Ketika Ibu Jatuh dari Gunung: Kisah yang Mengubah Cara Saya Memandang Luka Batin
Baca dalam 60 detik
- Seorang penulis asal Irlandia mengalami kehancuran hidup setelah putus cinta, tetapi insiden ibunya terjatuh dari gunung Carrauntoohil justru menjadi titik balik pemulihan mentalnya.
- Peristiwa traumatis di pegunungan itu memaksa ia melihat bahwa penderitaannya selama ini tidak sebanding dengan ancaman kehilangan nyawa orang tercinta.
- Kisah ini menyoroti pentingnya dukungan sosial dan alam terbuka dalam proses penyembuhan psikologis, relevan dengan meningkatnya kasus kesehatan mental di Indonesia.

Seorang perempuan asal Irlandia, Louise O’Neill, mengungkapkan bahwa momen paling mengerikan dalam hidupnya—saat melihat ibunya terjatuh dari tebing gunung Carrauntoohil—justru menjadi awal kebangkitan dirinya dari keterpurukan emosional yang panjang. Peristiwa itu terjadi pada September 2023, ketika keluarganya memutuskan mendaki gunung tertinggi di Irlandia untuk merayakan ulang tahun ayahnya yang ke-63.
Sebelumnya, O’Neill tengah dilanda krisis batin setelah hubungan jangka panjangnya berakhir pada Januari tahun yang sama, hanya setengah tahun setelah mereka membeli rumah pertama bersama. Ia yang saat itu mendekati usia 38 tahun merasa masa depan yang ia bayangkan—pernikahan dan anak—runtuh begitu saja. Pukulan demi pukulan datang: adiknya mengumumkan pertunangan, seorang dokter kesuburan menyatakan ia “tidak cocok” untuk pembekuan sel telur, dan ia mulai mengalami serangan panik berkali-kali dalam sehari.
Pekerjaan yang biasanya menjadi pelarian tak lagi mampu menolong. Kata-kata yang biasa mengalir deras untuknya kini macet. O’Neill memutuskan mengambil cuti panjang dari pekerjaannya sebagai penulis lepas, meski keputusan itu tidak diambil dengan mudah. Berbagai terapi ia coba, termasuk retret yoga dan kesehatan selama lima minggu di Thailand. Namun, ia tetap merasa belum “sembuh” dan khawatir akan tenggelam dalam kemarahan seumur hidup.
Pendakian ke Carrauntoohil awalnya hanya dimaksudkan sebagai perayaan ulang tahun sang ayah. O’Neill mengaku lelah dan enggan, bahkan pura-pura tidur di kursi belakang mobil orang tuanya. Ia masih larut dalam kemarahan dan rasa menjadi korban. Namun, di tengah pendakian melalui Devil’s Ladder—jalur berbatu terjal—fokusnya teralihkan. Setelah mencapai puncak dan bersiap turun, ia mendengar jeritan. Ibunya terjatuh, tubuhnya terpental dan membentur batu dengan suara yang mengerikan.
O’Neill dan keluarganya bergegas menuju lokasi. Ayahnya pucat pasi, begitu pula O’Neill, yang mengira ibunya telah meninggal. Namun, sang ibu masih hidup. Meski mengalami luka robek di dahi dan pendarahan hebat, ia sadar dan bisa duduk. Keluarga menunggu berjam-jam untuk evakuasi helikopter, momen yang digambarkan O’Neill sebagai salah satu yang terburuk dalam hidupnya. Ia terus dibayangi kemungkinan ibunya mengalami pendarahan otak atau meninggal di tempat.
Setelah ibunya dilarikan ke rumah sakit dan anggota keluarga lain dipandu turun oleh relawan dari tim penyelamat gunung Kerry, O’Neill merenung. Rasa sakit akibat putus cinta yang sebelumnya terasa sangat penting mendadak mengecil. “Rumah bisa dijual. Hati bisa disembuhkan. Apa yang saya pikir akan menghancurkan saya, ternyata bisa dilewati,” tulisnya. Yang terpenting hanyalah ibunya tetap hidup.
Malam setelah kejadian, O’Neill menatap cermin dan memutuskan melepaskan kesedihannya. Bukan karena luka itu tidak berarti, tetapi karena ia tidak ingin membiarkannya mendominasi cerita hidupnya. Pengalaman di gunung itu memberinya perspektif baru: hidup tidak hancur, hanya perlu dimulai ulang.
“Hari di Carrauntoohil memberi saya perspektif. Itu tidak memperbaiki segalanya; saya masih harus menghadapi puing-puing kehidupan lama. Tapi itu tidak sama dengan kehancuran: saya tidak hancur, saya menyadari. Sebaliknya, saya diberi kesempatan untuk memulai lagi. Saya hanya perlu mengambilnya.”
Kisah O’Neill ini menjadi cermin bagi banyak orang yang bergulat dengan kesehatan mental setelah kehilangan atau kekecewaan besar. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi depresi pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 6,1%, sementara akses layanan kesehatan jiwa masih terbatas. Pengalaman O’Neill menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan paparan alam terbuka sebagai bagian dari proses penyembuhan.
Para psikolog sering menekankan bahwa trauma atau peristiwa near-death dapat memicu post-traumatic growth—perubahan positif dalam cara pandang hidup setelah krisis. Namun, pemulihan tidak instan dan sering memerlukan bantuan profesional. Di Indonesia, layanan konseling dan psikiater masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sehingga banyak orang tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa di tengah budaya yang semakin individualistis, ikatan keluarga dan komunitas tetap menjadi jaring pengaman penting. O’Neill, yang sempat merasa terisolasi dalam kesedihannya, menemukan bahwa kehadiran orang-orang terdekat—meski dalam situasi yang mengerikan—mampu mengubah cara ia memandang luka batinnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana sistem kesehatan mental di Indonesia dapat diperkuat, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat lebih terbuka membicarakan kerentanan emosional tanpa stigma. Seperti yang dialami O’Neill, kadang titik terendah justru menjadi awal dari kehidupan yang lebih besar.



