Mantan Pejabat Fed Dijatuhi 38 Bulan Penjara: Kisah Cinta, Uang, dan Rahasia Bank Sentral AS
Baca dalam 60 detik
- John Rogers, eks ekonom senior Federal Reserve, divonis 38 bulan penjara karena berbohong kepada penyelidik terkait hubungannya dengan agen China.
- Ia terjerat setelah terlibat asmara daring dengan perempuan Shanghai yang diduga dimanfaatkan intelijen, serta diancam pemerasan foto telanjang.
- Kasus ini membuka celah keamanan internal The Fed dan menjadi peringatan bagi bank sentral lain, termasuk Indonesia, soal risiko insider threat.

John Rogers, mantan penasihat senior di Divisi Keuangan Internasional Federal Reserve, dijatuhi hukuman 38 bulan penjara federal pada Juli 2026. Vonis itu menutup drama mata-mata yang menjeratnya setelah lebih dari satu dekade berhubungan dengan seorang pria yang diyakini agen intelijen China, serta terlibat asmara daring yang berujung pada pemerasan. Juri sebelumnya menyatakan Rogers bersalah atas satu tuduhan memberikan pernyataan palsu kepada penyelidik, namun membebaskannya dari tuduhan konspirasi spionase ekonomi.
Penangkapan Rogers pada Januari 2025 di depan halte bus dekat rumahnya di Vienna, Virginia, menjadi puncak penyelidikan yang melibatkan FBI dan Kantor Inspektur Jenderal The Fed. Saat itu ia hendak berangkat ke China bersama istri dan putrinya yang masih balita. Pria berusia 65 tahun itu dituduh membocorkan informasi sensitif tentang kebijakan moneter AS kepada pihak yang diidentifikasi sebagai spionase China.
Kasus ini mencuat bukan karena kebocoran data rahasia yang spektakuler, melainkan karena kelemahan manusiawi seorang pejabat tinggi. Rogers, yang berpisah dari istri pertamanya dan tinggal sendiri, mengaku kesepian. Ia aktif di situs kencan AsianDating.com dan mengirim foto telanjang kepada kenalan daring. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Hummin Lee—yang menurut pemerintah AS bernama asli Jin Chuan—seorang pria yang pertama kali mendekatinya di sebuah konferensi di Shanghai pada 2013.
Lee, yang mengaku sebagai mahasiswa doktoral, perlahan menjadi sosok sentral dalam hidup Rogers. Ia mengirim hadiah, termasuk buku The Art of War, dan menawarkan honor untuk mengajar di universitas China. Ketika Rogers jatuh cinta pada Yu Liu, perempuan Shanghai yang ia kenal lewat situs kencan, Lee membantu segala hal: mengurus visa, membiayai perjalanan, bahkan menyaksikan pernikahan mereka di Hong Kong pada 2018. "Saya berutang segalanya padanya. Saya mencintainya seperti saudara," ujar Rogers kepada penyelidik, seperti dikutip dalam persidangan.
Namun di balik bantuan itu, Lee berulang kali meminta informasi tentang The Fed. Rogers bersikeras tidak pernah memberikan rahasia. Namun jaksa menuduhnya mengubah klasifikasi dokumen dari "Nonconfidential/Internal FR" menjadi "Nonconfidential/External" sebelum mengirimkannya ke Lee. Pengacara Rogers berargumen kliennya berwenang mengubah label karena telah menghapus bagian sensitif. Perdebatan soal tingkat kerahasiaan dokumen menjadi titik krusial di persidangan.
"Fakta-fakta kasus ini seperti novel mata-mata. Ada seks, uang, manipulasi, pertemuan rahasia dengan tokoh gelap di China, identitas palsu, kebohongan, dan tipu daya. Tapi ini kehidupan nyata," kata jaksa federal Nicholas Hunter di depan juri.
Kehidupan pribadi Rogers kian rumit. Pernikahannya dengan Yu Liu retak, terlibat pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam kesepian, ia kembali mencari hiburan di internet dan terjebak pemerasan setelah mengirim foto telanjang melalui ponsel dinas The Fed. Pelaku mengancam menyebarkan foto itu ke Wakil Ketua The Fed saat itu, Richard Clarida, dan menculik putrinya. Rogers lalu melapor ke atasannya pada 2020, yang membawanya ke Kantor Inspektur Jenderal.
Dalam interogasi yang direkam, Rogers awalnya membantah pernah mengirim informasi terbatas. Ia kemudian mengundurkan diri dari The Fed pada 2021. Setelah itu ia mengajar di Universitas Fudan, tempat ia pertama bertemu Lee. Ia mengira kasusnya selesai. Ternyata The Fed meneruskan perkara ke FBI, dan lebih dari tiga tahun kemudian ia ditangkap.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan selama ini mengandalkan kerahasiaan data kebijakan moneter dan pengawasan perbankan. Ancaman insider threat—baik karena tekanan ekonomi, hubungan pribadi, maupun pemerasan—bisa menjadi celah yang sama. Penguatan protokol keamanan internal, audit berkala, dan pelatihan kesadaran risiko bagi pegawai bank sentral menjadi relevan. Selain itu, semakin intensnya perang intelijen ekonomi antara AS dan China dapat berdampak pada stabilitas arus modal dan nilai tukar di kawasan, termasuk rupiah.
Inspektur Jenderal The Fed dalam laporan Juli 2026 mengakui adanya kelemahan dalam mengidentifikasi aset kritis dan manajemen risiko orang dalam. Sebuah laporan lanjutan pada September 2026 mengungkap seorang pegawai The Fed mentransfer informasi sensitif sebelum pensiun. CIA veteran Ralph Goff menilai kasus Rogers sebagai kemenangan AS, tetapi memperingatkan bahwa China masih berupaya menembus The Fed. "Mereka pasti masih mencoba," ujarnya. Tiga minggu setelah pernyataan itu, FBI dan Departemen Kehakiman mengumumkan pembongkaran operasi peretasan besar-besaran yang didukung negara China, menyasar institusi sensitif AS termasuk The Fed.
Rogers sendiri mengakui Lee adalah mata-mata. "Saya tertipu. Dia teman saya," katanya. Pertanyaannya kini: seberapa rentan institusi keuangan global—termasuk di Indonesia—terhadap pendekatan personal yang memadukan cinta, utang budi, dan ancaman?



