Domino Kirke Bantah Jadi Penyebab Penn Badgley Tolak Adegan Seks: Itu Keputusan Sadar demi Kesehatan Mental
Baca dalam 60 detik
- Domino Kirke menegaskan keputusan Penn Badgley menolak adegan intim sepenuhnya inisiatif sang aktor, bukan pengaruh dirinya.
- Aktor 39 tahun itu mengaku ingin keluar dari jalur karier romantic lead dan menjaga komitmen pernikahan.
- Langkah ini dinilai sebagai preseden bagi aktor lain untuk menolak peran yang mengganggu kesehatan mental, meski industri hiburan Indonesia masih kaku.

Domino Kirke akhirnya angkat bicara soal keputusan suaminya, Penn Badgley, yang menolak melakukan adegan seks dalam serial You. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut murni datang dari sang aktor, bukan karena tekanan atau permintaan dirinya. Pernyataan ini sekaligus membantah rumor yang beredar di media sosial yang menuding Kirke sebagai penyebab di balik perubahan haluan Badgley.
Badgley, yang kini berusia 39 tahun, pertama kali mengungkapkan alasannya dalam podcast Podcrushed. Ia mengaku telah meminta showrunner Sera Gamble untuk tidak lagi melibatkan dirinya dalam adegan intim. "Saya sudah mengambil keputusan ini sebelum menerima proyek ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia tidak ingin kembali terjebak dalam peran romantic lead yang selama ini melekat padanya. Baginya, kesetiaan dalam pernikahan adalah prinsip yang tidak bisa ditawar.
Keputusan tersebut memicu reaksi beragam dari penggemar. Sebagian kecewa karena musim-musim akhir You dinilai kurang menampilkan adegan panas seperti sebelumnya. Tak sedikit yang lantas menyerang Kirke di media sosial, menuduhnya sebagai dalang di balik sikap Badgley. Namun, Kirke melalui unggahan Instagram pada Senin lalu membantah tuduhan itu dengan tegas.
Dalam video singkat, Kirke menjelaskan bahwa suaminya memang tidak ingin melakukan adegan tersebut. "Dia tidak mau. Itu keputusan besar di industrinya, karena hal itulah yang paling sering diminta," katanya. Ia juga menyoroti bagaimana aktor sering dianggap sebagai "boneka" di balik layar, terutama mereka yang memulai karier sebagai aktor cilik. Menurut Kirke, Badgley akhirnya berani mengambil sikap setelah bertahun-tahun mencoba.
"Di dunia hiburan, mereka menyebut aktor sebagai boneka di belakang layar, dan itu lebih mengganggu ketika mereka mulai sebagai aktor cilik. Jadi akhirnya, setelah bertahun-tahun mencoba, Penn memutuskan untuk mengambil sikap dan membiarkan dunia melihat dirinya. Dan tahukah Anda, dia tidak kehilangan penggemar dan masih terus mendapat pekerjaan!"
โ Domino Kirke
Kirke menambahkan bahwa kesehatan mental menjadi faktor pendorong utama. Ia merasa bangga dan bahagia atas keputusan suaminya, yang juga berdampak positif pada "kebersihan" pernikahan mereka. Ia pun menyindir mereka yang masih mengirim pesan langsung (DM) kepadanya soal keputusan Badgley. "Jadi ya, untuk kalian yang masih DM saya tentang suami saya yang memutuskan melakukan ini untuk dirinya sendiri dan kesehatan mentalnya, sudahi saja," ujarnya dengan nada kesal.
Kasus ini menyoroti perdebatan yang lebih luas tentang batas antara profesionalisme dan batas pribadi di industri hiburan. Di Hollywood, adegan intim telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari banyak produksi, terutama yang bergenre drama romantis atau thriller. Namun, kesadaran akan kesehatan mental dan hak aktor untuk menolak adegan yang tidak nyaman semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa aktor lain juga mulai terbuka tentang pengalaman mereka, meskipun tidak semua berani mengambil sikap setegas Badgley.
Di Indonesia, isu serupa masih jarang dibicarakan secara terbuka. Aktor dan aktris Tanah Air kerap dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan adegan intim demi tuntutan cerita, tanpa ruang negosiasi yang memadai. Kontrak kerja seringkali tidak mencantumkan klausul tentang batasan adegan, sehingga posisi aktor lemah. Padahal, kesehatan mental para pekerja seni juga perlu dilindungi. Keputusan Badgley bisa menjadi preseden bahwa menolak adegan intim bukan berarti kehilangan karier, asalkan ada komunikasi yang jelas dengan tim produksi.
Ke depan, industri hiburan global maupun nasional perlu merumuskan standar yang lebih manusiawi. Apakah adegan intim benar-benar esensial untuk sebuah cerita, atau hanya sekadar daya tarik komersial? Bagaimana pula dengan hak aktor untuk menolak tanpa stigma? Publik pun berhak mendapatkan cerita yang kuat tanpa harus mengorbankan kesejahteraan para pemainnya. Yang jelas, langkah Badgley telah membuka diskusi penting tentang batas antara seni, profesionalisme, dan kesehatan mental.



