Gus Ipul Nyatakan Siap Ditempatkan di Posisi Apa Pun dalam Kepengurusan PBNU 2026–2031
Baca dalam 60 detik
- Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan tidak mempermasalahkan posisi apa pun dalam struktur PBNU periode mendatang.
- Ia menyerahkan sepenuhnya penyusunan kepengurusan kepada Rais Aam dan Ketua Umum terpilih beserta tim formatur.
- Pernyataan ini muncul saat proses pembentukan pengurus PBNU masih berjalan dan menjadi sorotan publik.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyatakan kesediaannya untuk ditempatkan pada jabatan apa pun dalam kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031. Pernyataan itu ia sampaikan di kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta, Rabu (30/9/2026), menanggapi dinamika penyusunan struktur organisasi terbesar di Indonesia tersebut.
Gus Ipul menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki preferensi posisi. Ia mengaku telah menapaki berbagai peran di NU selama sekitar empat dekade, mulai dari lembaga hingga badan otonom, termasuk dua periode sebagai ketua PBNU dan Sekretaris Jenderal. Pengalaman panjang itu, menurutnya, membuatnya fleksibel terhadap penugasan apa pun yang diberikan.
Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, telah terjalin. Dalam pembicaraan itu, Gus Kikin disebut meminta bantuannya, dan Gus Ipul menyatakan kesiapan. Namun, ia enggan membeberkan detail isi pembicaraan tersebut.
Pembentukan kepengurusan PBNU sepenuhnya diserahkan kepada Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum terpilih, dan tim formatur yang dibentuk dalam Muktamar Ke-35 NU. Tim ini terdiri dari perwakilan sejumlah wilayah serta unsur tuan rumah Jawa Timur. Tugas mereka menyusun komposisi pengurus untuk lima tahun ke depan.
"Kalau saya di mana saja siap. Jadi, saya sudah 40 tahun di PBNU, mulai dari di lembaga sampai di badan otonom. Saya dua periode menjadi salah satu ketua PBNU, terus ke Sekjen," ujar Gus Ipul.
Pernyataan Gus Ipul ini menjadi sinyal penting bagi peta politik internal NU. Sebagai organisasi massa Islam terbesar, PBNU memiliki pengaruh besar tidak hanya dalam ranah keagamaan, tetapi juga sosial dan politik. Posisi dalam kepengurusan sering kali menjadi indikator arah kebijakan organisasi, termasuk hubungan dengan pemerintah dan partai politik.
Bagi publik Indonesia, khususnya investor dan profesional, dinamika ini patut dicermati karena NU memiliki jaringan ekonomi yang luas, mulai dari koperasi, lembaga pendidikan, hingga badan usaha. Stabilitas kepengurusan PBNU dapat memengaruhi iklim investasi di sektor-sektor yang berbasis komunitas, seperti keuangan mikro dan agribisnis. Selain itu, kebijakan yang diambil PBNU sering menjadi acuan bagi organisasi masyarakat lainnya.
Sejauh ini, belum ada keputusan resmi mengenai siapa saja yang akan mengisi kursi kepengurusan. Proses masih berjalan dan formatur diberi waktu satu bulan sejak ketua umum terpilih. Publik menanti apakah komposisi nanti akan mencerminkan kesinambungan atau justru pembaruan. Yang jelas, pernyataan Gus Ipul menegaskan bahwa ia siap berkontribusi di mana pun dibutuhkan.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana Rais Aam dan Gus Kikin meramu tim yang mampu menjawab tantangan zaman, mulai dari digitalisasi hingga pemberdayaan ekonomi umat. Apakah formasi yang terbentuk nanti akan mengakomodasi figur-figur senior seperti Gus Ipul, atau memberi ruang lebih besar bagi generasi muda? Jawabannya akan segera terlihat dalam beberapa pekan mendatang.



