Lamine Yamal Puncaki Daftar Winger Terbaik Dunia, Messi Masih Mengintai di Usia 39
Baca dalam 60 detik
- Planet Football merilis peringkat 10 winger terbaik dunia, dengan Lamine Yamal di posisi teratas, diikuti Michael Olise dan Lionel Messi.
- Dominasi pemain muda dan veteran menunjukkan evolusi peran winger yang kini dituntut produktif mencetak gol dan assist, bukan sekadar melewati lawan.
- Bagi penggemar di Indonesia, daftar ini menjadi cerminan standar tinggi yang harus diikuti pemain sayap Tanah Air jika ingin bersaing di level global.

Lamine Yamal dinobatkan sebagai winger terbaik dunia saat ini dalam daftar yang disusun Planet Football, mengalahkan sejumlah nama mapan seperti Michael Olise dan Lionel Messi. Penilaian ini menegaskan posisi pemain Barcelona tersebut sebagai salah satu talenta paling bersinar di sepak bola modern, meski usianya masih belia.
Daftar tersebut menempatkan Olise di urutan kedua setelah performa impresifnya bersama Bayern Munchen dan Timnas Prancis. Sementara Messi, yang kini berusia 39 tahun dan berkarier di Major League Soccer (MLS), masih diperhitungkan di posisi ketiga. Kehadiran Messi di jajaran elite menunjukkan bahwa kualitas teknis dan visi bermainnya belum pudar oleh usia.
Menariknya, daftar ini didominasi oleh pemain yang mampu beroperasi dari sisi sayap namun memiliki kontribusi gol dan assist melimpah. Yamal, Olise, dan Messi adalah contoh bagaimana winger modern tidak lagi sekadar penggiring bola, melainkan menjadi mesin serangan utama tim.
Dalam beberapa tahun terakhir, peran winger mengalami pergeseran signifikan. Jika dulu tugas utama mereka adalah melewati bek dan mengirim umpan silang, kini mereka dituntut untuk mencetak gol, menciptakan peluang, dan bahkan menjadi penentu hasil pertandingan. Klub-klub besar Eropa seperti Barcelona, Bayern Munchen, PSG, dan Real Madrid menjadi rumah bagi para pemain sayap dengan kualitas kelas dunia.
Yamal, jebolan akademi La Masia, menunjukkan perkembangan pesat. Ia telah mengoleksi banyak penampilan bersama klub dan Timnas Spanyol, membuatnya matang dalam menghadapi tekanan tinggi. Kemampuannya mencetak gol, memberikan assist, menciptakan peluang, dan melewati lawan melalui dribel menjadikannya ancaman serius bagi pertahanan lawan. Performa di level internasional semakin memperkuat reputasinya sebagai bukan sekadar talenta masa depan, melainkan pemain sayap paling berbahaya saat ini.
Di sisi lain, Olise membuktikan bahwa dirinya bukan pelengkap di Bayern Munchen. Meski kehadiran Harry Kane di lini depan kerap mencuri perhatian, Olise tetap produktif dengan gol dan assist. Kreativitasnya dari sisi sayap membuat lini serang Bayern semakin sulit dihentikan. Bahkan, namanya mulai diperhitungkan dalam pembicaraan potensi bersaing di level Ballon d'Or.
"Kemampuan Olise menciptakan momen individu membuatnya layak berada di jajaran elite," tulis Planet Football dalam laporannya.
Sementara itu, Messi tetap menjadi fenomena. Meski tidak lagi bermain di kompetisi Eropa, kualitas teknik dan kemampuannya menciptakan perbedaan masih terlihat saat membela Timnas Argentina. Dribel, visi bermain, umpan, dan penyelesaian akhirnya membuatnya tetap menjadi pusat perhatian. Usianya memang tidak muda, tetapi kualitas Messi mampu bersaing dengan pemain yang jauh lebih muda.
Ousmane Dembele menempati posisi keempat berkat periode impresifnya bersama PSG. Kecepatan, kemampuan menggiring bola, dan fleksibilitas posisi membuatnya menjadi bagian penting dari serangan PSG. Performa di Liga Champions, termasuk gol-gol penting di fase gugur hingga final, menjadi alasan namanya tetap di jajaran teratas. Meski kerap terganggu cedera, kualitas Dembele saat dalam kondisi terbaiknya tidak perlu diragukan.
Raphinha melengkapi lima besar. Winger asal Brasil itu menjadi pemain kunci dalam skema Barcelona di bawah Hansi Flick. Selain kontribusi gol dan assist, intensitas serta kerja kerasnya saat kehilangan bola membantu Barcelona menjalankan permainan dengan tekanan tinggi. Perannya semakin menarik karena beberapa kali dimainkan lebih dekat ke posisi penyerang, yang justru meningkatkan produktivitasnya.
Khvicha Kvaratskhelia menutup enam besar dengan karakter bermain yang berbeda. Winger asal Georgia itu dikenal karena kemampuan individu dan kreativitasnya. Ia tidak selalu bergantung pada statistik gol atau assist untuk menunjukkan pengaruhnya. Kemampuan melakukan dribel, mengecoh lawan, dan menciptakan sesuatu dari situasi sulit membuatnya sangat menarik untuk disaksikan. Di tengah sepak bola modern yang semakin terstruktur, Kvaratskhelia tetap berani mengandalkan improvisasi.
Bagi sepak bola Indonesia, daftar ini menjadi cerminan standar tinggi yang harus dipenuhi pemain sayap Tanah Air. Liga 1 dan Timnas Indonesia memang memiliki sejumlah winger berbakat, tetapi untuk bersaing di level global, mereka perlu meningkatkan konsistensi, produktivitas, dan kemampuan mengambil keputusan di momen krusial. Klub-klub Indonesia juga dituntut mengembangkan pemain muda dengan pendekatan yang lebih holistik, seperti yang dilakukan Barcelona terhadap Yamal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Lamine Yamal mampu mempertahankan posisi puncak dalam jangka panjang, atau akankah muncul winger baru yang menantang dominasinya? Sementara Messi, meski semakin menua, tetap menjadi tolok ukur yang sulit dilewati. Dinamika ini akan terus mewarnai peta persaingan sepak bola dunia, dan Indonesia harus mengambil pelajaran dari evolusi peran winger yang semakin kompleks.



