Ford CEO: Eropa Telanjur Kebobolan, AS Masih Punya Waktu Hadapi Gempuran Mobil China
Baca dalam 60 detik
- CEO Ford Jim Farley menilai Eropa sudah terlambat membendung invasi merek otomotif China, sementara Amerika Serikat masih memiliki ruang untuk menyusun strategi.
- Pernyataan ini muncul saat Ford menjalin kemitraan dengan Geely untuk produksi EV di Spanyol, langkah yang memicu kekhawatiran dari pemerintahan Trump.
- Kongres AS tengah membahas RUU yang berpotensi melarang merek China, sementara Indonesia perlu mencermati dinamika ini karena pasar otomotif nasional semakin dibanjiri produk China.

CEO Ford Motor Company, Jim Farley, menyatakan bahwa Eropa sudah melewati titik kritis dalam menghadapi derasnya penetrasi produsen otomotif China. Namun, ia menegaskan Amerika Serikat masih memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan yang lebih matang. Pernyataan itu disampaikan Farley dalam sesi wawancara di Automotive News Congress, Detroit, Selasa (29/9/2026).
Farley menuturkan, para pembuat kebijakan di Washington semestinya belajar dari pengalaman Eropa. “Saya melihat apa yang terjadi di Eropa saat ini, di mana hal itu tidak terjadi, dan sekarang mereka harus menghadapinya, sudah terlambat,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dan pertimbangan matang sebelum membuka pintu bagi merek China.
Data GlobalData menunjukkan pangsa pasar global merek China melonjak hampir 70% dari 2020 hingga 2025. Di Eropa, menurut lembaga riset asal Jerman, Dataforce, pangsa merek China yang nyaris nol pada 2020 kini mencapai 12% pada Agustus 2026. Angka ini menjadi alarm bagi produsen otomotif Eropa yang selama ini mendominasi pasar domestik mereka.
Farley menjelaskan strategi Ford dalam menghadapi tekanan ini. “Jawaban kami cukup sederhana. Kami akan bermitra dengan China di area di mana kami tidak memiliki kekayaan intelektual, di mana kami bisa lebih efisien secara modal, seperti di Eropa atau Asia Tenggara,” tuturnya. Ford juga tengah bersiap meluncurkan kendaraan listrik universal pada tahun depan, termasuk model pikap.
Langkah Ford menjalin kerja sama dengan Geely—produsen otomotif China—menuai sorotan dari pemerintahan Trump. Awal bulan ini, sebuah surat dilayangkan kepada Ford yang menyatakan “kekhawatiran mendalam” atas hubungan perusahaan dengan entitas China dan mempertanyakan arah strategisnya. Ford merespons dengan menegaskan posisinya sebagai produsen mobil terbesar di Amerika dan penyerap tenaga kerja per jam terbanyak di sektor otomotif AS.
“Saya pikir penting bagi kita untuk meluangkan waktu dan bersikap hati-hati. Saya melihat apa yang terjadi di Eropa, di mana hal itu tidak terjadi, dan sekarang mereka harus menghadapinya, sudah terlambat.” — Jim Farley, CEO Ford
Isu ini semakin memanas setelah kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke Washington pekan lalu. Presiden Trump sebelumnya menyatakan mungkin tidak masalah jika merek China masuk ke AS asalkan memproduksi kendaraan di dalam negeri. Namun, Kongres saat ini membahas beberapa RUU yang berpotensi membatasi bahkan melarang secara permanen merek otomotif China di pasar Amerika.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Pasar otomotif nasional dalam beberapa tahun terakhir kebanjiran produk China, terutama di segmen kendaraan listrik. Merek seperti Wuling, BYD, dan Chery agresif memperluas jaringan dan menawarkan harga kompetitif. Jika AS dan Eropa memperketat akses, Indonesia berpotensi menjadi pasar alternatif utama bagi produsen China, yang bisa memukul produsen Jepang dan Korea yang telah lama menguasai pasar.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati dua sisi: di satu sisi, investasi China di sektor EV dapat mempercepat transisi energi dan menciptakan lapangan kerja; di sisi lain, banjir produk impor bisa mengancam industri dalam negeri dan mengurangi penerimaan negara dari pajak. Kebijakan tarif dan insentif menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Amerika Serikat akan mengikuti jejak Eropa yang telanjur kecolongan, atau mampu merancang kebijakan yang melindungi industri sekaligus tetap terbuka terhadap inovasi. Sementara itu, Indonesia dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan menyusun strategi agar gelombang otomotif China menjadi peluang, bukan ancaman.



