Planet Lava Terdingin Ditemukan, Petunjuk Baru Asal-usul Bumi
Baca dalam 60 detik
- Astronom mengidentifikasi HD 3167 b, eksoplanet berbatu yang permukaannya meleleh namun bersuhu lebih rendah dari perkiraan.
- Keberadaan atmosfer di planet yang sangat dekat dengan bintangnya menantang teori pembentukan atmosfer di dunia lava.
- Temuan ini membuka jalan untuk memahami kondisi Bumi pada fase lautan magma miliaran tahun lalu.

Tim peneliti internasional mengumumkan penemuan HD 3167 b, sebuah planet berbatu yang mengorbit bintangnya dari jarak sangat dekat hingga permukaannya meleleh menjadi lahar. Namun, yang membuat para astronom terkejut, planet ini tetap memiliki atmosfer meski berada di zona paling ekstrem. Temuan ini dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters dan menjadi bukti terkuat bahwa dunia lava tak selalu kehilangan selubung gasnya.
HD 3167 b terletak sekitar 154 tahun cahaya dari Bumi dan menyelesaikan satu putaran mengelilingi bintangnya hanya dalam waktu satu hari Bumi. Ukurannya lebih besar dari Bumi namun lebih kecil dari Neptunus, menjadikannya anggota kategori super-Earth. Yang istimewa, ini adalah planet lava terkecil yang pernah terdeteksi masih memiliki atmosfer. Sebelumnya, para ilmuwan menduga planet sekecil itu akan sulit mempertahankan atmosfer karena tekanan angin bintang dan radiasi energi tinggi yang terus menghantamnya.
Pengamatan dilakukan menggunakan instrumen MIRI (Mid-Infrared Instrument) di Teleskop Luar Angkasa James Webb. Instrumen ini mampu menangkap cahaya inframerah tengah dari planet saat melewati belakang bintangnya, sebuah peristiwa yang disebut gerhana sekunder. Dari perbedaan intensitas cahaya tersebut, peneliti dapat memperkirakan suhu planet dan mendeteksi keberadaan atmosfer. Hasilnya, sisi siang HD 3167 b tercatat jauh lebih dingin daripada suhu maksimum teoretis jika planet itu gundul tanpa atmosfer.
Planet ini terkunci secara tidal, artinya satu sisinya selalu menghadap bintang dan sisi lainnya gelap permanen. Tanpa atmosfer, sisi siang seharusnya mencapai suhu ekstrem. Namun, atmosfernya berperan seperti cermin dan penyalur panas: sebagian cahaya bintang dipantulkan, sebagian lagi dialirkan ke sisi malam. "Planet ini jelas lebih dingin dari batas maksimum yang seharusnya," ujar Brandon Park Coy, penulis utama studi dan mahasiswa pascasarjana di University of Chicago, dalam pernyataan resmi.
Penemuan ini merupakan bagian dari program observasi yang dipimpin astronom Megan Weiner Mansfield dari University of Maryland. Program tersebut meneliti sepuluh dunia lava untuk memetakan pada suhu berapa atmosfer cenderung bertahan. Sejauh ini, HD 3167 b memperkuat dugaan bahwa mayoritas planet lava sebenarnya memiliki atmosfer, bukan sekadar batuan gundul yang terbakar.
"Semakin dekat planet berbatu ke bintangnya, seharusnya semakin sulit memiliki atmosfer karena diterpa angin bintang dan foton berenergi tinggi. Tapi tampaknya banyak dunia lava justru memilikinya," kata Edwin Kite, profesor geofisika di University of Chicago dan salah satu penulis studi.
Bagi ilmuwan, daya tarik planet-planet ini bukan karena potensi kehidupanโsuhunya terlalu panas untuk organisme apa pun. Sebaliknya, mereka berfungsi sebagai laboratorium alami untuk memahami proses yang membentuk planet berbatu, termasuk Bumi. "Kami menduga Bumi awal pernah menyerupai dunia lava," tambah Coy. Pada masa pembentukan tata surya, tumbukan benda langit menghasilkan panas luar biasa hingga permukaan Bumi meleleh sepenuhnya, fase yang dikenal sebagai lautan magma. Dengan mempelajari HD 3167 b, para peneliti berharap dapat menyimulasikan kondisi Bumi pada dua juta tahun pertama keberadaannya.
Konteks Indonesia: Meskipun temuan ini bersifat astrofisika dasar, implikasinya terhadap pemahaman iklim ekstrem dan evolusi atmosfer planet dapat memperkaya riset kebumian di dalam negeri. Lembaga seperti BRIN dan observatorium Bosscha memiliki program astronomi yang dapat memanfaatkan data publik James Webb untuk studi atmosfer eksoplanet. Selain itu, isu perubahan iklim global yang kian mendesak membuat pemahaman tentang efek rumah kaca ekstrem di planet lain menjadi relevan secara konseptual.
Ke depan, program survei sepuluh dunia lava akan terus mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan besar: pada suhu berapa atmosfer planet berbatu bertahan atau musnah? Jawabannya tidak hanya mengungkap keragaman eksoplanet, tetapi juga membantu ilmuwan merekonstruksi sejarah awal Bumi dan kemungkinan kehidupan di dunia lain. Apakah atmosfer HD 3167 b akan bertahan miliaran tahun, atau justru menguap perlahan? Teleskop generasi berikutnya akan menjadi kunci.



