Basarnas Alihkan Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda ke Operasi Rutin, Bukan Dihentikan
Baca dalam 60 detik
- Basarnas menegaskan pencarian lima jurnalis dan dua kru KM Arupadatu yang hilang di Selat Sunda tetap berlanjut meski statusnya berubah menjadi operasi rutin.
- Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan operasi gabungan dihentikan karena dinilai tidak lagi efektif, bukan karena kasusnya ditutup.
- Temuan jenazah Surakman (60) di Pulau Enggano menjadi satu-satunya korban teridentifikasi, sementara Kantor SAR Bengkulu masih menyisir perairan sekitar.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan dua kru kapal KM Arupadatu yang hilang di perairan Selat Sunda belum berakhir. Operasi gabungan yang sebelumnya melibatkan berbagai instansi kini dialihkan menjadi operasi rutin yang dijalankan kantor-kantor SAR di wilayah terkait.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan bahwa penghentian operasi besar-besaran pada Kamis (17/9) lalu bukan berarti pencarian terhadap para korban dihentikan total. Keputusan itu diambil setelah rapat evaluasi menilai operasi gabungan tidak lagi efektif. "Operasi bukan ditutup, tapi dialihkan ke operasi rutin," kata Syafii di Grand Hotel De Djokja, Kota Yogyakarta, Selasa (29/9).
Dalam operasi gabungan sebelumnya, Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung bekerja bersama seluruh potensi SAR di bawah kendali Search Mission Coordinator (SMC). Kepala Kantor SAR Banten saat itu ditunjuk sebagai SMC. Setelah operasi dinilai tidak lagi efektif, tanggung jawab pencarian dikembalikan ke masing-masing kantor SAR. Syafii menegaskan pencarian tetap dilakukan secara rutin dan berlangsung 24 jam. "Masing-masing kantor SAR melaksanakan operasi 24 jam sepanjang masa," tegasnya.
Meski status operasi berubah, temuan jenazah kru KM Arupadatu menjadi titik terang dalam pencarian. Jasad Surakman (60) ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada Sabtu (12/9) dan baru teridentifikasi pada Rabu (23/9) lalu. Setelah temuan itu, Kantor SAR Bengkulu memfokuskan pencarian di sekitar Pulau Enggano dengan melibatkan masyarakat pesisir, TNI, dan Polri. "Pada saat itu Kantor SAR Bengkulu memfokuskan pencarian di sana dengan melibatkan seluruh warga, TNI, Polri, untuk memberikan informasi jika ada tanda-tanda korban. Namun sampai sekarang belum ada perkembangan lanjutan," imbuh Syafii.
"Operasi bukan ditutup, tapi dialihkan ke operasi rutin." โ Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Kepala Basarnas
Perubahan status operasi ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pencarian jangka panjang. Pengalihan ke operasi rutin berarti intensitas pencarian yang sebelumnya terpusat di bawah satu komando kini tersebar di beberapa kantor SAR. Meski demikian, Basarnas menegaskan tidak ada pengurangan personel maupun peralatan. Operasi rutin 24 jam diharapkan tetap mampu merespons setiap laporan masyarakat atau temuan baru di lapangan.
Bagi keluarga korban, kepastian pencarian menjadi harapan utama. Ketidakjelasan nasib lima jurnalis dan dua kru kapal menimbulkan dampak psikologis yang berat. Proses identifikasi jenazah Surakman menunjukkan bahwa pencarian berbasis komunitas dan informasi warga masih menjadi kunci. Koordinasi antara Basarnas, TNI, Polri, dan masyarakat pesisir menjadi model yang bisa diandalkan dalam operasi serupa di masa depan.
Ke depan, publik akan mencermati apakah operasi rutin ini benar-benar berjalan optimal atau justru menurunkan intensitas pencarian. Transparansi Basarnas dalam melaporkan perkembangan menjadi penting agar kepercayaan keluarga korban dan masyarakat tetap terjaga. Pertanyaannya, sejauh mana negara hadir dalam memastikan setiap nyawa yang hilang di perairan Indonesia tidak sekadar menjadi statistik?



