Setelah Dihantam Flu Burung, Koloni Tern Inggris Tunjukkan Pemulihan
Baca dalam 60 detik
- National Trust melaporkan rekor 126 pasang little tern bersarang di Long Nanny, Northumberland, dua kali lipat dari rekor sebelumnya.
- Lebih dari 1.100 pasang sandwich tern kembali ke Blakeney Point, Norfolk, setelah absen dua tahun.
- Meski ada pemulihan, penurunan 27% arctic tern di Kepulauan Farne menjadi peringatan bahwa tekanan terhadap burung laut belum berakhir.

Koloni burung laut paling penting di Inggris menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah bertahun-tahun dilanda flu burung, banjir, dan cuaca ekstrem. National Trust melaporkan lonjakan populasi little tern di Long Nanny, Northumberland, dengan sedikitnya 126 pasang bersarang—dua kali lipat rekor sebelumnya di lokasi tersebut.
Keberhasilan ini bukan sekadar angka. Little tern adalah burung laut kedua paling langka di Inggris yang bermigrasi dari Afrika Barat dan bersarang di pantai berpasir terbuka. Selama beberapa dekade, spesies ini mengalami penurunan nasional yang signifikan. Menurut National Trust, musim berkembang biak tahun ini menjadi yang terbaik yang pernah tercatat, dengan setidaknya 82 anak burung berhasil terbang dan totalnya berpotensi melewati 100 ekor.
Di Norfolk, lebih dari 1.100 pasang sandwich tern kembali ke Blakeney Point setelah dua tahun absen. Sementara itu, koloni arctic tern di Long Nanny tercatat sedikitnya 730 pasang dengan 1.346 telur—sedikit naik dan menandakan populasi yang bertahan setelah periode sulit. Pada 2023, koloni arctic tern di lokasi itu dihancurkan flu burung; lebih dari 600 anak burung ditemukan mati. Musim berikutnya, sarang-sarang hilang akibat pasang tinggi dan cuaca ekstrem.
Ben McCarthy, kepala konservasi alam National Trust, menegaskan tidak ada ruang untuk berpuas diri. Ia menilai hasil ini menunjukkan apa yang bisa dicapai ketika situs berkembang biak yang penting secara internasional dilindungi dan dikelola dengan hati-hati. "Hasil ini sangat menggembirakan mengingat tantangan yang dihadapi burung laut dalam beberapa tahun terakhir—dari flu burung dan cuaca ekstrem hingga tekanan yang lebih luas pada lingkungan laut," ujarnya.
James Porteus, ranger utama National Trust untuk pesisir Northumberland, menyebut musim ini sebagai "luar biasa" setelah bertahun-tahun didominasi wabah flu burung, sarang yang terendam, dan kekhawatiran penurunan populasi. Ia menambahkan bahwa lebih dari dua kali lipat rekor sebelumnya adalah pencapaian luar biasa dan bukti dedikasi staf, relawan, serta organisasi mitra. "Sangat menggembirakan melihat begitu banyak anak burung menetas dan terbang. Little tern menghadapi tantangan besar sepanjang migrasi dan siklus berkembang biaknya, jadi setiap upaya bersarang yang berhasil sangat berarti," katanya.
Namun, gambaran secara keseluruhan tidak seragam. National Trust mencatat penurunan 27% populasi arctic tern di Kepulauan Farne, Northumberland. Di sana, tidak ada common tern yang terlihat tahun ini, turun dari lima pasang tahun lalu, sementara sandwich tern tetap dua pasang. Ranger juga melaporkan kembalinya seekor black tern yang mereka juluki Nigella untuk musim ketujuh berturut-turut—spesies yang biasanya tidak berkembang biak di Inggris.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia memiliki banyak situs persinggahan burung migran, termasuk jenis tern dan burung pantai lainnya. Tekanan yang sama—perubahan iklim, penyakit, dan hilangnya habitat pesisir—mengancam keanekaragaman hayati di kawasan ini. Keberhasilan Inggris memulihkan koloni tern menunjukkan bahwa intervensi konservasi yang terarah dan konsisten dapat membuahkan hasil, tetapi juga mengingatkan bahwa tanpa perlindungan berkelanjutan, kemajuan itu rapuh.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tren positif ini bisa bertahan di tengah ketidakpastian iklim. National Trust menekankan perlunya pemantauan ketat dan pengelolaan habitat yang adaptif. Jika gelombang panas laut, badai, atau wabah penyakit baru melanda, akankah koloni-koloni yang baru pulih ini mampu bertahan? Jawabannya akan menentukan bukan hanya nasib burung-burung tern, tetapi juga kesehatan ekosistem pesisir yang lebih luas.



