Kerugian Trump Media Melebar ke Rp3,7 Triliun: Aset Kripto dan Ambisi Bisnis Data
Baca dalam 60 detik
- Trump Media mencatat kerugian kuartal II sebesar 238,1 juta dolar AS, meroket dari 20 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu, terutama karena anjloknya nilai aset kripto.
- Perusahaan pemilik Truth Social ini mulai meraup pendapatan dari Truth API, layanan data berlangganan yang ditargetkan untuk institusi keuangan, dengan tarif hingga 100 ribu dolar AS per bulan.
- Langkah ekspansi ke bisnis data dan rencana merger dengan pengembang fusi energi menandai upaya diversifikasi di tengah tekanan finansial yang masih membayangi.

Trump Media & Technology Group, perusahaan di balik platform Truth Social milik Presiden AS Donald Trump, mencatatkan kerugian bersih kuartal kedua yang melebar tajam menjadi 238,1 juta dolar AS, atau sekitar Rp3,7 triliun, dari sebelumnya hanya 20 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Pembengkakan rugi ini terutama dipicu oleh penurunan nilai aset kripto yang mereka miliki, seiring gejolak pasar digital sepanjang April hingga Juni.
Laporan keuangan yang dirilis awal pekan ini mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan justru meningkat dua kali lipat menjadi 1,7 juta dolar AS dibandingkan 0,9 juta dolar AS pada kuartal kedua 2023. Namun, lonjakan pendapatan itu tak sebanding dengan kerugian besar yang harus ditanggung akibat anjloknya harga aset digital. Para analis menilai kondisi ini mencerminkan betapa rentannya perusahaan yang masih mengandalkan basis pengguna niche terhadap fluktuasi pasar kripto yang volatil.
Di tengah tekanan finansial, Trump Media berupaya mencari sumber pendapatan baru melalui Truth API, sebuah layanan lisensi data yang memberikan akses cepat ke unggahan akun-akun berpengaruh di Truth Social, termasuk akun Donald Trump yang kerap memengaruhi pasar global. Perusahaan dikabarkan membanderol layanan ini hingga 100 ribu dolar AS per bulan untuk institusi keuangan dan perusahaan trading. Hingga awal Agustus, lebih dari sepuluh kontrak pelanggan telah ditandatangani, menurut pernyataan CEO sementara Kevin McGurn.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi yang lebih luas. McGurn juga mengonfirmasi progres merger dengan TAE Technologies, pengembang energi fusi yang digadang-gadang menjadi jawaban atas kebutuhan listrik besar-besaran untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Ambisi ini menambah daftar panjang ventura keluarga Trump yang membentang dari kripto, properti, hingga layanan seluler.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana platform media sosial dapat bertransformasi menjadi penyedia data finansial. Jika Truth API berhasil, hal ini bisa menjadi preseden bagi platform lain, termasuk di Indonesia, untuk memonetisasi data pengaruh digital. Namun, ketergantungan pada satu tokoh politik—Donald Trump—menjadi risiko besar, terutama jika pengaruh atau status politiknya berubah.
Para pengamat pasar memperingatkan bahwa meskipun pendapatan mulai mengalir, skala kerugian yang masih membengkak menunjukkan fundamental bisnis yang belum stabil. Pertanyaan besarnya: mampukah Trump Media menyeimbangkan portofolio bisnisnya yang ambisius dengan realitas keuangan yang masih timpang? Atau justru ekspansi ke energi fusi dan data ini akan menjadi penyelamat jangka panjang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi langkah perusahaan ini jelas menjadi ujian bagi model bisnis yang mengandalkan pengaruh politik.



