Ikitau Kembali Perkuat Wallabies: Tantangan Berat Menanti di Kandang Argentina
Baca dalam 60 detik
- Pemain tengah Len Ikitau kembali masuk skuad Australia untuk tur dua pertandingan melawan Argentina setelah pulih dari cedera pergelangan kaki.
- Pelatih anyar Les Kiss menegaskan konsistensi seleksi sebagai kunci membangun tim, meski harus menghadapi laga tandang yang berat di Amerika Selatan.
- Keputusan menempatkan Ikitau di luar center berpotensi menggeser Joseph-Aukuso Suaalii ke posisi sayap, menambah kedalaman opsi serangan Wallabies.

Pelatih anyar Australia, Les Kiss, kembali memanggil pemain tengah Len Ikitau untuk memperkuat Wallabies dalam tur dua pertandingan melawan Argentina. Keputusan ini diumumkan pada Rabu (19/8) setelah Ikitau dinyatakan pulih dari cedera pergelangan kaki yang membuatnya absen dalam dua kemenangan atas Jepang awal bulan ini.
Ikitau, yang kini berusia 27 tahun, diperkirakan akan langsung diturunkan sebagai starter saat Australia menghadapi Pumas di San Salvador pada 29 Agustus dan Mendoza sepekan kemudian. Namun, posisinya di lapangan masih menjadi teka-teki. Penampilan impresif Hunter Paisami di nomor 12 saat melawan Jepang membuka peluang Ikitau untuk bergeser ke outside center, sebuah pergeseran yang bisa mengubah dinamika lini tengah Wallabies.
Jika Ikitau memang ditempatkan di luar, konsekuensinya langsung terasa bagi Joseph-Aukuso Suaalii. Bintang muda yang sempat mengalami cedera hamstring ringan itu tetap masuk skuad, tetapi kansnya untuk bermain di posisi tengah menjadi tipis. Suaalii kemungkinan besar akan diplot sebagai pemain sayap, sebuah opsi yang memberikan fleksibilitas bagi Kiss dalam meramu serangan.
Di sisi lain, absennya lock Miles Amatosero menjadi sorotan. Pemain berpostur tinggi itu harus menjalani hukuman larangan bermain tiga pertandingan setelah menerima kartu merah pada laga pertama melawan Jepang. Keputusan ini tentu menjadi pukulan bagi kedalaman lini kedua Australia, yang kini harus mengandalkan opsi lain di posisi tersebut.
Kiss, yang baru mengambil alih kursi pelatih pada akhir Juli lalu, menegaskan bahwa pemilihan pemain kali ini mengedepankan konsistensi. "Kami berusaha menjaga kesinambungan dalam seleksi, dengan mayoritas skuad ini telah membangun fondasi yang solid dalam beberapa pekan terakhir," ujarnya. Ia juga menyadari bahwa tur ke Argentina bukanlah perkara mudah. "Tur ini merupakan tantangan berat bagi kami sebagai kelompok baru, dan kami tahu harus naik ke level berikutnya untuk terus mengembangkan permainan."
Bagi penggemar rugby di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski Indonesia bukan kekuatan utama di rugby Asia, animo terhadap olahraga ini terus tumbuh, terutama dengan semakin banyaknya pemain keturunan yang menembus kompetisi profesional di luar negeri. Strategi Australia dalam membangun tim di bawah pelatih baru bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan rugby di kawasan, termasuk Indonesia yang tengah berupaya meningkatkan prestasi di level internasional.
Dengan komposisi skuad yang sebagian besar masih muda, Kiss tampaknya sedang menyiapkan regenerasi. Nama-nama seperti Harry Wilson yang dipercaya sebagai kapten, serta pemain belakang seperti Ben Donaldson dan Tom Wright, menjadi tulang punggung tim. Pertanyaan besarnya, apakah keberanian Kiss untuk melakukan rotasi dan memberi kesempatan pada pemain muda akan membuahkan hasil di kandang lawan yang terkenal galak?
Tur Argentina ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi filosofi Kiss. Jika Wallabies mampu meraih hasil positif, itu akan menjadi sinyal kuat bahwa Australia sedang berada di jalur yang tepat menuju Piala Dunia 2027. Namun, jika sebaliknya, kritik akan kembali menghampiri. Satu hal yang pasti, laga di San Salvador dan Mendoza akan menjadi panggung bagi Ikitau dan kawan-kawan untuk membuktikan kapasitas mereka di pentas internasional.



