AS Mulai Auto-Enroll 60 Juta Rekening Anak: Gebrakan Kebijakan Investasi atau Beban Fiskal Baru?
Baca dalam 60 detik
- Departemen Keuangan AS mengusulkan regulasi yang memungkinkan pendaftaran otomatis anak-anak ke Trump Accounts mulai 1 Oktober 2026.
- Langkah ini diprediksi menambah lebih dari 60 juta rekening baru pada 2026, dengan tambahan sekitar 2 juta per tahun setelahnya.
- Inisiatif ini berpotensi memperluas akses investasi bagi keluarga berpenghasilan rendah, namun menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan IRS dan dampak fiskal jangka panjang.

Departemen Keuangan Amerika Serikat resmi mengusulkan aturan yang akan mendaftarkan secara otomatis jutaan anak ke dalam program investasi bebas pajak, Trump Accounts, mulai 1 Oktober 2026. Langkah ini diperkirakan langsung menambah lebih dari 60 juta rekening baru pada tahun pertama, menurut dokumen regulasi sementara yang dirilis Selasa (29/9).
Program yang diluncurkan pada 4 Juli lalu ini menawarkan setoran awal $1.000 dari pemerintah federal untuk anak yang lahir antara 2025 dan 2028. Namun, hingga kini partisipasi masih rendah karena keluarga harus mendaftar sendiri melalui formulir IRS 4547 atau situs TrumpAccounts.gov. Data dari lembaga nirlaba Commonwealth menunjukkan hanya 5% keluarga berpenghasilan rendah hingga menengah (di bawah $80.000 per tahun) yang membuka akun. Menteri Keuangan Scott Bessent dalam dengar pendapat dengan Komite Jasa Keuangan DPR pada 15 September menyatakan bahwa saat ini baru 7โ8 juta anak terdaftar, dan ia memperkirakan dalam sebulan angka itu melonjak menjadi 70 juta begitu sistem otomatis berjalan.
Perubahan menuju pendaftaran otomatis dinilai sebagai terobosan untuk menjangkau kelompok yang selama ini terhambat birokrasi. "Ini pasti akan menjangkau sebagian besar orang tua dan anak," ujar Madeline Brown, peneliti senior di Urban Institute, sebuah lembaga pemikir di Washington. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setelah terdaftar, masih banyak pekerjaan rumah untuk membangun keterlibatan dan kesadaran masyarakat. Omeed Firouzi, direktur klinik wajib pajak berpenghasilan rendah di Temple University, menambahkan bahwa pendaftaran otomatis bisa berdampak positif bagi keluarga berpenghasilan rendah yang sering menghadapi kendala mengakses keringanan pajak. Namun, ia meragukan kemampuan IRS yang tengah mengalami pemotongan anggaran dan staf untuk mengeksekusi kebijakan ini secara efektif.
Kebijakan ini juga menyoroti koordinasi antara Administrasi Jaminan Sosial (SSA) dan IRS. SSA sebelumnya berencana mendaftarkan bayi baru lahir di rumah sakit saat orang tua mengurus nomor jaminan sosial. Dengan Frank Bisignano yang kini memimpin kedua lembaga tersebut, koordinasi diharapkan lebih mulus. Pada Juli lalu, Treasury menunjuk Bisignano untuk memimpin ekspansi Trump Accounts, dan Jumat pekan lalu IRS merekrut Joseph Velli, mantan eksekutif Bank of New York dan Convergex Group, sebagai penasihat senior.
Bagi Indonesia, langkah AS ini bisa menjadi cermin bagaimana negara maju mendorong inklusi keuangan sejak dini melalui insentif fiskal. Program serupa di Indonesia, seperti bantuan pendidikan atau tabungan wajib, masih menghadapi tantangan serupa: rendahnya literasi keuangan dan akses bagi kelompok bawah. Jika AS berhasil, tekanan bagi negara berkembang untuk mengadopsi model serupa bisa meningkat, terutama dalam kerangka kerja sama ekonomi Indo-Pasifik. Namun, tanpa infrastruktur pajak dan data kependudukan yang kuat, replikasi di Indonesia berisiko menuai kegagalan implementasi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah 60 juta rekening bisa terwujud, tetapi apakah akun-akun tersebut benar-benar aktif dan memberi manfaat jangka panjang. Jika hanya menjadi angka di atas kertas tanpa edukasi dan pendampingan, program ini bisa berakhir sebagai beban administratif baru. Pemerintah AS perlu memastikan bahwa pendaftaran otomatis diikuti dengan strategi engagement yang berkelanjutan, terutama bagi keluarga yang paling membutuhkan.



