Tragedi Damkar Pangkep: Dua Personel Tewas Saat Melaju ke Lokasi Kebakaran Lahan
Baca dalam 60 detik
- Mobil pemadam kebakaran Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terbalik di jalan raya saat menuju lokasi kebakaran lahan, menyebabkan dua personel meninggal dunia.
- Insiden terjadi pada Selasa (29/9) sekitar pukul 14.40 WITA di Kampung Tujung Batu, Kecamatan Labakkang, setelah pengemudi berupaya menghindari kendaraan di depannya.
- Kecelakaan tunggal ini menambah daftar panjang risiko operasional petugas pemadam kebakaran, menuntut evaluasi keselamatan dan manajemen respons darurat.

Dua anggota Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, meregang nyawa setelah kendaraan taktis mereka terbalik di tengah jalan saat menuju lokasi kebakaran lahan, Selasa (29/9). Insiden nahas itu terjadi sekitar pukul 14.40 WITA di Kampung Tujung Batu, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Labakkang, ketika armada melaju dari arah Makassar menuju Barru.
Menurut Kanit Gakkum Satlantas Polres Pangkep, Ipda Usman, kecelakaan bermula saat pengemudi mendadak harus menghindari kendaraan lain yang berada di depannya. "Pengemudi berusaha menghindar ke kiri, lalu membanting setir ke kanan. Namun, ia kehilangan kendali sehingga mobil oleng dan terbalik," ujar Usman kepada wartawan. Tujuh personel berada di dalam mobil nahas tersebut; dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit.
Kecelakaan tunggal ini bukan sekadar musibah di jalan raya. Ia menggarisbawahi kerentanan tugas pemadam kebakaran, terutama di daerah dengan medan dan lalu lintas yang menantang. Para personel kerap harus bergerak cepat dengan kendaraan besar dan berat, sementara kondisi jalan tidak selalu mendukung. Dalam kasus Pangkep, mobil pemadam tengah melaju di lajur kanan ketika insiden terjadiโsebuah posisi yang menuntut kewaspadaan ekstra karena harus bersiap menyalip atau bermanuver.
Pengamat transportasi menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional standar (SOP) pengemudian kendaraan darurat. "Petugas damkar dilatih untuk tiba secepat mungkin, tetapi aspek keselamatan berkendara sering terabaikan ketika tekanan waktu tinggi," kata seorang analis keselamatan lalu lintas yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa kendaraan pemadam yang membawa air dalam jumlah besar memiliki titik berat yang mudah berubah, sehingga manuver mendadak berisiko tinggi.
Di sisi lain, kebakaran lahan yang menjadi tujuan awal armada tersebut menunjukkan persoalan lingkungan yang tak kunjung usai. Sulawesi Selatan termasuk wilayah yang rawan karhutla, terutama pada musim kemarau. Ironisnya, upaya memadamkan api justru berujung pada tragedi. Hal ini menyoroti perlunya peningkatan infrastruktur jalan dan sistem peringatan dini, serta koordinasi lintas instansi dalam penanganan bencana.
"Ini kecelakaan tunggal. Pengemudi tidak bisa menguasai kendaraannya, lalu oleng dan terbalik sendiri," tegas Ipda Usman.
Bagi publik Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa profesi pemadam kebakaran menyimpan risiko fatal tidak hanya saat berhadapan dengan api, tetapi juga dalam perjalanan menuju lokasi. Dukungan berupa pelatihan berkendara defensif, pemeliharaan armada, dan penegakan aturan lalu lintas bagi kendaraan prioritas menjadi pekerjaan rumah bersama. Tanpa itu, potensi korban serupa bisa terulang.
Ke depan, penyelidikan lebih lanjut diharapkan mengungkap apakah ada kelalaian atau faktor teknis yang memperparah kecelakaan. Yang jelas, dua nyawa telah melayang saat menjalankan tugas kemanusiaan. Sudah saatnya negara memastikan bahwa mereka yang berjibaku menyelamatkan orang lain tidak menjadi korban berikutnya.



