Enam Bulan Kabur, Kapibara Samba Masih Berkeliaran di Pedesaan Inggris
Baca dalam 60 detik
- Samba, kapibara betina, melarikan diri dari Marwell Zoo di Winchester, Inggris, pada Maret 2026 dan belum tertangkap hingga kini.
- Tim zoo bersama relawan dan operator drone terus memburu, mengandalkan kamera jebakan dan umpan makanan untuk mempersempit lokasi persembunyian.
- Upaya penyelamatan memicu perdebatan tentang kesejahteraan satwa dan pengelolaan spesies eksotis di kebun binatang.

Seekor kapibara bernama Samba masih belum tertangkap setelah enam bulan melarikan diri dari Marwell Zoo di Winchester, Hampshire, Inggris. Satwa pengerat terbesar di dunia itu kabur bersama saudara betinanya, Tango, pada pertengahan Maret 2026. Tango berhasil ditangkap keesokan harinya, tetapi Samba memilih melarikan diri ke lahan basah Sungai Itchen dan hingga kini menghilang.
Pelarian Samba menjadi fenomena media sosial internasional. Dalam hitungan hari, wajahnya menghiasi berbagai platform, memicu gelombang meme dan perhatian publik dari Amerika Serikat hingga Australia. Namun di balik viralnya kisah ini, tim Marwell Zoo menghadapi tekanan besar: mereka harus memastikan keselamatan Samba sekaligus menjawab kritik tentang prosedur pengelolaan satwa.
Menurut Laura Read, CEO Marwell Wildlife, Samba dan Tango tiba di kebun binatang pada 16 Maret 2026 dari Jimmy’s Farm and Wildlife Park di Suffolk. Keduanya ditempatkan di habitat karantina sesuai prosedur standar. Keesokan harinya, saat pemeriksaan rutin, keduanya sudah hilang. “Kami menduga mereka menyelinap melalui celah kecil di gerbang,” ujar Read. Tim kebun binatang segera mengaktifkan protokol darurat, melibatkan drone dari University of Southampton, serta berkoordinasi dengan otoritas setempat.
Pencarian awal difokuskan di area seluas 57 hektare. Tango ditemukan bersembunyi di tumpukan kompos dan berhasil dievakuasi dengan jaring. Samba, yang berukuran sebesar anjing spaniel, dilaporkan terlihat di dekat pub Ship Inn di Owslebury, sekitar 3 kilometer dari kebun binatang. Tim pun mengerahkan kendaraan Land Rover dan meminta izin melintasi lahan pertanian. “Dalam lima menit, seseorang berseragam Marwell akan melintas – jangan tembak,” canda Darren Ives, kepala penjaga satwa.
Read menggelar rapat krisis untuk menilai ancaman terhadap Samba. “Yang paling berbahaya adalah mobil. Dia tidak punya predator alami di sini. Kami tahu dia akan mencari air, dan mereka perenang ulung. Air akan menjadi tempat berlindungnya,” jelasnya. Keputusan untuk mempublikasikan pencarian diambil demi keselamatan Samba. Warga setempat berduyun-duyun membantu, termasuk seorang wanita dengan anjing pelacak terlatih. “Tapi apakah semua aktivitas itu justru menjauhkannya dari jangkauan kami?” Read bertanya-tanya.
Glenn Moores, pemilik Digital Fauna, bergabung setelah melihat pencarian di media sosial. Dengan drone termal, ia memetakan area dan menghemat waktu tim. “Saya biasa menghitung rusa di malam hari, tapi menemukan satu hewan spesifik di lanskap luas itu sangat berbeda,” ujarnya. Moores mengaku menghabiskan sekitar tiga minggu malam untuk mencari Samba. “Semua waktunya diberikan gratis,” kata Read.
Pada akhir Maret, seorang warga melihat Samba berjemur di tepi Sungai Itchen di Twyford, sebelum anjingnya, Growler, mengejar dan memaksa Samba mencebur ke sungai. Rekaman video itu sampai ke Marwell dan mengalihkan fokus pencarian ke perairan. Tim menggunakan paddleboard dan wader, mencari jejak, kotoran, atau bangkai. “Saya sempat melihat bagian belakang berbulu cokelatnya menghilang ke sungai,” kenang Read.
Selama sepekan berikutnya, pencarian dilakukan intensif dengan sedikitnya enam orang setiap hari. Namun, tidak ada tanda-tanda Samba. “Semuanya sunyi. Kami tidak menemukan jejak apa pun,” kata Read.
Enam bulan kemudian, upaya masih berlanjut. Pada Agustus 2026, kamera jebakan yang dipasang untuk memantau pemburu liar menangkap gambar hewan pengerat gemuk. “Tanpa keraguan, itu Samba, terlihat sehat dan berisi,” ujar Read. Lokasinya dua hingga tiga mil dari kebun binatang, dekat tempat ia pernah dikejar Growler. Tim kini memasang lebih banyak kamera dan meletakkan makanan berupa ubi jalar dan melon madu untuk memancingnya kembali ke titik yang sama. Mereka juga menaruh alas tidur Tango dan Ripple, kapibara jantan yang didatangkan dari Blackpool untuk menemani Tango, guna memikat Samba dengan aroma kawanannya.
Kritik terhadap Marwell pun muncul. Read membantah tuduhan kelalaian. “Kami sudah 50 tahun di sini. Rekam jejak kami berbicara sendiri. Kami memenangi penghargaan kesejahteraan hewan. Ini terjadi karena hewan melakukan sesuatu yang tidak bisa kami duga,” tegasnya. Ia juga menepis anggapan bahwa kapibara tidak layak dipelihara. “Meski kapibara tidak terancam punah, habitat asli mereka di Amazon dan Pantanal terancam. Kapibara bisa menjadi duta untuk bercerita tentang konservasi,” tambahnya.
Musim dingin menjadi penentu. Dengan vegetasi yang lebih jarang, Samba mungkin lebih mudah terlihat, tetapi kapibara tidak tahan cuaca ekstrem. “Jika ada hawa dingin ekstrem, kami semua akan khawatir,” kata Read. Jika hanya basah dan berangin, Samba masih bisa bertahan. “Kami tidak punya kendali atas kesejahteraannya di alam liar, sementara di sini kami bisa memberikan segalanya, termasuk sosialisasi.”
Ives optimistis Samba akan ditemukan. “Secara teknis, kami sudah menemukannya! Kami melihatnya di rekaman kamera. Dia sangat gemuk dan sehat.” Jika tertangkap, reunifikasi dengan Tango akan memakan waktu karena Samba kini liar. “Kapan – bukan jika – kami mendapatkannya kembali, prosesnya akan sangat lambat,” pungkasnya.
“Kami tahu banyak orang ingin membantu, tetapi kehadiran massa justru bisa membuatnya menjauh. Kami melakukan segala upaya, meski tidak selalu terlihat publik.” – Laura Read, CEO Marwell Wildlife
Kisah Samba bukan sekadar pelarian satwa eksotis. Ini menyoroti kompleksitas pengelolaan kebun binatang modern: antara konservasi, kesejahteraan hewan, dan tekanan publik. Di Indonesia, kasus serupa bisa menjadi pelajaran bagi lembaga konservasi dan taman satwa dalam menghadapi situasi darurat. Apakah penangkaran satwa eksotis seperti kapibara sepadan dengan risiko yang timbul? Ataukah sudah saatnya fokus dialihkan ke perlindungan habitat asli? Pertanyaan itu akan terus menggema selama Samba masih bebas berkeliaran.



