Disney Pangkas 300 Karyawan di Tengah Transformasi "One Disney"
Baca dalam 60 detik
- Disney melakukan PHK terhadap sekitar 300 staf, mayoritas dari divisi SDM dan teknologi, sebagai bagian dari efisiensi di bawah CEO Josh D'Amaro.
- Langkah ini merupakan kelanjutan dari pemangkasan sebelumnya yang mencapai 1.000 posisi pada April dan ratusan lainnya pada Juli, dengan fokus pada konsolidasi unit bisnis.
- Di Indonesia, kebijakan ini dapat memengaruhi iklim investasi di sektor media dan hiburan, serta menjadi sinyal bagi perusahaan lokal untuk mengantisipasi disrupsi digital.

Walt Disney Co. kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 300 karyawan, terutama di divisi sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Langkah ini menjadi babak terbaru dari restrukturisasi yang dijalankan CEO Josh D'Amaro sejak mengambil alih kepemimpinan pada awal tahun ini. Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang mengetahui rencana perusahaan, seperti dikutip CNBC.
PHK ini bukan yang pertama. Pada April lalu, Disney berencana memangkas hingga 1.000 posisi seiring konsolidasi divisi pemasaran enterprise. Gelombang berikutnya terjadi pada Juli, ketika perusahaan mengurangi beberapa ratus karyawan di berbagai fungsi korporat, termasuk di Pixar, ESPN, Disney Entertainment Television, dan studio Disney. Pemangkasan terbesar saat itu terjadi di Pixar dan National Geographic.
Manajemen Disney sebelumnya telah mengisyaratkan pengurangan ini dalam laporan keuangan Agustus. Perusahaan menyatakan sedang mengevaluasi berbagai cara untuk menekan biaya, termasuk pemangkasan tenaga kerja dan beban penjualan, umum, serta administrasi (SG&A). "Kami tetap sangat fokus mengurangi biaya di seluruh perusahaan untuk menciptakan kapasitas tambahan guna berinvestasi pada pertumbuhan," ujar Disney dalam laporan tersebut. "Kami berada di tengah proses ini dan akan memberikan pembaruan di masa mendatang."
Langkah ini merupakan bagian dari strategi "One Disney" yang digagas D'Amaro. Tujuannya menyelaraskan berbagai divisi dan mengintegrasikan bisnis yang saling melengkapi, menciptakan ekosistem yang mulus antara film, streaming, taman hiburan, barang konsumen, game, dan olahraga. D'Amaro menekankan pentingnya sinergi lintas unit untuk mempercepat pertumbuhan di tengah pergeseran lanskap media.
Seperti perusahaan media legacy lainnya, Disney berada di titik kritis ketika streaming dan hiburan digital mengalahkan media tradisional. Untuk beradaptasi dan melakukan investasi baru, perusahaan harus memangkas biaya dan merampingkan divisi. Langkah ini sejalan dengan tren industri di mana raksasa media global berlomba menyesuaikan model bisnis mereka dengan perilaku konsumen yang berubah.
"Kami tetap sangat fokus mengurangi biaya di seluruh perusahaan untuk menciptakan kapasitas tambahan guna berinvestasi pada pertumbuhan," demikian pernyataan resmi Disney dalam laporan kuartalan.
Bagi Indonesia, kebijakan efisiensi Disney dapat menjadi cermin bagi industri media dan hiburan domestik. Perusahaan lokal perlu mengantisipasi disrupsi digital yang semakin cepat, terutama dengan meningkatnya konsumsi konten melalui platform streaming. Selain itu, investor Indonesia yang memiliki eksposur pada saham Disney atau sektor media global perlu mencermati dampak jangka panjang dari restrukturisasi ini terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa jauh Disney akan melanjutkan pemangkasan ini sebelum mencapai titik keseimbangan antara efisiensi dan kapasitas inovasi. Jika tren berlanjut, gelombang PHK berikutnya mungkin menyentuh divisi kreatif yang selama ini menjadi tulang punggung waralaba ikonik Disney. Publik dan pelaku pasar akan menantikan apakah strategi "One Disney" mampu membawa perusahaan kembali ke jalur pertumbuhan yang solid.



