Adyen Naikkan Proyeksi Pendapatan 2026, Saham Melonjak 11%: Sinyal Pemulihan atau Efek Akuisisi?
Baca dalam 60 detik
- Adyen merevisi target pertumbuhan pendapatan bersih 2026 menjadi 21-23%, naik dari sebelumnya 20-22%, didorong akuisisi Talon.One dan Orb.
- Saham Adyen melesat 11% dan menjadi yang terbaik di indeks STOXX 600, meredakan kekhawatiran investor setelah kinerja Februari yang lemah.
- Laba inti semester pertama turun di bawah konsensus akibat biaya akuisisi, namun pendapatan bersih tumbuh 21% secara konstan, menandakan ekspansi agresif di tengah persaingan ketat.

Saham Adyen, perusahaan pemroses pembayaran asal Belanda, melonjak 11% pada Kamis (13/8) setelah perusahaan menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan untuk 2026. Langkah ini membawa angin segar bagi investor yang selama setahun terakhir menyaksikan nilai pasar perusahaan tergerus lebih dari sepertiga.
Adyen kini memperkirakan pendapatan bersih akan tumbuh antara 21% hingga 23% pada 2026, naik dari panduan sebelumnya yang berkisar 20% hingga 22%. Revisi ini dipicu oleh akuisisi Talon.One dan Orb, dua perusahaan yang menjadi deal pertama Adyen dalam 20 tahun sejarahnya. Co-CEO Pieter van der Does menyatakan bahwa akuisisi ini akan memperkuat posisi perusahaan, namun ia menegaskan tidak ada rencana untuk membeli perusahaan pembayaran lain. "Lebih baik bagi merchant untuk beralih ke Adyen secara sukarela daripada dipaksa karena perusahaan mereka diakuisisi," ujarnya.
Kenaikan proyeksi ini menjadi sinyal bahwa Adyen berhasil memanfaatkan momentum digitalisasi pembayaran pasca-pandemi. Dengan klien seperti Spotify dan Microsoft, Adyen terus berekspansi ke pasar Amerika Utara, bersaing ketat dengan PayPal dan Stripe. Keunggulan kompetitifnya terletak pada platform teknologi terintegrasi dan model penetapan harga yang menurunkan biaya transaksi seiring meningkatnya volume.
Namun, perjalanan Adyen tidak selalu mulus. Pada Februari lalu, perusahaan melaporkan volume pemrosesan yang lebih lemah dan mengeluarkan pandangan hati-hati untuk tahun berjalan, yang memicu aksi jual saham. Kini, dengan revisi naik, pasar tampak memberikan respons positif. Pada Kamis pagi, saham Adyen menjadi yang terbaik di indeks STOXX 600, indeks acuan bursa Eropa.
Meski pendapatan bersih semester pertama tumbuh 21% secara konstan menjadi โฌ1,30 miliar, sedikit di atas ekspektasi pasar, laba inti yang disesuaikan mencapai โฌ641,5 juta, di bawah konsensus Visible Alpha sebesar โฌ647,2 juta. Hal ini mencerminkan biaya tambahan dari akuisisi yang baru dilakukan. Analis menilai bahwa pengeluaran ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil seiring integrasi bisnis.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat industri pembayaran digital di tanah air juga tumbuh pesat. Perusahaan seperti GoPay, OVO, dan DANA bersaing ketat, dan strategi Adyen dalam mengakuisisi perusahaan teknologi untuk memperluas layanan bisa menjadi pelajaran. "Model Adyen yang fokus pada integrasi dan kemitraan, bukan akuisisi masif, menunjukkan bahwa pertumbuhan organik dan kolaborasi bisa lebih berkelanjutan," kata analis fintech di Jakarta.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Adyen mampu mempertahankan momentum ini di tengah persaingan global dan tekanan biaya. Dengan integrasi Talon.One dan Orb yang masih berjalan, perusahaan perlu membuktikan bahwa akuisisi tersebut benar-benar menciptakan nilai tambah bagi merchant. Jika berhasil, bukan tidak mungkin Adyen akan kembali menjadi primadona di bursa Eropa. Namun, jika integrasi gagal, kepercayaan investor bisa kembali goyah.



