VLT Chile Kini Operasikan Tujuh Laser, Ciptakan Bintang Palsu demi Citra Kosmos Lebih Tajam
Baca dalam 60 detik
- Observatorium Very Large Telescope (VLT) di Chile resmi mengoperasikan tujuh laser yang ditembakkan ke atmosfer untuk menciptakan bintang buatan sebagai referensi kalibrasi.
- Teknologi adaptive optics memungkinkan empat teleskop utama VLT bergabung menjadi satu teleskop virtual raksasa, meningkatkan ketajaman citra objek langit secara signifikan.
- Inovasi ini membuka peluang kolaborasi riset astronomi bagi Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya penguasaan teknologi optik adaptif di kawasan.

Observatorium Very Large Telescope (VLT) di Gurun Atacama, Chile, untuk pertama kalinya beroperasi dengan tujuh laser yang ditembakkan ke atmosfer. Fasilitas milik European Southern Observatory (ESO) ini menyelesaikan pemasangan laser terakhir pada akhir 2025, menandai babak baru dalam upaya astronom memperoleh citra kosmos yang lebih tajam dari permukaan Bumi.
Laser tersebut bukan sekadar pertunjukan cahaya. Tujuannya menciptakan "bintang buatan" di lapisan atmosfer yang kaya natrium, sekitar 90 kilometer di atas permukaan laut. Bintang palsu ini menjadi titik referensi bagi sistem adaptive optics, teknologi yang mengoreksi distorsi cahaya akibat turbulensi atmosfer. Tanpa koreksi itu, gambar bintang dan galaksi akan tampak kabur dan bergeser.
"Atmosfer melindungi kita, tetapi bagi astronom justru menyulitkan karena mengacak ketajaman cahaya dari bintang dan galaksi," ujar Amelia Bayo, ilmuwan proyek ESO, seperti dikutip dari wawancara dengan BBC. "Jika tidak dikompensasi, bintang akan melompat-lompat di detektor dan citra akhirnya buram."
Sejarah teknologi ini berakar pada era Perang Dingin, ketika militer Amerika Serikat mengembangkan pelacakan satelit Soviet. Astronom kemudian mengadopsi pendekatan serupa untuk meningkatkan observasi dari Bumi. Kini, VLT menjadi salah satu fasilitas paling produktif abad ke-21, dengan kontribusi pada citra pertama eksoplanet dan pengamatan bintang yang mengorbit lubang hitam supermasif di pusat Galaksi Bima Sakti.
Bayo menjelaskan bahwa sistem adaptive optics bekerja dengan cermin deformabel yang mengandung material piezoelektrik, mampu berubah bentuk dalam kecepatan ekstrem. Cermin itu melayang dalam medan magnet. "Sederhananya, ini seperti mendengarkan lagu: semakin keras dan jernih, semakin mudah mengenali melodinya. Bintang terang memberikan informasi lebih banyak untuk koreksi," tambahnya.
Sejak 2026, empat teleskop VLT dapat menyatukan kekuatan—seperti robot Power Rangers versi astronomi—untuk menangkap detail berkali-kali lebih tajam daripada satu teleskop saja. Masing-masing laser 22 watt, sekitar 4.000 kali batas aman laser pointer, ditembakkan dalam berkas selebar 30 sentimeter. Inovasi ini memungkinkan koreksi gangguan atmosfer pada bidang pandang yang lebih luas.
"Pesawat bisa melintas di atas observatorium, tetapi kami punya mekanisme keselamatan. Jika pesawat mendekati area pengamatan, laser otomatis mati," jelas Itziar de Gregorio Monsalvo, perwakilan ESO di Chile.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan sekadar berita teknologi. Penguasaan adaptive optics dan laser guide star menjadi modal penting bagi negara yang tengah mengembangkan infrastruktur astronomi, seperti Observatorium Nasional Timau di Kupang. Kolaborasi riset dengan ESO dapat membuka akses peneliti Indonesia ke instrumen kelas dunia, sekaligus mempercepat transfer pengetahuan dalam optik presisi dan instrumentasi.
Selain itu, teknologi serupa berpotensi dimanfaatkan untuk pemantauan atmosfer, komunikasi optik, dan penginderaan jauh. Namun, tantangan utama bukan hanya pengadaan perangkat, melainkan membangun sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan memelihara sistem kompleks tersebut. Tanpa itu, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam lompatan astronomi global.
Ke depan, VLT akan menjadi bagian dari instrumen generasi baru seperti Extremely Large Telescope (ELT) yang juga dikembangkan ESO. Akankah Indonesia mengambil peran lebih aktif dalam konsorsium riset internasional, atau tetap bergantung pada data pihak lain? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan posisi negara dalam peta sains dunia satu dekade mendatang.



