Robinhood Luncurkan Agen AI, Perpetual Futures, dan Trading Akhir Pekan untuk Rebut Trader Aktif
Baca dalam 60 detik
- Robinhood mengumumkan agen AI yang dapat mengeksekusi perdagangan, perpetual futures dengan leverage hingga 10x, dan perdagangan saham AS di akhir pekan.
- Langkah ini meniru model pasar kripto 24/7 untuk menarik trader aktif dari broker tradisional seperti Charles Schwab dan Fidelity.
- Inisiatif ini berpotensi mengubah lanskap perdagangan ritel global, dengan implikasi bagi investor Indonesia yang semakin terpapar aset kripto dan derivatif.

Robinhood pada Selasa (29/9) mengumumkan serangkaian fitur baru di ajang HOOD Summit di Houston, Texas, termasuk agen AI yang dapat mengeksekusi perdagangan, perpetual futures kripto dengan leverage hingga 10 kali, dan perdagangan saham AS di akhir pekan. Langkah ini menandai upaya broker tersebut untuk merebut pangsa pasar trader aktif dengan mengadopsi elemen pasar kripto yang beroperasi 24/7.
Perusahaan juga memperluas jam perdagangan opsi, menawarkan margin intraday lebih besar, dan menambah kontrak yang memungkinkan pengguna bertaruh pada metrik laba perusahaan. Menurut Wakil Presiden Manajemen Produk Robinhood, Abhishek Fatehpuria, prioritas utama perusahaan adalah menjadi nomor satu bagi trader aktif. "Kami tidak fokus pada satu kelas aset tertentu," ujarnya dalam wawancara.
Persaingan untuk segmen ini semakin ketat. Broker tradisional seperti Charles Schwab, Interactive Brokers, dan Fidelity telah memperluas produk perdagangan mereka untuk menarik generasi investor yang terbiasa dengan pasar kripto yang tidak pernah tutup. Bursa saham AS seperti NYSE dan Nasdaq pun telah mengajukan perluasan jam perdagangan, sementara Robinhood sendiri meluncurkan 24 Hour Market pada 2023, meski layanan itu masih berhenti di akhir pekan. Kini, Robinhood berencana mengisi celah tersebut dengan menawarkan sejumlah saham dan ETF pada Sabtu dan Minggu melalui Bruce ATS, sebuah sistem perdagangan alternatif.
Terobosan yang mungkin paling signifikan adalah Robinhood Agents, yang memungkinkan pelanggan membuat agen AI di dalam aplikasi, memilih model dari OpenAI atau Anthropic, dan memberinya akses ke akun perdagangan terpisah. Agen tersebut dapat menganalisis pasar, membangun watchlist, dan memperdagangkan saham, opsi, serta kripto. Fitur bernama Loops akan memungkinkan instruksi tetap untuk memantau pasar dan mengeksekusi strategi saat kondisi tertentu terpenuhi.
Namun, muncul pertanyaan tentang tanggung jawab ketika AI membuat kesalahan. Gina Pasqua-Abeles, Direktur Senior Manajemen Produk, menegaskan bahwa agen harus dipandang sebagai perpanjangan alat riset yang dapat mengeksekusi perdagangan, dan pengguna tetap diharapkan mengawasi. Robinhood secara default akan mewajibkan persetujuan setiap perdagangan yang diusulkan agen, meskipun pengguna dapat menonaktifkan perlindungan itu. Agen tidak dapat meminjam dengan margin saat peluncuran dan hanya dapat mengakses dana di akun khusus mereka.
"Kami tahu banyak orang yang memperdagangkan perps menginginkan leverage," kata Grace Q, kepala produk futures AS Robinhood. "Tetapi kami ingin memulai dengan lebih aman, terutama untuk koin-koin long-tail."
Ekspansi ke perpetual futures menandai langkah besar lainnya. Produk ini populer di bursa kripto offshore karena memungkinkan posisi long atau short dengan leverage tanpa tanggal kedaluwarsa. Robinhood berencana menawarkannya melalui Robinhood Derivatives dan Bitstamp, dimulai dengan kripto. Leverage yang lebih rendah untuk token volatil dipilih secara sengaja, dan batas dapat disesuaikan seiring waktu.
Selain itu, Robinhood akan menawarkan kontrak pendapatan biner melalui Cboe, yang memungkinkan pelanggan bertaruh pada apakah perusahaan mencapai metrik seperti pendapatan, laba per saham, atau penjualan iPhone Apple. Semua produk ini mengarah pada visi akun di mana trader ritel aktif dapat berpindah antara saham, kripto, opsi, pasar prediksi, dan derivatif berleverage tanpa terikat jam pasar tradisional.
Konteks Indonesia: Bagi investor Indonesia, langkah Robinhood ini mencerminkan tren global menuju perdagangan 24/7 dan adopsi AI dalam eksekusi transaksi. Meskipun Robinhood belum beroperasi di Indonesia, perkembangan ini dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap platform lokal seperti Bibit, Ajaib, atau aplikasi kripto seperti Pintu dan Tokocrypto. Regulator seperti OJK dan Bappebti perlu mengantisipasi risiko leverage tinggi dan perdagangan otomatis, sambil mempertimbangkan peluang inovasi. Selain itu, dengan semakin banyaknya investor ritel Indonesia yang terpapar aset kripto, fitur seperti perpetual futures dan agen AI dapat menjadi pedang bermata dua: meningkatkan akses namun juga memperbesar potensi kerugian.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat broker tradisional dan regulator di berbagai yurisdiksi menyesuaikan diri dengan model perdagangan yang semakin mirip kripto ini. Jika Robinhood berhasil, tekanan akan meningkat bagi bursa global untuk memperpanjang jam operasi dan bagi pembuat kebijakan untuk merumuskan kerangka pengawasan AI dalam keuangan. Apakah Indonesia akan mengikuti jejak ini atau justru memperketat regulasi?



