Migrasi Ngengat Bogong Kembali Membludak, Sinyal Pemulihan Spesies yang Nyaris Punah
Baca dalam 60 detik
- Populasi ngengat bogong di Australia menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah anjlok hingga 99,5% pada 2017-2019 akibat kekeringan ekstrem.
- Cuaca basah dan sejuk serta angin kencang mendorong migrasi ngengat ke kota-kota besar seperti Sydney dan Canberra, memicu lonjakan laporan warga.
- Para ahli mengimbau masyarakat tidak menggunakan insektisida dan membantu ngengat keluar dengan cara aman, karena setiap individu berharga bagi kelangsungan spesies.

Setelah bertahun-tahun nyaris tak terlihat, ngengat bogong (Agrotis infusa) kembali memenuhi langit Australia timur dalam jumlah besar. Serangga endemik yang terancam punah ini memulai migrasi tahunan dari tempat berkembang biaknya di Queensland selatan, New South Wales, ACT, Victoria barat, hingga Australia Selatan menuju gua-gua sejuk di Pegunungan Alpen Australia, menempuh jarak hingga 1.000 kilometer.
Laporan ke program sains warga Moth Tracker yang dikelola Zoos Victoria pada September tahun ini saja telah melampaui total laporan sepanjang 2025. Lonjakan ini memicu harapan bahwa populasi ngengat bogong sedang menuju pemulihan setelah mengalami keruntuhan dramatis. Antara 2017 dan 2019, jumlah mereka merosot hingga 99,5%—dari perkiraan 4 miliar yang tiba di Alpen setiap tahun menjadi hanya sebagian kecil. Kekeringan parah di area perkembangbiakan diduga menjadi penyebab utama.
Dr Marissa Parrott, ahli biologi reproduksi dari Zoos Victoria, menjelaskan bahwa ngengat betina meletakkan telur di tanah, lalu generasi berikutnya bermigrasi ke gua-gua pegunungan tempat mereka belum pernah mengunjungi sebelumnya. "Mereka berkembang biak lalu bermigrasi dari tempat perkembangbiakan," ujarnya. Fenomena ini unik karena ngengat muda melakukan perjalanan pertama tanpa bimbingan orang tua, mengandalkan navigasi langit—termasuk Bima Sakti—dan medan magnet bumi. Mereka adalah satu-satunya invertebrata yang diketahui menggunakan navigasi selestial.
Cuaca basah dan sejuk dalam dua tahun terakhir disebut menjadi pemicu utama ledakan populasi. Angin kencang juga menggeser rute migrasi dari jalur pedalaman menuju kota-kota besar seperti Sydney dan Canberra. Linnea Emneby, manajer proyek Bogong Watch yang dijalankan Invertebrates Australia, menilai meski belum ada estimasi pasti, "tampaknya mereka sedang menuju pemulihan." Ia mengingatkan bahwa kemunculan massal ini sejatinya bukan hal aneh. "Orang-orang cepat lupa apa yang normal dan menganggap ini kejadian ekstrem, padahal ini bagian dari cara Australia," katanya.
Catatan sejarah memperkuat pernyataan itu. Artikel surat kabar awal hingga pertengahan 1900-an melaporkan cahaya mercusuar yang terhalang dan kereta api yang tertunda karena ribuan ngengat bogong yang tubuhnya berminyak hancur di rel. Pada tahun 2000, serangan ngengat bahkan sempat mengganggu upacara penutupan Olimpiade Sydney. Namun, kemunculan kembali tahun ini tetap menjadi sinyal positif di tengah tekanan perubahan iklim. Emneby menyoroti bahwa spesies ini memang mengalami siklus boom and bust, tetapi perubahan iklim memperburuknya dengan musim kemarau panjang dan kebakaran hutan yang semakin sering. "Ketidakhadiran mereka dalam beberapa tahun terakhir, sejauh yang kami tahu, bukanlah hal normal," tegasnya.
Bagi warga yang menemukan ngengat bogong di rumah, para ahli mengimbau untuk tidak menggunakan insektisida. Langkah pertama adalah mematikan lampu luar yang tidak perlu agar ngengat tidak tertarik ke bangunan. "Jika bisa, tutup ventilasi, dan kibaskan cucian sebelum dibawa masuk," saran Emneby. Untuk ngengat yang sudah terlanjur masuk, matikan lampu dalam ruangan dan nyalakan satu lampu di luar untuk memancing mereka keluar. "Jika mereka dekat jendela, lambaikan tangan untuk menggiring mereka ke jendela yang terbuka. Mereka cukup mudah kaget," tambahnya. Metode lain adalah menutup ngengat dengan gelas atau wadah, lalu menyelipkan kertas di bawahnya untuk memindahkan mereka ke luar dengan aman.
"Setiap ngengat itu berharga, dan kami ingin membantu mereka melanjutkan migrasi," ujar Dr Marissa Parrott.
Meski demikian, pemulihan populasi ini belum bisa dikonfirmasi secara ilmiah. Data dari program sains warga seperti Moth Tracker dan Bogong Watch menjadi andalan untuk memantau pergerakan spesies. Parrott menambahkan bahwa laporan terverifikasi telah masuk dari hampir semua negara bagian dan teritori, kecuali Northern Territory. Ia juga mencatat bahwa migrasi berlangsung dalam gelombang dan bisa terhenti sementara saat badai atau hujan karena ngengat mencari perlindungan. "Kami belum tahu persis bagaimana mereka mendeteksi cuaca—masih banyak yang perlu kami pelajari," ujarnya.
Fenomena ngengat bogong ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dapat memicu fluktuasi ekstrem pada populasi serangga. Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman serangga tinggi namun minim program pemantauan jangka panjang, kisah bogong bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya data sains warga dan perlindungan habitat. Tanpa pemantauan serupa, spesies endemik di Nusantara berisiko mengalami penurunan tanpa disadari. Akankah Australia menjadikan momentum ini untuk memperkuat konservasi serangga, dan akankah negara lain mengikuti jejak pemantauan partisipatif seperti Moth Tracker?



