The Hundred di Persimpangan: Penjualan Tiket Anjlok 5%, Bisakah Format Baru Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- Penjualan tiket The Hundred 2026 turun 5% menjadi 550.000, menyusul perubahan kepemilikan dan rebranding tim.
- Meski jumlah penonton menurun, pendapatan siaran dan keterlibatan digital justru meningkat, menunjukkan pergeseran basis penggemar.
- Kepemilikan privat yang baru diharapkan memperkuat loyalitas penggemar, tetapi tantangan ekonomi dan adaptasi merek masih membayangi.

Turnamen kriket The Hundred memasuki babak final di tengah tanda tanya besar: untuk pertama kalinya sejak delapan tim dijual kepada investor swasta, jumlah penonton yang datang ke stadion justru menyusut. Penjualan tiket musim ini tercatat 550.000, turun lebih dari 5% dibanding tahun lalu yang mencapai 580.000. Penurunan ini menjadi ujian bagi format kompetisi yang digadang-gadang sebagai masa depan kriket Inggris.
Fenomena ini terjadi di tengah suksesnya penjualan saham tim yang meraup dana fantastis, yaitu ยฃ975 juta. Namun, di balik suntikan dana segar tersebut, antusiasme penonton di tribun tidak serta-merta ikut melonjak. Direktur turnamen Vikram Banerjee menyebut kualitas pertandingan musim ini "hanya kalah dari IPL" dan mengklaim ini sebagai edisi terbaik, tetapi data kehadiran penonton berkata lain.
Penurunan ini tidak merata di semua venue. Stadion yang timnya mengalami perubahan total, seperti Headingley dan Old Trafford, mencatat penurunan signifikan. Lancashire, misalnya, kehilangan 7.000 penonton, meski pendapatan bersihnya justru naik hampir ยฃ50.000. Sementara itu, Sophia Gardens di Cardiff justru mencatat rekor penonton untuk tim pria dan wanita, dengan 11.796 penonton saat melawan MI London. Derby London antara Spirit dan MI London juga menarik 27.721 penonton, rekor untuk babak grup.
Salah satu faktor yang memengaruhi adalah perubahan kepemilikan. Sebelumnya, semua aspek pemasaran dan penjualan tiket dikelola terpusat oleh ECB. Kini, masing-masing pemilik baru bertanggung jawab atas strategi mereka sendiri. Akibatnya, harga tiket bervariasi, mulai dari ยฃ55 di The Oval hingga ยฃ20-ยฃ30 di sebagian besar stadion lain. Harga tiket junior tetap ยฃ5 di semua tempat.
Konteks Indonesia: Meski The Hundred adalah turnamen kriket Inggris, dinamikanya relevan bagi pengamat olahraga dan investor di Indonesia. Model privatisasi tim yang dilakukan ECB bisa menjadi pelajaran bagi pengelolaan liga olahraga di dalam negeri, terutama dalam hal keseimbangan antara komersialisasi dan loyalitas penggemar. Selain itu, meningkatnya minat terhadap kriket di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadikan turnamen ini sebagai barometer tren global olahraga tersebut.
Direktur eksekutif ECB, Richard Gould, mengakui bahwa penurunan ini adalah bagian dari "momen reset" akibat perubahan merek dan kepemilikan. Ia optimistis bahwa dalam jangka panjang, keterikatan penggemar akan semakin kuat karena tim kini dimiliki oleh klub dan investor, bukan lagi oleh ECB secara terpusat. "Kami ingin lebih banyak orang datang ke stadion. Perekonomian memang sedang tidak baik-baik saja, tetapi saya yakin kami berada di posisi yang kuat," ujarnya.
Pertanyaan besarnya adalah apakah The Hundred mampu mempertahankan relevansinya di tengah persaingan dengan liga kriket lain seperti IPL, serta bagaimana strategi pemilik baru dalam menarik penonton. Dengan final yang tinggal menghitung hari, semua mata tertuju pada apakah turnamen ini bisa mengakhiri musim dengan catatan positif, atau justru menjadi awal dari era baru yang penuh ketidakpastian.



