HS2 Bangun Padang Rumput Kapur Buatan, Satwa Liar Sudah Berdatangan
Baca dalam 60 detik
- Proyek Western Slopes seluas 127 hektare di sepanjang jalur HS2 mengubah lahan bekas gandum menjadi habitat padang rumput kapur buatan yang kini dihuni satwa langka.
- Pendekatan rewilding dengan menggembalakan sapi dan mendaur ulang kapur sisa pengeboran terowongan berhasil menekan emisi karbon serta memulihkan keanekaragaman hayati.
- Pembukaan sebagian jalur bagi publik dalam 18 bulan ke depan akan menguji keseimbangan antara konservasi dan akses wisata alam.

Proyek Western Slopes, kawasan padang rumput kapur buatan seluas 127 hektare di sepanjang jalur kereta cepat HS2 di Inggris, telah menarik berbagai spesies satwa liar hanya dalam empat tahun sejak dimulainya penataan lahan. Kawasan yang terletak di atas Terowongan Chilterns, Hertfordshire, ini direncanakan dibuka untuk umum tahun depan, meskipun konstruksi jalur kereta masih berlangsung.
Lahan yang dahulu berupa hamparan ladang gandum monokultur itu kini menjelma menjadi salah satu proyek penciptaan habitat terbesar di Inggris tenggara. Beragam jenis kupu-kupu, capung, burung, hingga mamalia kecil seperti vole air dan landak telah tercatat menghuni area yang sebelumnya nyaris tanpa keanekaragaman hayati. Spesies langka seperti semanggi landak yang terakhir terlihat di Hertfordshire pada 1878 juga kembali ditemukan.
Transformasi ini bermula dari ide sederhana Matt Hobbs, ekolog utama di Jacobs, yang melihat tumpukan kapur sisa pengeboran terowongan sebagai peluang. Alih-alih mengangkut material ke tempat lain, ia mengusulkan agar kapur tersebut dibentuk menjadi lanskap perbukitan bergelombang yang meniru padang rumput kapur alami. Padang rumput jenis ini dikenal kaya akan flora dan fauna karena tanahnya tipis, miskin nutrisi, dan bersifat basa, sehingga mendukung pertumbuhan berbagai spesies tumbuhan dan invertebrata langka.
Pendekatan ini tidak hanya menghemat biaya restorasi lahan, tetapi juga memangkas emisi karbon dari transportasi material dan meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon tanah. Menurut perhitungan HS2, padang rumput yang dikelola dengan penggembalaan dapat menyerap karbon jauh lebih efektif dibandingkan lahan pertanian yang dibajak secara berkala. Hobbs menuturkan bahwa proyek ini unik karena seluruh lanskap dirancang berdasarkan pemanfaatan kembali material galian, tanpa mengangkut tanah keluar lokasi.
Untuk mempercepat proses biologis, tim ekologi memasang empat jembatan sapi yang memungkinkan ternak berkeliaran bebas di empat zona berbeda. Teknik ini terinspirasi dari kawasan rewilding Knepp di West Sussex, yang terkenal berhasil memulihkan ekosistem melalui gangguan alami dari hewan besar. Luke Craner, pengawas lanskap senior dari kontraktor Align, menyatakan bahwa penggembalaan sejak dini akan memicu siklus nutrisi dan membantu penyebaran benih secara alami. Ia juga mencatat munculnya pohon hawthorn dan oak muda yang tumbuh liar, pertanda regenerasi alami berjalan baik.
“Kami ingin menerapkan teknik rewilding seperti di Knepp, di mana sapi dapat bergerak bebas—ini sangat baik untuk kesehatan tanah, karbon tanah, dan kumbang kotoran,” ujar Hobbs.
Ke depan, pengelola berencana menyebarkan jerami hijau dari padang rumput kapur setempat untuk memperkaya populasi invertebrata. Ketika koloni semut berkembang, kupu-kupu langka seperti Adonis, chalkhill, dan small blue diperkirakan akan datang karena spesies ini bergantung pada semut dalam siklus hidupnya. Selain itu, sebuah rak mamalia telah dibangun di bawah gorong-gorong lintasan kereta untuk memungkinkan badger, stoat, dan mamalia lain menyeberang dengan aman.
Di bagian hilir, sekitar lima hektare lahan basah baru telah tercipta di tepi Sungai Colne. Kolam-kolam tersebut dengan cepat ditumbuhi tanaman rawa seperti club-rush, water mint, dan sneezewort, serta menjadi tempat berkembang biak burung reed warbler dan capung lesser emperor. Craner mengungkapkan populasi kingfisher meluas dan vole air yang populasinya menurun drastis akibat kehilangan habitat langsung menempati area baru tersebut.
Meski sebagian jalur pejalan kaki akan dibuka dalam 18 bulan mendatang, zona barat kawasan akan tetap ditutup untuk umum guna melindungi burung-burung yang bersarang di tanah, seperti skylark dan little ringed plover. Fase konstruksi jalur dan elektrifikasi berikutnya diperkirakan membutuhkan jejak lahan lebih kecil, sehingga area konservasi dapat diperluas.
Bagi Indonesia, proyek ini menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana infrastruktur besar dapat dirancang sejak awal untuk memberi manfaat ekologis, bukan sekadar meminimalkan kerusakan. Dengan banyaknya proyek strategis nasional seperti kereta cepat Jakarta-Bandung dan pembangunan ibu kota baru, pendekatan serupa—memanfaatkan material galian untuk restorasi habitat dan melibatkan penggembalaan alami—dapat menjadi model yang layak dipertimbangkan. Pertanyaannya, apakah pengambil kebijakan di tanah air siap mengadopsi prinsip rewilding dalam perencanaan infrastruktur, atau tetap terjebak pada pola pembangunan yang mengorbankan keanekaragaman hayati?



