Peta Kontrak Pembalap F1 2026: Siapa Terikat hingga 2030, Siapa yang Menanti di Ujung Musim
Baca dalam 60 detik
- Lando Norris resmi meneken kontrak empat tahun bersama McLaren, mengikatnya hingga 2030 dengan klausul perpanjangan.
- Max Verstappen juga terikat jangka panjang di Red Bull hingga 2030, sementara sejumlah pembalap seperti Esteban Ocon dan Oliver Bearman akan habis kontraknya akhir 2026.
- Stabilitas pasar pembalap membuat tim-tim papan atas sulit berburu nama besar, membuka peluang bagi pembalap muda dan proyek tim baru seperti Cadillac.

Peta kekuatan Formula 1 musim 2026 mulai terbaca jelas setelah sejumlah tim mengumumkan perpanjangan kontrak pembalap mereka. Lando Norris menjadi sorotan utama setelah menandatangani kontrak empat tahun dengan McLaren yang mengikatnya hingga akhir 2030, lengkap dengan klausul perpanjangan. Kesepakatan ini menegaskan posisi juara dunia 2025 tersebut sebagai fondasi jangka panjang tim yang bermarkas di Woking itu.
Langkah McLaren mengamankan Norris sejalan dengan strategi mereka mempertahankan duet pembalap. Oscar Piastri, yang bergabung sejak 2023 setelah melalui sidang FIA Contract Recognition Board untuk menyelesaikan sengketa dengan Alpine, telah meneken kontrak hingga akhir 2028. Kombinasi ini memberi McLaren stabilitas langka di era biaya pengembangan mobil yang mahal dan regulasi teknis baru yang menuntut konsistensi data dari pembalap.
Di kubu Mercedes, George Russell dan Kimi Antonelli sama-sama terikat hingga akhir 2027. Russell, yang bergabung pada 2022 setelah tiga musim di Williams, tetap percaya diri meski tim sempat dikaitkan dengan Max Verstappen. Antonelli sendiri mengisi kursi yang ditinggalkan Lewis Hamilton menuju Ferrari pada 2025, dan kontraknya hingga 2027 memberi Mercedes ruang untuk mengevaluasi performa pembalap muda Italia itu.
Red Bull mengumumkan perpanjangan kontrak Verstappen hingga setidaknya akhir 2030 pada GP Belanda 2026. Pembalap asal Belanda itu telah menjadi bagian dari program junior Red Bull sejak 2014, debut di F1 bersama Toro Rosso pada 2015 di usia 17 tahun, dan dipromosikan ke tim utama pada pertengahan 2016. Isack Hadjar, yang naik dari Racing Bulls pada 2026, terikat hingga akhir 2027 setelah penampilan impresifnya, termasuk podium di GP Belanda.
Ferrari tetap enggan mengungkap detail kontrak, tetapi memastikan kesepakatan dengan Hamilton berjalan hingga setidaknya 2027. Hamilton bergabung pada 2025 dengan kontrak tiga tahun plus klausul. Sementara Charles Leclerc meneken perpanjangan menjelang GP Monako 2026, yang dipercaya mengikatnya hingga akhir 2028 dengan opsi tambahan. Duet ini menjadi taruhan Ferrari untuk mengakhiri puasa gelar dunia.
Di Williams, Alex Albon dan Carlos Sainz sama-sama diikat hingga akhir 2027 dan 2028. Sainz, yang telah membalap untuk hampir separuh grid F1 sejak debut 2015, bergabung pada 2025. Stabilitas ini krusial bagi Williams yang tengah membangun kembali daya saingnya di papan tengah.
Pasar pembalap justru lebih dinamis di tim-tim menengah ke bawah. Esteban Ocon dipastikan meninggalkan Haas pada akhir 2026 setelah tim tidak mengambil opsi perpanjangan. Oliver Bearman, yang kontraknya habis akhir 2026, masih harus membuktikan diri. Nico Hulkenberg dan Gabriel Bortoleto terikat di Sauber/Audi hingga 2027, sejalan dengan transisi tim ke pabrikan Jerman tersebut.
Alpine mengamankan Pierre Gasly hingga akhir 2028, sementara Franco Colapinto dipertahankan untuk 2027. Tim baru Cadillac memberikan comeback kepada Sergio Perez dan Valtteri Bottas dengan kontrak multi-tahun hingga setidaknya 2027. Kehadiran Cadillac menambah dinamika pasar, meski dengan pendekatan pembalap berpengalaman.
Fernando Alonso memutuskan bertahan di Aston Martin untuk 2027, meski ia menyatakan ketidakpuasannya terhadap regulasi mobil era baru. Lance Stroll, yang memiliki posisi unik karena ayahnya memiliki tim, diperkirakan akan terus membalap tanpa batas waktu kontrak yang jelas.
Bagi industri F1, stabilitas kontrak jangka panjang di tim-tim papan atas menciptakan efek domino. Tim yang ingin merekrut pembalap elite harus menunggu hingga 2027 atau 2028, atau menebus klausul pelepasan yang mahal. Kondisi ini memberi keuntungan bagi pembalap muda yang bisa mendapatkan kursi lebih cepat, seperti yang dialami Hadjar dan Antonelli.
Dari perspektif Indonesia, dinamika ini relevan dengan meningkatnya minat pasar Asia Tenggara terhadap F1, terutama setelah kesuksesan penyelenggaraan MotoGP Mandalika. Meski belum ada pembalap Indonesia di grid, stabilitas kontrak global memengaruhi peluang pembalap Asia untuk menembus program junior tim-tim Eropa. Tim seperti Cadillac yang merekrut pembalap berpengalaman justru menutup peluang debutan, sementara Racing Bulls dan Haas membuka celah bagi talenta baru.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah dominasi kontrak jangka panjang ini akan memicu pergerakan besar pada akhir 2027, ketika sejumlah kontrak habis bersamaan. Jika performa tim tidak sesuai ekspektasi, klausul pelepasan bisa menjadi jalan pintas bagi pembalap top untuk pindah. Sebaliknya, jika regulasi 2026 menghasilkan kompetisi yang lebih ketat, tim-tim mungkin lebih memilih mempertahankan duet yang sudah ada. Pasar pembalap F1 memasuki fase terkunci, tetapi tidak selamanya.



