Joby Aviation Akuisisi Perusahaan Pertahanan Resonant Sciences Senilai Rp8 Triliun: Strategi Ganda Pasar Militer dan Taksi Terbang
Baca dalam 60 detik
- Joby Aviation mengakuisisi Resonant Sciences senilai US$500 juta untuk memperkuat lini bisnis pertahanan, dengan pembayaran mayoritas tunai.
- Langkah ini mencerminkan pergeseran fokus produsen eVTOL ke pasar militer seiring meningkatnya anggaran pertahanan global akibat konflik Ukraina dan Timur Tengah.
- Akuisisi ini dapat menjadi sinyal bagi industri aviasi Indonesia untuk menjajaki peluang serupa dalam rantai pasok pertahanan dan teknologi penerbangan.

Joby Aviation, perusahaan rintisan taksi terbang asal Amerika Serikat, mengumumkan akuisisi terhadap Resonant Sciences, perusahaan teknologi pertahanan yang berbasis di Ohio, dengan nilai transaksi sekitar US$500 juta atau setara Rp8 triliun. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya permintaan pasar militer global, seiring memanasnya konflik di Ukraina dan Timur Tengah yang mendorong negara-negara besar memperbesar belanja pertahanan.
Kesepakatan yang dijadwalkan rampung pada paruh pertama 2027 ini akan dibiayai melalui kombinasi kas sekitar US$450 juta dan penerbitan saham biasa senilai US$50 juta. Resonant Sciences sendiri dikenal sebagai perancang dan produsen sistem radio-frekuensi serta sistem misi canggih untuk kebutuhan keamanan nasional AS. Dengan akuisisi ini, Joby berharap dapat mengintegrasikan teknologi hybrid aircraft dan otonomi dari Resonant ke dalam divisi pertahanan yang baru, sementara bisnis komersialnya tetap fokus pada pengembangan layanan taksi listrik.
Reaksi pasar terhadap pengumuman ini cukup negatif. Saham Joby yang berbasis di Santa Cruz, California, tercatat melemah 6,5 persen pada perdagangan pramarket. Para analis menilai penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap beban finansial akuisisi yang cukup besar, meskipun langkah ini dipandang strategis untuk diversifikasi pendapatan di tengah ketidakpastian regulasi dan komersialisasi eVTOL.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Joby. Sejumlah produsen pesawat lepas landas dan mendarat vertikal listrik (eVTOL) lainnya juga mulai melirik pasar militer sebagai sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan pasar sipil yang masih membutuhkan waktu untuk matang. Perang di Ukraina dan Timur Tengah telah memacu negara-negara untuk meningkatkan anggaran pertahanan, membuka peluang bagi perusahaan seperti Joby untuk memasok teknologi penerbangan canggih.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Industri aviasi dalam negeri, termasuk PT Dirgantara Indonesia, dapat mengambil inspirasi dari strategi Joby yang berani melakukan diversifikasi ke sektor pertahanan untuk memperkuat fundamental bisnis. Dengan meningkatnya kebutuhan alutsista di kawasan Asia Tenggara, peluang serupa mungkin terbuka bagi perusahaan lokal untuk menjalin kemitraan strategis dengan pemain global.
Selain itu, akuisisi ini juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi radio-frekuensi dan sistem misi yang selama ini menjadi keunggulan Resonant. Indonesia, yang tengah berupaya meningkatkan kemandirian industri pertahanan, dapat mempertimbangkan investasi serupa atau kolaborasi riset untuk mempercepat transfer teknologi.
Ke depan, keberhasilan Joby dalam mengintegrasikan Resonant akan menjadi ujian apakah strategi ganda—menggarap pasar militer dan komersial secara bersamaan—dapat menjadi model bisnis yang berkelanjutan bagi industri eVTOL. Jika berhasil, bukan tidak mungkin perusahaan lain akan mengikuti jejak serupa, mengubah lanskap persaingan di sektor transportasi udara perkotaan dan pertahanan.



