Anthropic Siap Belanja Rp8.400 Triliun untuk Infrastruktur AI, Pasar Kripto Tetap Tenang
Baca dalam 60 detik
- Anthropic mengungkap rencana belanja infrastruktur AI senilai $518 miliar dalam prospektus IPO yang dilihat Reuters.
- Perusahaan mencatat kerugian operasional lebih dari $8 miliar pada 2025 meski pendapatan melonjak 12 kali lipat menjadi $4,6 miliar.
- Kontrak berjangka perpetual pra-IPO Anthropic di 12 bursa kripto hanya turun 2% dalam 24 jam, mencerminkan valuasi sekitar $2 triliun.

Anthropic berencana menggelontorkan dana segar sebesar $518 miliar untuk infrastruktur komputasi awan dan pusat data dalam beberapa tahun mendatang, menurut prospektus penawaran umum perdana (IPO) yang diperoleh Reuters. Angka ini mencuat di tengah persiapan pencatatan saham perusahaan kecerdasan buatan asal Amerika Serikat itu yang diperkirakan menembus valuasi lebih dari $2 triliun.
Langkah tersebut bukan tanpa risiko. Sepanjang 2025, Anthropic membukukan rugi bersih $42 miliar, meski sekitar $34 miliar di antaranya merupakan beban akuntansi dari instrumen pembiayaan yang berpotensi dikonversi menjadi saham, bukan kas yang habis untuk operasional. Secara operasional, perusahaan masih merugi lebih dari $8 miliar. Di sisi lain, pendapatan melesat 12 kali lipat menjadi hampir $4,6 miliar, tetapi hampir seperempatnya berasal dari hanya dua pelanggan, dan perusahaan memperingatkan bahwa banyak klien besar tidak terikat kontrak jangka panjang.
Pasar derivatif kripto tampaknya belum terprovokasi oleh rencana belanja raksasa itu. Kontrak berjangka perpetual pra-IPO Anthropic di 12 bursa, termasuk Binance dan Hyperliquid, diperdagangkan pada level $1.998 per Selasa, turun sekitar 2% dalam 24 jam. Harga tersebut masih sekitar 10% di bawah rekor $2.211 yang tercatat pada 9 September. Berdasarkan penetapan harga Binance, level itu menyiratkan valuasi perusahaan sekitar $2 triliun, sejalan dengan estimasi Reuters. Total nilai kontrak terbuka (open interest) di seluruh bursa mencapai lebih dari $100 juta, dengan Binance menguasai lebih dari 30% aktivitas. Di bursa terdesentralisasi Hyperliquid, pasar Anthropic yang dikelola Entropy mencatat open interest $36 juta.
Meski demikian, instrumen ini tidak memberikan hak kepemilikan saham apa pun. Kontrak tersebut adalah derivatif sintetis yang diselesaikan secara tunai dan hanya melacak valuasi implisit perusahaan, bukan daftar pemegang saham. Pasar pre-IPO perps untuk Anthropic juga jauh lebih kecil dan kurang likuid dibandingkan kontrak serupa untuk bitcoin, ether, dan mata uang kripto utama lain, yang nilai kontrak terbukanya rutin menembus miliaran dolar.
"Prospektus ini menggambarkan taruhan bahwa AI akan mengubah ekonomi global melebihi dampak industrialisasi, listrik, dan internet," demikian bunyi dokumen tersebut, seperti dikutip Reuters.
Bagi Indonesia, rencana ekspansi Anthropic dapat memperkuat narasi bahwa adopsi AI di kawasan Asia Pasifik akan semakin bergantung pada ketersediaan infrastruktur komputasi dan regulasi data. Jika perusahaan-perusahaan AI global menyerap kapasitas pusat data dalam jumlah besar, negara-negara berkembang termasuk Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan biaya sewa server dan keterbatasan pasokan chip canggih. Di sisi lain, lonjakan belanja infrastruktur ini bisa membuka peluang kemitraan dengan penyedia cloud lokal dan mempercepat transfer keterampilan bagi talenta digital dalam negeri.
Pertanyaannya, apakah pasar akan tetap acuh terhadap besarnya belanja modal Anthropic begitu perusahaan resmi melantai? Jika valuasi $2 triliun di pasar derivatif bertahan, tekanan untuk membuktikan model bisnis yang berkelanjutan akan semakin besar, terutama ketika ketergantungan pada segelintir pelanggan masih menjadi titik lemah yang diakui sendiri oleh perusahaan.



