Dua WNA Diciduk di Bandara Changi Usai Curi Parfum, Satu Pelaku Diringkus 8 Bulan Kemudian
Baca dalam 60 detik
- Polisi Singapura menangkap dua warga asing dalam kasus pencurian parfum terpisah di Bandara Changi, dengan total kerugian mencapai ribuan dolar.
- Seorang pria Australia yang mencuri pada November 2025 baru tertangkap saat transit di Singapura pada Agustus 2026, berkat teknologi kamera pengawas.
- Kasus ini menegaskan komitmen otoritas Changi dalam memberantas kejahatan ritel, sekaligus menjadi peringatan bagi pelaku yang mencoba lolos dari jerat hukum.

Dua pria asing, masing-masing berkewarganegaraan Australia dan Amerika Serikat, harus berhadapan dengan hukum Singapura setelah kedapatan mencuri parfum di area transit Bandara Changi. Yang menarik, salah satu pelaku baru tertangkap delapan bulan setelah aksinya, menunjukkan bahwa penegakan hukum di bandara tersebut tidak mengenal kata kadaluarsa.
Kedua tersangka dijadwalkan menjalani persidangan pada 17 Agustus. Mereka dijerat dengan pasal pencurian dalam bangunan yang ancaman hukumannya mencapai tujuh tahun penjara, denda, atau keduanya. Polisi Singapura mengonfirmasi penangkapan ini dalam pernyataan resmi pada 16 Agustus.
Kronologi pertama bermula pada 19 November 2025, ketika seorang asisten toko di Terminal 2 Bandara Changi melaporkan dua kotak parfum hilang dari rak pajangan. Rekaman kamera pengawas menunjukkan seorang pria Australia berusia 37 tahun mengambil barang tersebut sekitar pukul 16.50 tanpa membayar. Nilai parfum yang digondolnya mencapai sekitar 430 dolar AS. Namun, pelaku sempat meninggalkan Singapura sebelum polisi mengidentifikasinya. Ia akhirnya diringkus pada 4 Agustus 2026 saat singgah di Changi, lebih dari delapan bulan setelah kejadian.
Kasus kedua melibatkan pria Amerika berusia 50 tahun yang beraksi pada 5 Agustus dini hari. Sekitar pukul 01.25, seorang pegawai toko di Terminal 1 melaporkan kehilangan satu kotak parfum. Dari rekaman CCTV, pelaku terlihat mengambil barang senilai lebih dari 310 dolar AS pada pukul 00.40. Beruntung, polisi bergerak cepat dan menangkapnya sebelum pesawat yang akan ditumpanginya lepas landas. Pengembangan penyelidikan mengungkap bahwa pria ini juga mencuri di dua toko lain di area transit, dengan total barang curian mencapai lebih dari 717 dolar AS, termasuk sebuah botol tester parfum senilai 230 dolar AS. Seluruh barang bukti berhasil diamankan.
Asisten Komisaris Polisi M. Malathi menegaskan bahwa pihaknya serius menangani kasus pencurian di toko. Ia menggarisbawahi bahwa kemajuan teknologi kamera pengawas dan penggunaannya yang meluas oleh para peritel telah meningkatkan deteksi kejahatan secara signifikan. "Bahkan jika pelaku awalnya lolos, penyelidikan akan tetap mengarah pada identifikasi dan penangkapan mereka," ujarnya. Unit kepolisian bandara juga akan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk mencegah aksi serupa.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa bandara bukanlah tempat yang aman untuk berbuat curang. Bagi para pelancong, terutama dari Indonesia yang kerap transit di Changi, insiden ini menegaskan bahwa pengawasan ketat berlaku di semua area, termasuk area bebas bea. Ke depannya, pertanyaannya bukan hanya soal keamanan, tetapi juga bagaimana teknologi dan kolaborasi dapat terus ditingkatkan untuk menutup celah kejahatan di bandara-bandara internasional.



