First Philippine Tolak Tawaran KKR: Nilai First Gen Dianggap Tak Sebanding
Baca dalam 60 detik
- First Philippine Holdings menolak proposal KKR untuk membeli 8,43% saham First Gen, menilai harga yang ditawarkan tidak mencerminkan nilai wajar.
- Jika transaksi berjalan, KKR wajib melakukan tender offer pada harga 35 peso per saham, bernilai total sekitar 165,44 miliar peso, dan berpotensi mendelisting First Gen dari bursa.
- Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa First Philippine yakin potensi First Gen di sektor energi terbarukan masih jauh lebih besar dari valuasi pasar saat ini.

First Philippine Holdings Corp secara resmi menolak proposal dari raksasa investasi global KKR yang berniat mengakuisisi 8,43 persen saham First Gen Corp. Keputusan ini diumumkan pada Senin (17/8) dengan alasan bahwa nilai yang ditawarkan tidak merepresentasikan nilai sebenarnya dari unit pembangkit listrik tersebut.
Penolakan ini bukan tanpa konsekuensi. Jika transaksi tersebut diterima, KKR akan terpaksa meluncurkan tender offer wajib untuk membeli seluruh saham publik First Gen dengan harga 35 peso per saham. Nilai keseluruhan akuisisi ini diperkirakan mencapai 165,44 miliar peso, atau setara dengan 2,69 miliar dolar AS. Lebih jauh, tender offer tersebut juga akan menjadi dasar untuk mengajukan permohonan delisting sukarela First Gen dari Bursa Efek Filipina.
Langkah First Philippine ini menunjukkan sikap tegas perusahaan induk yang memegang 67,84 persen saham First Gen, berdasarkan data LSEG. Mereka menilai bahwa prospek jangka panjang First Gen, terutama di sektor energi terbarukan, jauh lebih menjanjikan daripada yang tercermin dalam valuasi pasar saat ini. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, First Gen tercatat memiliki nilai kapitalisasi pasar sebesar 110,63 miliar peso.
Keputusan First Philippine ini menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa mereka yakin nilai intrinsik First Gen lebih tinggi dari harga pasar. Analis menilai bahwa penolakan ini bisa menjadi strategi untuk menunggu momentum yang lebih baik, terutama mengingat tren global menuju transisi energi. First Gen sendiri dikenal sebagai pemain utama di sektor energi terbarukan di Filipina, dengan portofolio yang mencakup pembangkit listrik tenaga panas bumi, hidro, dan angin.
Bagi Indonesia, situasi ini memberikan pelajaran berharga. Di tengah maraknya minat investor asing terhadap aset energi di Asia Tenggara, keputusan untuk menolak tawaran yang dianggap tidak wajar menunjukkan pentingnya menjaga kedaulatan atas aset strategis. Pemerintah Indonesia sendiri tengah gencar mendorong investasi di sektor energi terbarukan, namun tetap perlu waspada terhadap potensi undervaluation aset nasional oleh investor asing.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah KKR akan mengajukan tawaran baru dengan harga yang lebih tinggi, atau justru mengalihkan fokus ke target lain di kawasan ini. Sementara itu, First Philippine tampaknya akan terus memegang kendali penuh atas First Gen, dengan keyakinan bahwa nilai sebenarnya akan terwujud seiring dengan semakin matangnya pasar energi terbarukan di Filipina.



