. “Aku sangat mencintainya. Ini mengubah hidupku dalam banyak hal. Aku bersyukur,” katanya kepada People. Ia berharap pengalamannya membantu ibu lain merasa tidak sendirian dan lebih berani mencari bantuan.
Ke depan, publik menantikan apakah Tisdale akan aktif mengampanyekan kesehatan mental ibu. Dengan platform yang dimilikinya, ia berpotensi mendorong perubahan kebijakan skrining depresi pascapersalinan di Amerika Serikat dan menjadi suara bagi mereka yang terdiam.



