Studi Terbaru: Serangga Bukan Sekadar Pakan, Penopang Ekosistem yang Terabaikan
Baca dalam 60 detik
- Riset di Nature Reviews Biodiversity mengungkap peran serangga sebagai penyedia perlindungan, sanitasi, dan tempat berlindung bagi vertebrata.
- Kontribusi serangga terhadap siklus karbon dan regenerasi hutan menempatkan konservasi mereka sebagai kunci ketahanan ekosistem.
- Peneliti memperingatkan bahwa perubahan tata guna lahan mengancam hubungan ekologis yang jarang terdokumentasi, dengan dampak sulit diprediksi.

Sebuah kajian ilmiah yang diterbitkan dalam Nature Reviews Biodiversity pada Rabu mengungkap bahwa peran serangga jauh melampaui fungsi sebagai sumber pakan. Penelitian tersebut mendokumentasikan puluhan interaksi ekologis yang jarang disorot, mulai dari penyediaan tempat berlindung hingga layanan sanitasi yang menopang kehidupan vertebrata di seluruh dunia.
Studi yang dipimpin oleh Eliza Grames, asisten profesor ilmu biologi di Binghamton University, State University of New York, menegaskan bahwa hampir tiga perempat vertebrata darat dan air tawar bergantung pada invertebrata sebagai makanan. Namun, hubungan tersebut tidak berhenti pada rantai predator-mangsa. Serangga, yang diperkirakan berjumlah antara 14 juta hingga 30 juta spesies, memainkan peran struktural yang membuat ekosistem tetap berfungsi.
Beberapa temuan paling mencolok melibatkan perilaku vertebrata yang memanfaatkan serangga secara aktif. Simpanse, misalnya, tercatat mengoleskan serangga pada luka terbuka untuk pengobatan. Lebih dari 200 spesies burung menggunakan semut untuk membersihkan parasit atau merawat bulu. Burung lain membangun sarang di dekat tawon atau serangga penyengat, kemungkinan besar untuk mendapatkan perlindungan dari predator.
Serangga juga berfungsi sebagai arsitek hunian. Burung, reptil, dan mamalia memanfaatkan gundukan rayap serta sarang semut yang menawarkan suhu dan kelembapan stabil. Kelelawar bertelinga bulat berleher putih, contohnya, menggali rongga di gundukan rayap untuk dijadikan tempat bertengger. Sementara itu, kumbang kotoran bertindak sebagai petugas sanitasi dengan menguraikan limbah hewan, membuat kotoran lebih kering dan mengandung oksigen, yang pada gilirannya menekan kelangsungan hidup parasit. Ngengat yang hidup di sarang burung tertentu memakan feses, bulu, dan serpihan organik lainnya.
Hubungan mutualistik juga terjadi. Kungkang bergantung pada ngengat yang menempelkan nitrogen di bulu mereka, merangsang pertumbuhan alga yang kemudian dimakan kungkang. Sebagai imbalan, kungkang turun dari pohon sebulan sekali untuk buang air besar di tanah, menyediakan substrat tempat ngengat bertelur. Pola semacam ini menunjukkan bahwa serangga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan vertebrata selama jutaan tahun, dengan bukti fosil yang menunjukkan kumbang memakan bulu di sarang dinosaurus pada periode Kapur, sekitar 145โ66 juta tahun lalu.
Grames menyebut temuan ini sebagai "panggilan bangun bagi siapa pun yang peduli pada krisis keanekaragaman hayati". Ia menekankan bahwa melindungi serangga akan menguntungkan semua spesies yang bergantung padanya. "Serangga jauh lebih dari sekadar makanan bagi vertebrata seperti burung dan kelelawar โ mereka menciptakan dan memelihara habitat, memberikan perlindungan, membantu mengurangi penyakit, dan menghilangkan limbah. Mereka benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa di dunia alami," ujarnya.
Lebih jauh, Grames menyoroti peran serangga dalam mengatasi krisis iklim. "Sekitar 12% dari stok karbon hutan global adalah serasah daun dan kayu mati, dan serangga bertanggung jawab menguraikan sekitar 30% di antaranya. Jadi meskipun serangga berukuran kecil, aktivitas mereka memengaruhi siklus karbon global. Serangga juga membantu regenerasi hutan dengan menyebarkan biji ke area yang telah kehilangan penyebar biji besar. Penyerbukan dan penyebaran biji, keduanya dilakukan oleh serangga, adalah dua penghambat terbesar dalam regenerasi hutan," jelasnya.
Meski demikian, konsekuensi bagi vertebrata masih sulit diprediksi karena minimnya penelitian tentang interaksi serangga-vertebrata. Studi tersebut mencatat bahwa "kurangnya deskripsi sistematis tentang interaksi trofik dan non-trofik, yang diperparah oleh penurunan penelitian sejarah alam", menyulitkan pemahaman tentang bagaimana perubahan biodiversitas serangga memengaruhi spesies lain. Chris Elphick, profesor ekologi dan biologi evolusi di University of Connecticut sekaligus salah satu penulis, menegaskan bahwa memahami peran beragam serangga sangat penting untuk merancang strategi konservasi yang efektif. "Jika Anda ingin memiliki vertebrata, maka Anda harus memikirkan konservasi serangga, dan kita belum melakukannya cukup banyak," katanya.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara megabiodiversitas dengan hutan tropis luas dan lahan gambut yang kaya serangga, perubahan tata guna lahan โ terutama alih fungsi hutan untuk perkebunan dan pertambangan โ berpotensi mengganggu layanan ekosistem yang selama ini gratis. Penyerbukan tanaman pangan, penguraian limbah organik, dan pengendalian hama alami adalah beberapa jasa yang bisa terganggu jika komunitas serangga terdegradasi. Kebijakan konservasi yang selama ini berfokus pada spesies karismatik seperti harimau dan orangutan perlu memperhitungkan serangga sebagai fondasi ekosistem.
Pertanyaannya, apakah pemerintah dan pelaku industri siap menjadikan konservasi serangga sebagai prioritas? Tanpa langkah nyata, peringatan para peneliti ini bisa menjadi catatan sejarah tentang hilangnya penopang tak terlihat yang selama ini menjaga keseimbangan alam.



