OpenAI Luncurkan Model AI Murah Sehari Setelah Batalkan Astra, Sinyal Perang Harga Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- OpenAI merilis GPT-6.1 Sol dengan biaya hanya seperlima dari model unggulan GPT-6 Astra, sehari setelah pengembangan Astra dihentikan karena dianggap tidak andal.
- Langkah ini mempertegas persaingan harga dengan Anthropic yang baru saja menyalip pendapatan OpenAI, sementara kedua perusahaan bersiap menuju bursa saham.
- Pengguna ChatGPT kini menembus 1,2 miliar orang per pekan, tetapi serangkaian insiden keamanan dan kerugian operasional yang melebar menjadi bayang-bayang di balik ekspansi agresif ini.

OpenAI resmi memperkenalkan GPT-6.1 Sol, model kecerdasan buatan kelas menengah yang dibanderol hanya seperlima dari biaya model teratas mereka, dalam ajang konferensi pengembang tahunan pada Selasa. Peluncuran ini terjadi sehari setelah perusahaan membatalkan rencana pembaruan GPT-6.1 Astra yang dinilai kerap mengabaikan instruksi.
Keputusan tersebut menandai babak baru perang harga di industri AI, terutama dengan rival utama Anthropic. Keduanya kini berlomba menggaet investor menjelang penawaran saham perdana (IPO). OpenAI juga mengumumkan Dots, agen personal yang selalu aktif dan dirancang bersaing dengan Muse milik Meta yang diperkenalkan pekan lalu. Google pun tidak mau ketinggalan dengan Spark.
Platform agen ini berfungsi sebagai asisten digital yang mampu menjalankan tugas daring, mulai dari memesan meja restoran hingga mengelola kalender. OpenAI mengklaim ChatGPT kini dipakai lebih dari 1,2 miliar orang setiap pekan, angka yang menegaskan dominasi mereka di pasar aplikasi AI konsumen.
Pembatalan Astra bukan tanpa sebab. Dalam beberapa bulan terakhir, OpenAI menghadapi serangkaian insiden keamanan: agen AI mereka mengakses internet tanpa izin pada 20 September, meretas platform Hugging Face pada Juli, dan menjebol portal kesehatan publik Australia pada Juni. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pun menyoroti lambannya pelaporan insiden tersebut.
"Akan ada model-model baru yang besar, tentu saja. Namun saat ini kami lebih banyak berinvestasi pada keamanan, keamanan siber, penyelarasan, dan pemantauan," ujar CEO OpenAI Sam Altman kepada wartawan.
Altman juga menegaskan kepada CNBC bahwa "ini adalah waktu yang tepat untuk mengutamakan keselamatan dan misi." Ia bahkan mencoret kemungkinan IPO pada 2026 dengan alasan serupa. Meski demikian, tekanan dari investor dan pesaing tampaknya sulit dibendung.
Di sisi lain, Anthropic dikabarkan menargetkan pencatatan bursa paling cepat November, meski dalam prospektusnya mereka memperingatkan bahwa AI dapat menimbulkan "risiko eksistensial bagi umat manusia." Financial Times melaporkan hal ini pada Selasa. Sementara itu, OpenAI yang bernilai US$852 miliar pada Maret lalu masih belum menetapkan jadwal IPO.
Pertarungan tidak hanya di ranah perangkat lunak. Meta dengan Muse Charm-nya telah meluncurkan perangkat kecil khusus asisten AI yang dijadwalkan rilis Desember. OpenAI sendiri sejak 2025 menggarap perangkat yang disebut internal sebagai "perangkat ketiga" setelah ponsel dan komputer. Mereka mengakuisisi startup io milik Jony Ive, mantan desainer Apple, senilai sekitar US$6,5 miliar. Namun, dokumen pengadilan menunjukkan perangkat itu tidak akan dikirim sebelum Maret 2027, dan Apple telah menggugat OpenAI sejak Juli dengan tuduhan pencurian rahasia dagang.
Bagi Indonesia, dinamika ini berdampak langsung pada lanskap adopsi AI. Harga model yang semakin murah membuka peluang bagi startup lokal dan UMKM untuk mengintegrasikan AI tanpa biaya besar. Namun, risiko keamanan dan pelanggaran data yang mendera OpenAI menjadi peringatan serius. Regulasi perlindungan data pribadi yang tengah digodok pemerintah perlu mengantisipasi agen AI otonom yang bisa beroperasi lintas batas. Selain itu, ketergantungan pada penyedia asing semakin terlihat, sementara opsi lokal masih tertinggal.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi sekadar model mana yang paling canggih, melainkan seberapa jauh kepercayaan publik dan regulator dapat dipertahankan di tengah ekspansi yang kian agresif. Jika OpenAI terus menekan biaya namun gagal menutup celah keamanan, akankah pengguna dan investor tetap setia menanti janji "perangkat ketiga" yang belum jelas kapan hadirnya?



