Fanatisme Klub Mulai Tergerus: Penggemar Kini Lebih Setia pada Pemain daripada Lambang Tim
Baca dalam 60 detik
- Studi global menunjukkan 80% penggemar sepak bola kini memiliki klub kedua, sering kali karena terikat pada pemain tertentu.
- Fenomena ini dipicu oleh game, media sosial, dan personal branding pemain yang semakin kuat, menggeser loyalitas tradisional.
- Klub harus beradaptasi dengan menyediakan konten di luar lapangan agar tetap relevan di mata penggemar yang mengikuti individu.

Fenomena penggemar sepak bola yang lebih setia kepada pemain daripada klub semakin nyata. Buktinya, ketika Lionel Messi bergabung dengan Inter Miami pada 2023, jersey berwarna flamingo pink langsung ludes terjual dan media sosial klub melonjak drastisโpadahal banyak pembelinya tidak pernah menginjakkan kaki di Miami. Ini menandakan pergeseran besar dalam budaya suporter: nama di punggung jersey kini lebih berpengaruh daripada lambang di dada.
Menurut James Kirkham, seorang ahli strategi merek olahraga, banyak orang di Inggris dan Eropa yang mengenakan atribut Inter Miami tanpa memiliki ikatan emosional dengan kota tersebut. "Ini hal yang normal sekarang, tetapi yang bekerja adalah pemainnya," ujarnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Messi atau Cristiano Ronaldo, tetapi juga merambah ke pemain lain seperti Zlatan Ibrahimovic, yang pernah menjadi idola generasi muda berkat pengaruh game.
Kirkham menjelaskan bahwa penggemar muda kini cenderung kurang tribal dan memiliki pengetahuan yang lebih ensiklopedis berkat game seperti EA Sports FC dan Football Manager. Mereka mengikuti tim dari berbagai liga bukan karena sejarah atau geografi, melainkan karena pemain yang mereka kagumi. "Mengikuti pemain dan membelinya di Ultimate Team, lalu memakai nama pemain itu di jersey, membuat perbedaan klub menjadi tidak relevan," tambahnya.
Sebuah studi berjudul 'The Rise of the Second Club Fan' yang dirilis sebelum Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa 80% penggemar global kini memiliki klub kedua. Matthew Kyle, penulis laporan tersebut, menegaskan bahwa ini bukan tentang meninggalkan klub utama, melainkan mencari koneksi tambahan. "Mereka sering mencari 'siapa lagi yang bisa saya dukung?' Ini lebih natural," katanya. Studi itu juga menemukan bahwa pemain adalah pintu masuk terkuat untuk mengikuti klub kedua, dan dukungan bisa berpindah ketika pemain pindah.
Fenomena ini juga terlihat dalam kasus Antoine Griezmann yang pada 2018 membuat dokumenter 'The Decision' untuk mengumumkan masa depannya, terinspirasi oleh LeBron James. Meski saat itu dianggap kurang efektif, kini pemain seperti Erling Haaland dan Jude Bellingham justru memanfaatkan kanal YouTube untuk membangun narasi pribadi. Kyle menilai bahwa pemain kini menjadi "lever distribusi" bagi diri mereka sendiri, mengendalikan citra dan berinteraksi langsung dengan penggemar.
Piala Dunia 2026 menjadi momentum besar bagi personal branding pemain. Haaland, misalnya, tidak hanya tampil apik di lapangan, tetapi juga memikat penggemar dengan kepribadiannya yang rendah hati dan interaksi aktif di media sosial. Kyle mencatat bahwa kenaikan pengikut Haaland yang luar biasa tidak lepas dari meme, momen kebersamaan dengan rekan setim, dan kehadiran Norwegia di perempat final untuk pertama kalinya.
Bagi klub, tantangannya adalah mempertahankan penggemar yang datang karena seorang pemain ketika pemain itu pergi. Contohnya, Tottenham Hotspur menikmati popularitas besar di Korea Selatan selama era Son Heung-min, tetapi ketika Son pindah ke LAFC, Spurs tidak kehilangan banyak pengikut, meski LAFC mengalami lonjakan. Kyle menyarankan klub untuk menyediakan konten di luar lapangan, seperti 'day in the life', yang bisa menarik minat bahkan dari non-penggemar.
Di Indonesia, fenomena ini juga terasa. Banyak penggemar yang mengikuti klub-klub Eropa tertentu karena pemain idola, seperti yang terjadi pada era Mohamed Salah di Liverpool atau Cristiano Ronaldo di Manchester United. Dengan semakin mudahnya akses ke media sosial dan platform digital, penggemar Indonesia pun semakin terhubung dengan pemain secara personal, bahkan lebih dari klubnya. Ini menjadi peluang bagi klub untuk menjangkau pasar Asia Tenggara melalui pemain bintang mereka.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah klub mampu membangun ekosistem yang tidak bergantung pada satu pemain. Seperti yang dikatakan Kirkham, klub harus beradaptasi dengan menyediakan konten yang menarik dan membangun hubungan emosional dengan penggemar, tidak hanya mengandalkan nama besar. Jika tidak, mereka bisa kehilangan basis penggemar yang loyal ketika sang bintang hengkang. Mampukah klub-klub besar bertahan di era di mana penggemar lebih setia kepada individu daripada institusi?



