Gempa NTT: 1.179 Warga Sikka Mengungsi di Stadion Samador, Bantuan Mulai Disalurkan
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari seribu warga Sikka berlindung di Stadion Gelora Samador pasca-gempa, dengan jumlah pengungsi yang masih terus bertambah.
- Pemerintah daerah memusatkan evakuasi di stadion, sementara pendataan korban dan kerusakan masih berlangsung di wilayah terpencil.
- Kebutuhan mendesak seperti makanan, air bersih, dan tenda menjadi prioritas penanganan darurat dalam beberapa hari ke depan.

Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) memaksa 1.179 warga Kabupaten Sikka meninggalkan rumah dan mengungsi ke Stadion Gelora Samador, Maumere. Angka tersebut tercatat hingga Sabtu malam, dan diperkirakan akan terus bertambah seiring proses pendataan yang masih berjalan di sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan.
Para pengungsi mayoritas berasal dari kawasan pesisir Kota Maumere, termasuk Kelurahan Kota Uneng, Wuring, dan Wolomarang. Sebelum dipindahkan ke posko utama, sebagian warga sempat berlindung di halaman Kantor Bupati Sikka. Mereka membawa anak-anak, lansia, dan barang seadanya setelah meninggalkan rumah sejak pagi hari.
Salah seorang pengungsi, Cristina Ida, mengaku bersama sepuluh anggota keluarganya langsung berlari keluar rumah saat gempa terjadi. "Kami hanya lari, pakaian di badan dari pagi," ujarnya. Ia mengaku belum sempat makan karena takut kembali ke rumah untuk memasak. "Kami minta pemerintah tolong perhatikan kami yang dari tadi pagi sampai sekarang belum makan," tambahnya.
Bupati Sikka menyatakan pemerintah daerah telah mendirikan posko pengungsian utama di stadion untuk menampung warga yang mengungsi secara mandiri. "Untuk penanganan masyarakat, sekarang kita sudah mendirikan posko pengungsian. Sudah satu posko utama di stadion," katanya. Jumlah pengungsi di posko utama sebelumnya dilaporkan mencapai sekitar 2.000 orang, namun data tersebut masih terus diperbarui karena komunikasi dengan wilayah kepulauan seperti Kecamatan Palue dan Waiblama masih terbatas.
Selain pengungsian, gempa juga merusak sejumlah bangunan, termasuk ruang tunggu Pelabuhan L. Say Maumere. Empat orang dilaporkan meninggal dunia, dan pemerintah daerah masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah korban serta kerusakan. Distribusi makanan, air bersih, dan kebutuhan sanitasi terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak.
Bupati mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pemerintah berjanji terus menjaga distribusi logistik dan memastikan kenyamanan pengungsi. "Kita tetap memberikan kenyamanan. Kita pastikan untuk terus distribusi makanannya terus kita jaga, sanitasi air dan lain sebagainya kita jaga," tegasnya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang belum terdata. Akankah pemerintah mampu mempercepat evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar sebelum bantuan dari luar daerah tiba? Pertanyaan ini menjadi ujian bagi ketanggapan penanganan bencana di NTT.



